Midazolam, Harapan Baru Pengobatan Kejang Akut Berulang

Kejang cluster atau kejang akut berulang dapat diatasi dengan semprotan hidung midazolam
Obat baru ditemukan untuk mengobati kejang cluster.

Pada 20 Mei lalu, untuk pertama kalinya setelah lebih dari 20 tahun, US Food and Drugs Administration (FDA) meresmikan midazolam dalam bentuk semprotan hidung sebagai pilihan pengobatan kejang cluster atau kejang akut yang berulang. Selama ini, pengobatan kejang cluster merupakan tantangan besar bagi dokter ataupun penderitanya.

Midazolam adalah obat golongan benzodiazepin yang merupakan obat penenang. Obat ini bekerja dengan menurunkan kerja sistem saraf pusat (saraf otak). Obat ini memiliki manfaat baru sebagai obat untuk mengatasi kejang cluster atau kejang akut berulang. Bentuk obat ini dapat digunakan dalam bentuk semprotan hidung.

Apa itu kejang cluster?

Kejang cluster merupakan kejang dengan terjadi secara berulang dalam satu serangan. Hal ini sering terjadi pada anak dengan epilepsi seperti dalam sindrom Lennox Gastaut, yaitu epilepsi berat dengan berbagai tipe epilepsi dan sulit diatasi.

Kejang cluster yang tidak teratasi dapat meningkatkan risiko cedera fisik, kerusakan neurologis, dan status epileptikus, yaitu kejang yang berlangsung dalam waktu lama dan dapat mengancam nyawa.

Manfaat semprotan hidung midazolam

Semprotan hidung midazolam dapat digunakan untuk penderita kejang akibat epilepsi pada individu berusia di atas 12 tahun. Adanya penggunaan obat ini memberikan harapan dan solusi bagi para penderita epilepsi tidak terkontrol. Selama ini, keterbatasan pilihan yang ada berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya.

Semprotan hidung midazolam didesain sebagai pengobatan sekali pakai yang dapat dibawa oleh penderitanya, dan dapat diberikan oleh siapa pun ketika terjadi kejang cluster. Sebelumnya, midazolam digunakan dalam bentuk disuntikkan untuk mengatasi penderita status epileptikus. Penggunaan obat ini hanya dapat dilakukan dalam pengawasan dokter.

Efektivitas dari semprotan hidung midazolam ini terbukti dalam penelitian yang menyertakan 292 orang penderita kejang kluster. Pada fase awal, responden mendapatkan 2 kali semprotan dalam rentang waktu 10 menit dengan dosis 5 mg tiap semprotan.

Setelah dilakukan pemeriksaan, sebanyak 201 responden yang mengalami satu serangan kejang kluster akan diberikan 1 semprotan hidung midazolam atau plasebo. Kriteria keberhasilan pengobatan ini adalah kejang yang berhenti dalam 10 menit setelah pemberian semprotan hidung atau tidak adanya kejang yang berulang selama 6 jam dari pemberian obat.

Hasilnya didapatkan bahwa semprotan hidung midazolam secara signifikan berhasil untuk mengatasi kejang yang dialami. Selain itu, dalam penelitian ini juga menemukan bahwa penderita yang memperoleh midazolam memiliki waktu bebas kejang yang lebih lama dibandingkan penderita yang hanya mendapatkan plasebo.

Efek samping dan kontraindikasi dari semprotan hidung midazolam

Penggunaan semprotan hidung midazolam memiliki efek samping yang serupa dengan penggunaan midazolam dalam bentuk lainnya. Efek yang ditimbulkan, yaitu mengantuk, sakit kepala, dan batuk akibat iritasi tenggorokan. Selain itu, penggunaan pada hidung dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan hidung berair.

Penggunaan obat baru ini tidak diperbolehkan pada penderita glaukoma sudut tertutup. Adanya konsumsi obat sedasi lainnya, seperti obat nyeri golongan opioid, dapat menyebabkan efek sedasi berat, depresi pernapasan, koma, hingga kematian.

Sebelum Anda memutuskan untuk menggunakan obat ini, sebaiknya konsultasikan dahulu pada dokter mengenai obat lainnya yang sedang Anda konsumsi.

Artikel Terkait

Banner Telemed