Mitos dan Fakta Bahaya Bulu Kucing yang Perlu Diluruskan

Bahaya bulu kucing sebenarnya bukan toksoplasmosis, melainkan alergi dan kutu
Bulu kucing sebenarnya tidak menyebabkan toksoplasmosis

Menjaga kebersihan hewan peliharaan sangatlah penting, termasuk memastikan bulu kucing yang Anda rawat di rumah tidak menyebar ke mana-mana. Pasalnya, terdapat bahaya bulu kucing yang mengintai Anda jika salah satu hewan yang banyak dipelihara ini tidak dirawat dengan baik.

Benarkah bahaya bulu kucing dapat menyebarkan penyakit toksoplasma?

Anda mungkin tidak asing dengan anggapan yang menghubungkan kucing dengan penyakit toksoplasmosis yang dapat menyebabkan kemandulan pada manusia, terutama wanita. Banyak orang Indonesia yang masih percaya dengan klaim ini, bahkan Anda mungkin salah satunya.

Faktanya, klaim tersebut sangat tidak berdasar hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia merasa harus mengklarifikasi informasi menyesatkan tersebur agar tidak semakin banyak masyarakat yang percaya hoaks kesehatan yang satu ini. Kominfo menyatakan bahwa kucing memang berpotensi menyebarkan tokso, tapi bukan lewat bulunya, melainkan kotorannya.

Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit protozoa Toxoplama gondii dan memang dapat menular dari hewan vertebrata seperti kucing ke manusia (zoonosis). Namun, kotoran kucing bukanlah satu-satunya sumber parasit Toxoplama gondii yang dapat mengakibatkan toksoplasmosis.

Anda juga dapat terkena penyakit ini jika sering makan sayuran mentah dan buah-buahan segar dengan proses pencucian yang kurang bersih. Kebiasaan makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, konsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa tutup, serta makan jaringan hewan seperti otak, hati, jantung, dan usus dari hewan yang terinfeksi juga bisa menyebabkan toksoplasmosis.

Bahaya bulu kucing yang sebenarnya

Meski bulu kucing terbukti tidak mengakibatkan toksplasmosis, bukan berarti Anda terbebas dari risiko penyakit tertentu ketika memelihara kucing di rumah. Berikut beberapa bahaya bulu kucing yang harus Anda waspadai demi kesehatan.

  • Menularkan kutu

Harvard Health menyatakan kucing kemungkinan besar memiliki kutu di balik bulu-bulunya yang lebat dan indah. Kutu-kutu ini bisa berpindah ke manusia, terutama ketika Anda mengizinkan hewan peliharaan tersebut tidur satu kasur dengan Anda.

Penyakit yang disebabkan oleh kutu kucing ini, yakni penyakit Lyme, ehrlichiosis, babesiosis, hingga plak pada kulit manusia. Gejala khas penyakit Lyme adalah munculnya bercak merah yang dinamakan erythema migrans, sedangkan ehrlichiosis ditandai dengan demam dan sakit kepala, serta babesiosis mirip infeksi malaria.

  • Alergi

Sebagian besar orang yang menderita alergi kucing berpikir bahwa hewan itu menjadi alergen karena bulunya, padahal bulu kucing tidak menyebabkan alergi. Sebaliknya, reaksi alergi dapat timbul ketika Anda terkena air liur kucing, air kencing, atau dander alias serpihan kulit kering di balik bulu kucing tersebut.

Kandungan protein yang terdapat dalam bagian dari kucing tersebut yang kerap memicu munculnya reaksi alergi. Sistem imun kerap menyangka mereka adalah benda berbahaya, terutama ketika menyentuh kulit atau terhirup masuk ke saluran pernapasan, sehingga sistem imun melawan mereka seperti halnya mereka memerangi virus atau bakteri.

Meski demikian, bahaya bulu kucing dan hubungannya dengan alergi memang ada. Ketika kucing Anda bermain di lingkungan tertentu, ia mungkin akan membawa serta alergen Anda pada bulu-bulunya, misalnya serbuk sari, tanah, dan lain-lain yang kemudian akan memicu munculnya reaksi alergi pada diri Anda.

Faktor inilah yang menyebabkan munculnya istilah kucing hypoallergenic, yakni kucing yang tidak rentan memicu reaksi alergi pada diri Anda. Kucing yang termasuk kategori ini adalah kucing sphinx atau peranakan lain yang memiliki bulu pendek atau bahkan tidak memiliki bulu sama sekali di tubuhnya.

Bagaimana cara mencegah bahaya bulu kucing?

Agar terhindar dari bahaya bulu kucing, Anda tentu harus menjaga kebersihan kucing, salah satunya dengan melakukan grooming. Tidak perlu yang mahal, yang terpenting adalah Anda rutin membersihkan kucing agar tidak kumal serta menyisir bulunya agar tidak kusut.

Menyisir bulu kucing bukan hanya membuat bulunya lebih halus, namun juga dapat membersihkan kulit kering yang berada di dasarnya serta menstimulasi sirkulasi darah agar lebih lancar sehingga kucing akan lebih sehat secara keseluruhan. Anda cukup menyisir bulu kucing satu atau dua kali per minggu.

Pastikan juga Anda selalu mengecek kondisi kesehatan kucing, salah satunya dapat dilihat dari kondisi bulu terluarnya. Pada kucing sehat, bulu kucing akan terlihat bersih dan tidak kusut, tidak terlihat adanya kebotakan, tidak ada benjolan pada tubuh kucing, serta tidak ada tanda-tanda kutu kucing.

Bila Anda menemukan masalah dalam merawat bulu kucing, konsultasikan dengan dokter hewan. Masalah ini dapat berupa bulu kucing yang sering rontok, kucing sering memuntahkan bulunya, maupun ada bola bulu kucing dalam fesesnya.

Cara lain yang tak kalah penting dalam mencegah bahaya bulu kucing adalah selalu pastikan kebersihan diri Anda sendiri. Jangan lupa cuci tangan dengan sabun setelah Anda memegang kucing, membersihkan kandang, maupun kotorannya.

Kominfo RI. https://www.kominfo.go.id/content/detail/17259/hoaks-bulu-kucing-sebabkan-kemandulan/0/laporan_isu_hoaks
Diakses pada 14 Desember 2019

E-Journal Unair. https://e-journal.unair.ac.id › JKL › article › download
Diakses pada 14 Desember 2019

Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/blog/simple-steps-for-avoiding-infections-from-dogs-and-cats-201204064577
Diakses pada 14 Desember 2019

CDC. https://www.cdc.gov/lyme/index.html
Diakses pada 14 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/cat-allergies
Diakses pada 14 Desember 2019

WebMD Pets. https://pets.webmd.com/cats/cats-fur-problems-grooming
Diakses pada 14 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed