Mudah dan Murah, Ini Cara Mengobati Gondok dengan Garam Beryodium

Manfaat yodium dalam garam untuk mengobati penyakit gondok
Gunakan garam beryodium dalam masakan sebagai cara mengobati gondok

Pernahkah Anda mengalami gondok atau ada orang dekat Anda yang pernah merasakan pembesaran kelenjar tiroid ini? Ciri-ciri utamanya adalah terjadi pembengkakan di leher. Ukurannya bervariasi. Kali ini, kita akan mengulas cara mengobati gondok dengan garam.

Gondok bisa terjadi pada orang di segala usia. Kondisi gangguan medis ini hanya berlangsung sementara dan sesungguhnya bisa sembuh dengan sendirinya. Tanpa perlu pengobatan medis.

Ada banyak alternatif untuk menyembuhkannya. Salah satunya, dengan cara mengobati gondok dengan garam.

[[artikel-terkait]]

Cara mengobati gondok dengan garam

Garam beryodium disebut sebagai salah satu cara ampuh mengatasi gondok. Tentu bukan tanpa alasan. Bahkan sejak tahun 1924 yodium dimasukkan dalam garam untuk menekan kasus terjadinya gondok.

Meski demikian, faktanya 74% orang dewasa sehat belum mengonsumsi cukup yodium. Bahkan di negara berkembang, kekurangan yodium kian marak terjadi. Prevalensinya mencapai empat kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada tahun 2008 lalu, jurnal di Environmental Science & Technology menganalisis 88 sampel garam beryodium dan menemukan fakta mengejutkan: lebih dari separuh sampel garam tidak mengandung yodium yang cukup.

Padahal, setiap individu sebenarnya hanya memerlukan 150 mikrogram yodium setiap harinya. Tidak banyak. Ukuran ini bahkan kurang dari setengah sendok teh garam beryodium.

Itu sebabnya, Anda harus tahu betul jenis garam beryodium yang dikonsumsi. Pastikan untuk mengonsumsinya setidaknya dua kali sepekan. 

Gunakan garam beryodium dalam olahan masakan, terutama bagi ibu hamil dan menyusui. Jangan takut dengan risiko tekanan darah tinggi. Apabila garam beryodium yang Anda konsumsi berkualitas baik, justru dampaknya positif bagi tubuh.

Selain garam, Anda bisa mendapatkan yodium dari rumput laut, makanan laut, udang, atau makanan laut lainnya. Meski demikian, tetaplah bijak mengonsumsinya. Jangan berlebihan karena dapat mengulangi siklus terjadinya gondok.

Bagaimana gondok terjadi?

Gondok muncul akibat dua kondisi. Pertama, kelenjar tiroid tidak dapat memproduksi hormon tiroid yang cukup. Kedua, gondok juga dapat terjadi ketika ada kelebihan hormon tiroid.

Menurut American Thyroid Association, istilah gondok atau goiter merujuk pada pembesaran kelenjar tiroid yang tidak wajar. Kelenjar ini terletak di leher sedikit di bawah tempat jakun pada pria.

Kelenjar ini sangat penting dan menghasilkan dua jenis hormon yaitu triiodothyronine dan thyroxine yang mengatur sirkulasi darah serta metabolisme tubuh. 

Penyebab paling utama dari munculnya gondok adalah kurangnya asupan garam beryodium. 

Apa gejalanya?

Dokter bisa dengan mudah mengenali gejala gondok dengan meraba bagian leher. Selain itu, cara lain untuk mendeteksinya adalah dengan tes hormon, USG, scan tiroid, hingga biopsi.

Namun secara kasat mata, ada beberapa gejala gondok yang bisa dirasakan seperti:

  • Pembesaran kelenjar tiroid sehingga bagian bawah leher mengalami pembengkakan
  • Tenggorokan terasa menyempit
  • Sulit menelan
  • Batuk
  • Gangguan pernapasan
  • Suara serak
  • Jika cukup besar, penderitanya bisa merasa sulit bernapas ketika berbaring

Selain gejala yang perlu dikenali, faktor risiko juga tak kalah penting. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa melakukan antisipasi dengan lebih baik.

Berikut ini faktor risiko yang perlu diperhatikan:

  • Kurang asupan yodium
  • Perempuan 
  • Usia di atas 40 tahun
  • Riwayat kesehatan seperti keturunan keluarga atau penyakit kekebalan tubuh
  • Kehamilan
  • Menopause
  • Paparan radiasi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/goiter/diagnosis-treatment/drc-20351834
Diakses pada 30 Mei 2019

Dr. Axe. https://draxe.com/goiter/
Diakses pada 30 Mei 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18351111
Diakses pada 30 Mei 2019

American Thyroid Association. https://www.thyroid.org/goiter/
Diakses pada 30 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed