Mikrosefali dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Tumbuh Kembang Anak

Mikrosefali menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak yang dapat memengaruhi kualitas hidupnya
Mikrosefali dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak

Pada tahun 2016 lalu, seluruh dunia digegerkan dengan menyebarnya virus zika, terutama bagi ibu hamil. Infeksi virus ini dapat menyebabkan kondisi mikrosefali saat bayi lahir. Sebelum munculnya virus zika, konsumsi obat, alkohol, dan infeksi virus lainnya, seperti rubella, cytomegalovirus, dan varicella, telah diketahui dapat menyebabkan mikrosefali.

Mirkosefali adalah kondisi ketika kepala bayi memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran normal. Kondisi ini ditakutkan bukan karena ukuran kepala yang tampak tidak proporsional, tetapi dampaknya terhadap gangguan tumbuh kembang yang bisa terjadi pada anak.

Gangguan tumbuh kembang anak dengan mikrosefali bergantung pada waktu berhentinya pertumbuhan otak. Anak dengan mikrosefali ringan umumnya tidak akan memiliki gangguan. Mereka tetap dapat tumbuh sesuai dengan tahapan tumbuh kembang berdasarkan umurnya. Sebaliknya, anak dengan mikrosefali berat bisa mengalami gangguan dalam belajar dan bergerak.

Risiko gangguan tumbuh kembang anak dengan mikrosefali

Kondisi perkembangan otak yang yang terhambat pada mikrosefali menyebabkan penderitanya rentan mengalami gangguan lumpuh otak (cerebral palsy) dan retardasi mental. Selain itu, anak dengan mikrosefali lebih berisiko untuk mengalami epilepsi, gangguan penglihatan, dan gangguan pendengaran.

1. Cerebral palsy atau lumpuh otak

Cerebral palsy atau lumpuh otak merupakan suatu gangguan perkembangan pada otak yang membuat penderitanya mengalami hambatan dalam mengontrol otot-otot tubuhnya.

Bergantung pada jenis dan tingkat keparahannya, penderita mikrosefali dengan cerebral palsy akan mengalami gangguan perkembangan secara fisik maupun kognitif (kemampuan anak untuk berpikir dan memahami hal baru).

2. Retardasi mental

Kemampuan mental atau intelegensi anak di bawah rata-rata dan kurangnya kemampuan dalam menjalankan aktivitas harian merupakan pertanda adanya retardasi mental pada anak.

Kemampuan yang dicapai anak dalam tumbuh kembang sesuai dengan tingkat keparahan retardasi mental yang dialami. Hal ini dapat diukur dengan tes intelligence quotient (tes IQ). Anak dengan nilai IQ di bawah 70 dikatakan mengalami retardasi mental.

Masalah tumbuh kembang yang perlu Anda waspadai

Pertanda masalah tumbuh kembang anak dengan mikrosefali bisa segera diketahui saat lahir ataupun ketika anak mencapai usia sekolah. Masalah yang umum dihadapi dalam tumbuh kembang anak, yaitu gangguan bicara, berkomunikasi, dan gangguan belajar. Selain itu, gangguan emosional dan sosial juga dapat terjadi dalam tumbuh kembang anak.

Anak mulai mengeluarkan suara seperti "ah" dan "oh" pada usia 6 bulan dan dapat berbicara kalimat pendek ketika memasuki usia 2 tahun. Akan tetapi, perkembangan kemampuan berbicara ini mengalami keterlambatan pada anak dengan mikrosefali. Pada kasus yang berat, anak tidak dapat berbicara hingga dewasa.

Mikrosefali umumnya menyebabkan gangguan perkembangan kemampuan motorik, seperti keterlambatan untuk dapat duduk dan berjalan. Dalam keadaan normal, anak sudah dapat duduk pada usia 9 bulan dan dapat berjalan sendiri pada usia 18 bulan.

Mengatasi gangguan tumbuh kembang anak

Kondisi mikrosefali tidak dapat disembuhkan. Tidak ada cara untuk memperbaiki ukuran kepala anak. Hal yang dapat dilakukan adalah mencegah perburukan dan mendampingi anak dalam tumbuh kembangnya. Berbagai pilihan untuk mengatasi gangguan tumbuh kembang yang terjadi bergantung pada tingkat keparahannya.

Apabila terapi dilakukan lebih awal, maka tumbuh kembang anak dapat berlangsung dengan lebih baik. Pilihan terapi yang dapat dilakukan adalah terapi wicara, fisioterapi, dan terapi okupasi. Walaupun anak tidak mengalami gangguan tumbuh kembang saat lahir, anak dengan mikrosefali perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan tumbuh kembang anak tidak mengalami keterlambatan.

CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/microcephaly.html
Diakses pada Mei 2019

Genetics Home Reference. https://ghr.nlm.nih.gov/condition/microcephaly-seizures-and-developmental-delay
Diakses pada Mei 2019

Aggarwal A, Mittal H, Patil R, Debnath S, Rai A. Clinical profile of children with developmental delay and microcephaly. J Neurosci Rural Pract. 2013;4(3):288–91.

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-microcephaly
Diakses pada Mei 2019

University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/childrens-hospital/developmental-disabilities/conditions/microcephaly.aspx
Diakses pada Mei 2019

CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html
Diakses pada Mei 2019

Betterhealth. https://www.betterhealth.vic.gov.au:443/health/conditionsandtreatments/cerebral-palsy
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed