7 Miskonsepsi Seputar Keperawanan, Selaput Dara Bukan Segalanya

(0)
17 Oct 2020|Azelia Trifiana
Mitos seputar selaput dara dan keperawananSelaput dara robe bukan satu-satunya indikator keperawanan seseorang
Hingga kini, miskonsepsi terbesar yang merugikan perempuan adalah menghubungkan selaput dara dengan keperawanan. Banyak orang yang berkutat seputar cara mengetahui selaput dara sudah robek atau belum, padahal itu bukan satu-satunya indikator keperawanan seseorang.Siapapun tidak berhak mengusik keperawanan seseorang, utamanya hanya berdasarkan robek atau tidaknya selaput daranya. Keperawanan adalah konsep yang tidak bersifat biologis. Tidak ada cara medis yang dapat menguji keperawanan seseorang secara akurat.

Mematahkan miskonsepsi soal selaput dara

Beberapa miskonsepsi seputar selaput dara dan keperawanan yang perlu diluruskan di antaranya:

1. Miskonsepsi: selaput dara adalah parameter keperawanan

Anggapan bahwa selaput dara adalah bukti keperawanan seseorang sudah usang dan seharusnya tidak lagi digunakan. Selaput dara adalah jaringan sisa yang terletak di pembukaan vagina.Selaput ini tersisa dari proses pembentukan vagina pada embrio dalam kandungan. Umumnya selaput dara terlihat seperti jaringan berbentuk cincin atau sabit di tepi pembukaan vagina. Jadi, tidak ada hubungan sama sekali antara selaput dara dan keperawanan.

2. Miskonsepsi: setiap perempuan terlahir dengan selaput dara

Jika cara mengetahui selaput dara sudah robek atau belum masih dijadikan panduan oleh sebagian orang, tentu itu hanya akan menimbulkan kebingungan.Alasannya, tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara di dalam vaginanya. Anatomi vagina setiap perempuan berbeda. Terlahir tanpa adanya jaringan ini pun merupakan hal biasa.

3. Miskonsepsi: selaput dara selalu robek karena penetrasi

Miskonsepsi usang lainnya adalah anggapan bahwa perempuan seharusnya mengeluarkan darah ketika mengalami malam pertama atau penetrasi seksual untuk pertama kalinya. Darah ini kemudian diyakini muncul dari robekan selaput dara.Padahal, ada banyak hal lain yang bisa menyebabkan selaput dara robek. Mulai dari robekan secara alami karena aktivitas fisik seperti bersepeda, berkuda, senam, atau memanjakan miss V seperti masturbasi. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, selaput dara cenderung menjadi lebih tipis.Artinya, tak perlu lagi menghubungkan selaput dara dengan keperawanan seseorang. Pun sebaliknya, tak perlu melarang perempuan beraktivitas fisik hanya karena takut selaput dara robek. Harga diri seorang perempuan tak hanya dinilai dari selaput daranya saja.

4. Miskonsepsi: selaput dara punya fungsi fisiologis

Pada tubuh manusia, ada beberapa bagian yang tidak memberikan fungsi apapun. Istilah untuk bagian tubuh yang tidak memberikan fungsi fisiologis spesifik ini adalah vestigial structure. Kondisinya sama seperti wisdom teeth atau usus buntu.Dulu sempat disebut bahwa selaput dara dapat melindungi vagina dari bakteri. Namun, anggapan ini terpatahkan karena selaput dara tidak menutupi vagina seutuhnya. Jika memang selaput dara menutupi vagina seutuhnya, tentu mustahil perempuan bisa mengalami haid.

5. Miskonsepsi: robeknya selaput dara selalu terasa sakit

Miskonsepsi bahwa selaput dara yang robek akan menimbulkan rasa sakit hingga mengeluarkan darah juga dengan mudah bisa dipatahkan. Banyak orang yang tidak merasakan apapun ketika selaput dara mereka robek. Alasannya karena selaput dara menjadi semakin tipis seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

6. Miskonsepsi: penetrasi sakit karena robeknya selaput dara

Ada banyak sekali alasan mengapa penetrasi pertama kali – bahkan kedua dan seterusnya – bisa terasa sakit. Rasa sakit ini bukan hanya karena robekan selaput dara saja. Pemicunya bisa karena kurangnya lubrikan, belum berpengalaman, atau foreplay yang belum maksimal.Selaput dara bukanlah hal yang perlu dirisaukan ketika pertama kali berhubungan seksual. Jika terasa sakit pun, komunikasikan dengan pasangan. Ada banyak pula cara mengatasi miss V sakit setelah berhubungan yang tidak ada kaitannya dengan selaput dara.

7. Miskonsepsi: selaput dara dapat dilihat dengan mudah

Tidaklah penting untuk mengulik cara mengetahui selaput dara sudah robek atau belum karena selaput ini tak bisa dilihat dengan mudah. Bahkan jika menggunakan alat bantu seperti kaca dan senter sekalipun, selaput dara tidak akan terlihat seperti bagian dari anatomi vagina lainnya.Ditambah lagi, selaput dara juga tidak bisa dirasakan dengan jari. Apabila pasangan melakukan penetrasi dengan penis atau melakukan fingering, mereka juga tidak akan merasakan selaput dara.

Catatan dari SehatQ

Sangat tidak relevan ketika ada pihak yang masih menghubungkan selaput dara dengan keperawanan seseorang. Terlebih jika ada tes-tes konyol semacam tes keperawanan karena tidak ada satupun cara medis yang dapat menguji keperawanan seseorang.Penting pula diingat bahwa keperawanan bukanlah konsep biologis atau medis. Miskonsepsi seputar selaput dara sebagai parameter utama menilai perempuan sudah saatnya dihapuskan.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang miskonsepsi seputar selaput dara dan keperawanan, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan organ intimkesehatan wanitaorgan intim wanita
Self. https://www.self.com/story/the-hymen-what-people-get-wrong
Diakses pada 3 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/healthy-sex/does-it-hurt-when-your-hymen-breaks
Diakses pada 3 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326122#the-hymen
Diakses pada 3 Oktober 2020
Wexner Medical Center. https://wexnermedical.osu.edu/blog/myths-and-facts-about-hymen
Diakses pada 3 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait