7 Mitos Populer Penyakit Parkinson Beserta Faktanya


Banyak mitos seputar Parkinson, seperti menyebut penanganan hanya efektif selama beberapa tahun saja. Faktanya, obat seperti levodopa bisa efektif bekerja hingga beberapa dekade sekalipun.

0,0
27 Jun 2021|Azelia Trifiana
Ketahui fakta di balik mitos penyakit parkinsonKetahui fakta di balik mitos penyakit parkinson
Penyakit Parkinson terjadi ketika sel-sel produsen dopamin di otak yaitu substantia nigra mengalami penurunan fungsi. Gejala yang muncul biasanya dimulai dengan tremor ringan di salah satu tangan atau gerakan menjadi kaku.Banyak mitos seputar Parkinson, seperti menyebut penanganan hanya efektif selama beberapa tahun saja. Faktanya, obat seperti levodopa bisa efektif bekerja hingga beberapa dekade sekalipun.

Mitos seputar Parkinson

Sekarang, saatnya meluruskan apa saja mitos seputar Parkinson. Berikut beberapa di antaranya:

1. Mitos: Hanya berdampak pada kemampuan gerak

Memang benar gejala paling kentara dari penyakit Parkinson adalah gangguan motorik atau gerakan. Namun, penderita penyakit saraf ini juga bisa mengalami gejala non-motorik bahkan sebelum gejala motorik muncul.Contoh gejala non-motorik seperti demensia, depresi, cemas berlebih, gangguan tidur, disfungsi seksual, rasa nyeri, serta inkontinensia tinja. Adanya gejala semacam ini tak kalah penting karena berdampak pada seberapa parah penyakit hingga kualitas hidup penderitanya.

2. Mitos: Penanganan hanya efektif beberapa tahun

Belum ada satu penanganan khusus untuk penyakit Parkinson. Salah satu obat yang populer adalah levodopa. Cara kerja obat ini adalah dengan memberi stimulasi agar tubuh mengubahnya menjadi dopamin ketika masuk ke otak.Banyak mitos yang menganggap levodopa hanya akan meredakan gejala selama 5 tahun, kemudian berhenti bekerja. Ini salah. Obat semacam ini bisa efektif hingga beberapa dekade sekalipun. Hanya saja, efektivitasnya memang bisa menurun ketika penyakit jadi kian parah dan suplai enzim berkurang.Bahkan dulu, dokter dan pasien Parkinson menunda penanganan karena khawatir levodopa akan berhenti bekerja dalam beberapa tahun ke depan. Namun, kini mitos ini sudah berhasil dijelaskan. Sebagai contoh dalam jurnal Movement Disorders, Honig dkk menjelaskan bahwa pasien yang menggunakan levodopa mengalami peningkatan kualitas hidup yang signifikan.

3. Mitos: Obat membuat gejala memburuk

Miskonsepsi lain seputar levodopa adalah anggapan bisa membuat gejala memburuk. Ada mitos bahwa obat ini memicu gejala lain seperti dyskinesia yaitu gerakan tidak terkendali. Padahal, munculnya gejala ini lebih bergantung pada seberapa parah kondisi penyakit.Para pakar dan dokter tetap menekankan bahwa konsumsi obat levodopa tetap jauh lebih bermanfaat ketimbang risiko menimbulkan dyskinesia. Bahkan, digarisbawahi pula bahwa gejala gerakan tak terkendali ini tidak akan muncul bahkan setelah pasien mengonsumsi levodopa selama 4-10 tahun.

4. Mitos: Pasti mengalami tremor

Penyakit Parkinson tentu identik dengan tremor. Namun, ada sekitar 20% individu yang tidak mengalami tremor sama sekali. Fakta ini tercatat dalam ulasan dari Maryland Parkinson's Disease and Movement Disorders Center pada tahun 2008 lalu.Memperkuat fakta ini, dokter meyakini bahwa seberapa parah tremor bergantung pada bagian otak mana yang terdampak. Pasien dengan tremor signifikan mengalami masalah di area retrorubral. Kadar neuron dopamin di bagian ini lebih banyak berkurang.

5. Mitos: Bisa kambuh tiba-tiba

Berbeda dengan penyakit seperti eksim atau multiple sclerosis yang bisa kambuh tiba-tiba, Parkinson tidak bekerja dengan cara demikian. Gejala-gejalanya berkembang secara perlahan namun pasti.Apabila gejala pasien tiba-tiba memburuk, besar kemungkinan ada faktor lain. Pemicu yang paling sering adalah infeksi, terjadi pada 1 dari tiap pasien yang kondisinya memburuk. Hasil ini tercatat dalam studi pada tahun 2015 lalu.Selain infeksi, faktor lain pemicu memburuknya kondisi adalah kecemasan berlebih, salah konsumsi obat, kurang patuh konsumsi obat, efek samping obat, dan penurunan kondisi kesehatan setelah operasi.

6. Mitos: Hanya bergantung pada obat

Mitos penyakit Parkinson yang satu ini termasuk paling banyak tersebar. Banyak yang mengamini bahwa obat adalah satu-satunya cara meredakan gejala Parkinson. Faktanya, aktif bergerak dapat mengurangi gejala bahkan berpotensi menjaga penyakit agar tidak memburuk.Menurut Parkinson's Foundation, pasien yang sejak awal aktif bergerak setidaknya 2,5 jam per minggu merasakan penurunan kualitas hidup jauh lebih lambat.Bukan hanya meredakan gejala gangguan motorik, aktif bergerak juga dapat meredakan masalah tidur dan juga penurunan fungsi kognitif pasien.

7. Mitos: Parkinson adalah penyakit fatal

Miskonsepsi berikutnya kerap menyamakan Parkinson dengan kondisi fatal seperti serangan jantung. Justru, pasien bisa menjalani hidup yang lama dan berkualitas. Istilah fatal bisa disematkan karena penyakit ini meningkatkan risiko pasien terjatuh.Selain itu, risiko lain adalah pneumonia. Mengingat pasien Parkinson bisa mengalami kesulitan menelan, mereka bisa saja tanpa sengaja menelan partikel makanan ke paru-paru. Refleks batuk mereka pun lebih lemah sehingga makanan bisa tetap berada di paru-paru dan memicu infeksi.

Catatan dari SehatQ

Penelitian terus berkembang untuk mengulik detail fakta dan mitos seputar Parkinson. Ada harapan baru penanganan untuk Parkinson yang terjadi karena faktor genetik. Namun, masih perlu elaborasi lebih lanjut berkaitan dengan mutasi.Sementara menunggu hasil riset terbaru, ketujuh mitos di atas sudah bisa menjadi pencerahan terkait miskonsepsi Parkinson selama ini. Ada beberapa mitos yang begitu populer sampai sudah dianggap sebagai kebenaran.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar penanganan penyakit Parkinson, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play. 
penyakitmasalah sarafparkinson
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/medical-myths-all-about-parkinsons-disease
Diakses pada 12 Juni 2021
Parkinson’s Foundation. https://www.parkinson.org/Understanding-Parkinsons/Treatment/Exercise
Diakses pada 12 Juni 2021
Neurologist. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3626090/
Diakses pada 12 Juni 2021
JAMA Neurology. https://jamanetwork.com/journals/jamaneurology/fullarticle/795681
Diakses pada 12 Juni 2021
Movement Disorders. https://movementdisorders.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/mds.22596?casa_token=tZu7CZmytlcAAAAA%3AD9pvoSJ9lKfLUs3co-2q7Pz_V66Xg_JV2bB8tq48vJoFnzRcNzaF6hPI1T-iYiWJLttMjRjfnbWBgzU    Diakses pada 13 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait