Resistensi Antibiotik, Kondisi Darurat Medis Saat Bakteri Menjadi Kebal Obat

(0)
14 Aug 2019|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Resistensi antibiotik karena minum antibiotik sembaranganResistensi antibiotik bisa muncul akibat konsumsi antibiotik yang tidak sesuai aturan
Minum obat antibiotik saat sakit memang bisa membantu meredakan keluhan. Tapi, jika obat tidak diminum sesuai anjuran, akan muncul suatu kondisi yang dinamakan resistensi antibiotik. Pada kasus yang parah, resistensi antibiotik bahkan bisa menimbulkan kematian.Di Indonesia sendiri, aturan minum antibiotik belum banyak menjadi perhatian. Berdasarkan riset Kementerian Kesehatan RI pada 2013, ada sekitar 10% masyarakat yang masih menyimpan antibiotik di rumah.Masih dari hasil riset yang sama, sekitar 86% masyarakat bisa membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan, mengingat bahaya resistensi antibiotik yang bisa mengancam nyawa.

Sejarah antibiotik dan resistensi antibiotik

Era modern antibiotik dimulai dari penemuan penicillin oleh Sir Alexander Flemming di tahun 1928. Sejak saat itu, antibiotik berhasil mengubah pengobatan modern dan menyelamatkan jutaan nyawa manusia.Antibiotik pertama diberikan untuk mengobati infeksi serius di tahun 1940an. Penicillin juga terbukti berhasil mengontrol infeksi bakteri pada tentara di perang dunia kedua.Meskipun demikian, segera setelah masa itu, resistensi penicillin mulai bermunculan, sehingga di tahun 1950an, banyak pasien tidak bisa sembuh dengan penicillin.Untuk merespon masalah ini, antibiotik beta-laktam pun ditemukan, dikembangkan, dan dipasarkan. Meskipun demikian, kasus pertama methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) ditemukan dalam dekade yang sama, di Inggris pada tahun 1962 dan di Amerika di tahun 1968.Vancomycin pertama digunakan dalam praktek klinis di tahun 1972 untuk mengatasi kasus resistensi methicillin. Sayangnya, kasus resistensi vancomycin pun dilaporkan di tahun 1979 dan 1983.Dari akhir tahun 1960an hingga awal 1980an, industr farmasi sudah mengeluarkan banyak antibiotik baru untuk mengatasi masalah resistensi. Namun hasilnya, hingga sekarang, infeksi bakteri masih menjadi masalah yang sulit untuk diatasi dan masih menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.

Apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik adalah kebalnya bakteri terhadap antibiotik
Bakteri bisa berevolusi untuk bertahan dari seranan antibiotik
Resistensi antibiotik adalah kondisi saat bakteri penyebab penyakit telah kebal terhadap bahan-bahan yang terdapat pada obat antibiotik. Hal ini membuat bakteri tersebut semakin sulit dibasmi dan terus tumbuh, menyebabkan penyakit jadi semakin sulit untuk disembuhkan.Di awal tahun 1945, Sir Alexander Fleming sudah memperingati akan munculnya era penggunaan antibiotik yang berlebihan. Penggunaan yang tidak seharusnya ini sudah jelas akan memicu terjadinya evolusi resistensi.Pada bakteri, gen dapat diturunkan atau dapat diberikan melalui elemen genetik bergerak seperti plasmid. Perpindahan gen horizontal ini dapat menyebabkan antibiotik resisten pindah antar spesies bakteri berbeda. Selain itu, resistensi juga dapat muncul melalui mutasi.Aturan minum antibiotik sebenarnya cukup jelas. Pembeliannya harus melalui resep dokter dan harus dihabiskan. Pembelian melalui resep dokter, berguna untuk membatasi konsumsi antibiotik secara berlebihan. Sementara itu, instruksi harus dihabiskan berguna agar pengobatan berhasil membasmi bakteri penyebab penyakit hingga tuntas.Saat Anda tidak mengikuti kedua aturan tersebut, maka bakteri justru akan semakin kuat. Bakteri penyebab penyakit adalah mikroorganisme yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Semakin sering bakteri terpapar antibiotik, maka lama-kelamaan ia akan mempelajari cara untuk bertahan hidup dari serangan antibiotik itu sendiri.Selain itu, jika Anda tidak menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter, maka bakteri yang tersisa juga akan bertahan dan belajar untuk menghindari komponen antibiotik tersebut.Akibatnya, jika di kemudian hari Anda kembali menderita penyakit serupa dan mendapatkan obat yang sama, bakteri sudah berevolusi dan mengerti cara untuk bertahan hidup dari obat tersebut. Sehingga, Anda akan semakin sulit untuk sembuh.

Menilik lebih jauh bahaya resistensi antibiotik

Resistensi antibiotik membuat penyakit sulit untuk disembuhkan
Resistensi antibiotik bisa membuat infeksi seperti pneumonia menjadi sulit sembuh
Antibiotik hanya dibutuhkan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Sejauh ini, dunia kedokteran masih sangat membutuhkan peran antibiotik dalam menangani infeksi bakteri serius, seperti pneumonia dan sepsis.Sepsis adalah kondisi infeksi yang sudah menyebar ke dalam aliran darah yang menyebabkan peradangan di seluruh tubuh, dan membuat cara kerja organ-organ vital menjadi terganggu. Kondisi ini adalah suatu kegawatdaruratan medis dan bisa menyebabkan kematian.Bayangkan, jika seseorang sudah dalam kondisi sepsis, dan bakteri yang ada di tubuh sudah kebal terhadap obat yang tersedia. Bakteri tersebut akan terus menggerorgoti tubuh, hingga tubuh sudah tidak mampu lagi melawannya.Saat ini, sudah terdapat beberapa bakteri kebal antibiotik. Bakteri-bakteri ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Berikut ini jenis-jenis bakteri yang dimaksud.

1. Clostridium difficile (C. diff)

Saat tumbuh secara berlebihan di tubuh, bakteri ini akan menyebabkan infeksi di usus besar dan usus kecil. Infeksi bakteri ini umumnya muncul setelah seseorang dirawat dengan beberapa jenis antibiotik untuk jenis infeksi bakteri yang berbeda.Bakteri C.diff sendiri, secara alami memang kebal atau resisten terhadap banyak jenis antibiotik.

2. Vancomycin-resistant enterococcus (VRE)

Bakteri jenis ini umumnya menginfeksi aliran darah, saluran kemih, atau bekas luka operasi. Infeksi ini lebih banyak terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit.Pemberian antibiotik vancomycin sebenarnya bisa dilakukan sebagai perawatan untuk infeksi enterocci. Namun, VRE sudah resisten terhadap jenis obat ini.

3. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)

Jenis infeksi ini sudah kebal terhadap pemberian antibiotik tradisional yang biasa digunakan untuk infeksi bakteri staphilococcus. Infeksi MRSA umumnya menyerang kulit, dan paling sering terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit, serta orang yang sistem imunnya lemah.

4. Carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE)

Bakteri jenis ini sudah kebal terhadap banyak jenis antibiotik. Infeksi CRE umumnya terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit, dan menggunakan alat ventilator mekanis atau pemasangan kateter.

Cara pakai obat antibiotik yang tepat

Perhatikan aturan minum antibiotik untuk menghindari resistensi antibiotik
Perhatikan aturan minum antibiotik yang tepat untuk menghindari resistensi antibiotik
Anda perlu memperhatikan aturan minum antibiotik yang tepat, agar terhindar dari dampak resistensi antibiotik. Berikut ini langkah yang bisa Anda ikuti.

1. Hanya gunakan antibiotik untuk infeksi bakteri

Antibiotik adalah obat yang hanya efektif untuk meredakan, atau mencegah infeksi akibat bakteri. Sehingga, jika penyakit yang Anda derita disebabkan oleh virus, penggunaan antibiotik tidaklah efektif.
Beberapa kondisi umum yang disebabkan oleh virus di antaranya adalah flu, batuk, atau sakit tenggorokan.

