Mirror syndrome adalah Penyakit Langka yang Serang Bumil dan Bayinya

Dikenal bisa mengancam kesehatan bumil dan bayinya, mirror syndrome adalah penyakit yang mesti diwaspadai.
Mirror syndrome adalah penyakit yang bisa menyerang bumil dan janin di dalam rahimnya.

Mirror syndrome adalah penyakit langka yang juga dijuluki triple edema dan Ballantyne Syndrome. Mirror syndrome terjadi saat ibu hamil (bumil) mengidap preeklamsia dan janinnya mengalami kelebihan cairan.
Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh John William Ballantyne pada tahun 1982.

Mirror syndrome adalah penyakit yang disebabkan hal ini

Tentu saja, tidak ada bumil yang ingin kehamilannya terganggu oleh penyakit apapun. Namun tenang saja, dengan mengetahui penyebab dan gejala mirror syndrome sedini mungkin, bumil jadi punya “pedoman” yang bisa dibawa ke dokter, supaya proses diagnosis dan pengobatannya maksimal.

Sebenarnya, penyebab mirror syndrome itu belum ditemukan. Meski begitu, para peneliti percaya bahwa mirror syndrome disebabkan oleh kondisi bernama fetal hydrops atau hidrops fetalis, yang ditandai oleh kebocoran cairan dari aliran darah, dan menumpuk ke dalam jaringan janin.

Hidrops fetalis sendiri dapat diakibatkan oleh banyak hal. Namun, satu hal yang paling sering menyebabkannya adalah terganggunya kemampuan janin dalam mengontrol cairan.

Beberapa hal di bawah ini dapat menyebabkan fetal hydrops:

  • Infeksi selama kehamilan
  • Sindrom genetik
  • Masalah pada jantung
  • Sindrom twin-to-twin transfusion (komplikasi kehamilan pada janin kembar identik)

Akhirnya, beberapa komplikasi ini menyebabkan bumil mengalami preeklamsia.

Gejala mirror syndrome

Ibu hamil
Kenali gejala mirror syndrome sedini mungkin

Penanganan yang tepat dan deteksi mirror syndrome sedini mungkin, sangat dibutuhkan. Itulah sebabnya, bumil diharapkan untuk bisa memahami gejala mirror syndrome, agar lebih waspada lagi dengan gejala-gejala kecil yang muncul.

Masalahnya, gejala mirror syndrome seringkali menyerupai preeklamsia. Maka dari itu, dibutuhkan tangan ahli untuk melakukan pemeriksaan dan diagnosis.

Beberapa gejala mirror syndrome yang akan muncul di antaranya:

  • Tekanan darah tinggi
  • Pembengkakan di tubuh
  • Ditemukannya protein dalam urine (dapat diketahui melalui tes urine di rumah sakit)
  • Peningkatan berat badan secara berlebihan, dalam kurun waktu singkat

Mirror syndrome dianggap sebagai penyakit yang sulit didiagnosis. Selain itu, penyakit ini bisa membahayakan kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya. Memahami gejala mirror syndrome menjadi salah satu cara untuk memaksimalkan proses diagnosis dan penanganan oleh dokter nantinya.

Bagaimana cara mendiagnosis mirror syndrome?

Tidak ada tes untuk mendiagnosis mirror syndrome secara spesifik. Namun biasanya, hasil dari tes lain bisa menunjukkan bahwa diri Anda dan bayi di dalam kandungan, mengidap mirror syndrome.

Misalnya, dengan melakukan ultrasonografi (USG), maka dokter bisa melihat kemungkinan kelebihan cairan pada janin.

Kemudian, preeklamsia pada bumil dapat didiagnosis dengan ditemukannya tekanan darah tinggi atau melihat kadar protein dalam urine.

Beberapa tes ini, bersama dengan laporan tentang gejala yang muncul, sangat berharga untuk membantu dokter mendiagnosis mirror syndrome.

Pengobatan mirror syndrome

Mirror syndrome
Mirror syndrome dapat ditangani dengan mengetahui penyebabnya

Pengobatan mirror syndrome beragam, tergantung dari kondisi medis yang menyebabkannya. Sebelum melakukan pengobatan, dokter biasanya akan mencari tahu penyebab mirror syndrome pada diri pasien.

Jika penyebabnya sudah diketahui oleh dokter, maka pengobatan mirror syndrome bisa lebih maksimal. Sehingga, gejala pada bumil dan anak yang ada di kandungannya pun bisa diredakan.

Jika kasus preeklamsia yang dialami bumil sangat serius, biasanya persalinan dini akan dilakukan. Kemudian, bayi akan menjalani perawatan di NICU, yaitu ruang perawatan intensif untuk bayi baru lahir. Di sana, para dokter akan mencoba mengeluarkan kelebihan cairan yang terjadi akibat hidrops fetalis.

Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/mirror-syndrome-4587193
Diakses pada 11 Maret 2020

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2214911219300694
Diakses pada 11 Maret 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4659014/
Diakses pada 11 Maret 2020

Artikel Terkait