2. Minum antibiotik sesuai anjuran dokter

Tidak mengikuti anjuran dokter saat minum antibiotik seperti mengonsumsinya terlalu berlebihan, tidak diminum secara teratur, atau tidak menghabiskan antibiotik, bisa memicu bakteri menjadi resisten.Selalu selesaikan penggunaan antibiotik hingga habis, meski Anda sudah merasa baikan. Apabila antibiotik yang diminum menimbulkan alergi, segera hubungi dokter yang meresepkannya, agar jenis antibiotik dapat diganti dengan yang lebih sesuai.

3. Pastikan jenis antibiotik tepat untuk kondisi Anda

Jangan pernah minum obat antibiotik yang diresepkan untuk orang lain. Jenis obat antibitoik sangat beragam, dan masing-masingnya diperuntukkan untuk kondisi yang berbeda. Belum tentu jenis antibiotik yang cocok untuk orang lain, cocok untuk Anda meski diagnosis penyakitnya sama.Apabila di rumah ada obat antibiotik sisa dari perawatan sebelumnya yang tidak Anda selesaikan, jangan menggunakannya kembali. Menggunakan antibiotik sisa, berarti Anda mengonsumsi antibiotik tidak dalam dosis yang diresepkan.

Ketersediaan antibiotik baru untuk mengatasi resistensi

Pengembangan antibiotik baru oleh industri farmasi tidak lagi menjadi prioritas utama mengingat adanya kesulitan ekonomi dan regulasi. Dari 18 perusahaan farmasi terbesar, 15 perusahaan sudah meninggalkan rencana ini.Perkembangan antibiotik tidak lagi dianggap sebagai investasi menguntungkan bagi industri farmasi. Mengingat antibiotik dijual dengan harga murah dan digunakan hanya untuk jangka waktu pendek serta seringkali tidak berulang.Faktor lain adalah karena antibiotik baru biasanya tidak akan segera digunakan di ranah klinis dan dijadikan sebagai pilihan terakhir jika pasien sudah tidak memberi respon terhadap antibiotik lain.Inilah yang menyebabkan kondisi bakteri kebal obat menjadi darurat medis dan harus segera dicegah.

Efek samping antibiotik

Selain masalah resistensi antibiotik, Anda juga perlu mengetahui efek samping yang mungkin saja terjadi akibat mengonsumsi antibiotik. Berikut adalah beberapa efekk samping dari penggunaan antibiotik yang perlu Anda ketahui:

1. Gangguan lambung

Beberapa antibiotik menyebabkan gangguan lambung atau efek samping gastrointestinal lainnya. Hal ini juga umumnya disertai dengan mual, muntah, kram, dan diare. Biasanya efek samping ini dirasakan setelah mengonsumsi antibiotik dengan jenis macrolide, sefalosporin, penisilin, dan fluoroquinolon.

2. Photosensitivity

Photosensitivity dapat menyebabkan kulit lebih mudah meradang, memerah, disertai demam, dan juga kejang. Jika Anda sedang mengonsumsi antibiotik dengan jenis tetrasiklin, hal ini mungkin saja terjadi pada tubuh Anda. Tak perlu khawatir umumnya efek samping ini akan mereda seiring habisnya antibiotik yang Anda konsumsi.

3. Demam

Demam adalah efek samping umum dari mengonsumsi obat, termasuk antibiotik. Umumnya, efek samping demam akan muncul setelah mengonsumi antibiotik dengan jenis. beta-laktam, sefaleksin, minocycline, dan, sulfonamid.

Catatan SehatQ

Resistensi antibiotik adalah kondisi serius yang perlu diwaspadai. Setelah mengetahui bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Anda diharapkan dapat menerapkan aturan minum antibiotik sesusai anjuran dokter. Jangan sampai, usaha Anda untuk sembuh justru menjadi bumerang di kemudian hari.
infeksi bakteriantibiotikpneumoniasepsis
Kementrian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id/article/view/18112900002/pengendalian-resistensi-antimikroba-jadi-perhatian-dunia.html
Diakses pada 11 Agustus 2019
Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/features/antibioticuse/index.html
Diakses pada 11 Agustus 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/how-do-antibiotics-work
Diakses pada 11 Agustus 2019
Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/drugresistance/about.html
Diakses pada 11 Agustus 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/infection/antibiotic-side-effects#tooth-discoloration
Diakses 2 Juni 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4378521/
Diakses 28 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait