Meski Dianggap Normal, Ikterus Neonatorum juga Bisa Membahayakan Bayi

(0)
11 Jun 2019|Giovanni Jessica
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Ikterus neonatorum adalah kondisi bayi tampak kuning setelah lahirSebagian besar kasus bayi kuning atau ikterus neonatorum tergolong normal
Ikterus neonatorum adalah kondisi yang sering terjadi pada bayi baru lahir yang dikenal juga sebagai bayi kuning. Sebagian kasus bayi kuning ini akan menghilang dengan sendirinya dan tidak memerlukan pengobatan.Namun, jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama, kadar bilirubin yang tinggi pada ikterus dapat menyebabkan kerusakan otak. Kondisi ini disebut sebagai kernikterus.

Apa penyebab ikterus neonatorum pada bayi?

Ikterus neonatorum pada bayi disebabkan oleh pemecahan sel darah merah dalam jumlah banyak saat bayi lahir Hal ini terjadi karena jenis hemoglobin dalam sel darah merah bayi dan dewasa berbeda. Pemecahan tersebut menyebabkan peningkatan kadar bilirubin yang memberikan warna kuning.Organ hati berperan dalam mengubah bilirubin yang beredar dalam darah menjadi mudah dikeluarkan dari dalam tubuh. Oleh karena itu, adanya gangguan hati atau kondisi hati yang belum berkembang sempurna saat lahir juga berperan menyebabkan ikterus neonatorum. Ikterus neonatorum juga dapat terjadi akibat kurangnya asupan ASI ataupun akibat zat yang terkandung dalam ASI.Selain penyebab yang umum dialami, bayi dengan gangguan di bawah ini turut meningkatkan risiko terjadinya ikterus neonatorum pada bayi. Gangguan tersebut, antara lain:
  • Anemia bulan sabit atau sickle cell anemia
  • Trauma saat melahirkan hingga menyebabkan sefalhematoma (perdarahan di bawah kulit kepala)
  • Sepsis atau infeksi pada darah
  • Sumbatan pada saluran empedu atau usus
  • Defisiensi enzim tertentu
  • Inflamasi pada hati
  • Infeksi virus dan bakteri, seperti hepatitis, sifilis, dan rubella
  • Hipotiroid pada bayi
  • Hipoksia atau kadar oksigen yang rendah

Ikterus neonatarum dan ASI

Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi yang mendapat ASI eksklusif dapat mengalami ikterus. Kondisi disebabkan karena produksi ASI yang belum banyak pada hari pertama.Ini menyebabkan bayi mengalami kekurangan asupan makanan yang membuat bilirubin direk yang sudah mencapai usus tidak terikat oleh makanan dan akhirnya tidak dikeluarkan melalui anus bersama makanan. Ikterus yang berhubungan dengan pemberian ASI terdiri dari 2 jenis, yakni pertama adalah ikterus yang timbul dini (hari kedua atau ketiga) yang disebabkan oleh asupan makanan yang kurang karena produksi ASI kurang. Kedua, ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama, bersifat familial disebabkan oleh zat yang ada dalam ASI.

Bagaimana tanda terjadinya kernikterus?

Gejala yang dialami pada bayi dengan kernikterus bervariasi, bergantung pada tahapan yang dilalui. Pada tahap awal, bayi akan tampak sangat kuning bahkan oranye. Refleks pada bayi akan menghilang dan kemampuannya untuk menghisap menjadi menurun.Selain itu, dapat terjadi penurunan kesadaran sehingga bayi tampak mengantuk terus menerus dan terjadi penurunan tonus otot sehingga tampak lemas. Kondisi pada tahap awal ini jika dibiarkan akan berlanjut ke tahap berikutnya.Pada tahap selanjutnya, bayi akan menangis terus menerus dengan tangisan bernada tinggi. Selain itu, bayi akan menjadi rewel dan semakin tidak mau untuk menyusui. Perhatikan apabila punggung bayi tampak melengkung dengan leher yang menekuk ke belakang. Hal ini dapat merupakan pertanda kondisi ikterus yang dialami oleh bayi telah memasuki tahap akhir.Pada tahap akhir, selain otot yang kaku dan postur tubuh yang melengkung ke belakang, bayi dapat mengalami kejang dan tidak dapat makan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani oleh dokter, bayi bisa mengalami gagal napas dan koma yang dapat berakibat fatal.Pada bayi yang lebih besar, gejala kernikterus yang dialami bisa berupa kejang, gangguan dalam perkembangan motorik dan pergerakan, serta gangguan pendengaran dan bicara. Kemampuan sensoris pada bayi juga mengalami gangguan.[[artikel-terkait]]Kernikterus juga bisa menyebabkan bayi tidak dapat melirik ke atas. Selain itu, noda akibat kadar bilirubin yang tinggi dapat ditemukan pada gigi. Kumpulan gejala pada kernikterus disebut dengan disfungsi neurologis yang diinduksi bilirubin. Kondisi ini sebagian besar berkembang pada usia 3-4 tahun.

Kapan harus ke dokter?

Apabila Anda menemukan ikterus pada bayi disertai dengan tanda-tanda di bawah ini, sebaiknya Anda segera membawa bayi ke dokter:
  • Perubahan warna kulit kuning atau oranye yang dimulai dari bagian kepala
  • Bayi rewel
  • Bayi tidak mau tidur atau sulit untuk dibangunkan saat tidur
  • Bayi tidak mau menyusu, baik secara langsung maupun lewat botol
Untuk mengatasi ikterus pada bayi, perawatan yang dilakukan dokter akan bergantung pada usia bayi dan apakah bayi memiliki faktor risiko seperti lahir prematur. Tindakan medis yang mungkin dilakukan dokter untuk mengatasi kondisi ini termasuk terapi cahaya (fototerapi) dan transfusi tukar, yakni tindakan mengeluarkan darah anak dan menggantinya dengan darah atau plasma donor.

Apakah ikterus neonatorum pada bayi bisa dicegah?

Mendeteksi dan penanganan dini penyakit bayi kuning dapat mencegah keadaan menjadi semakin buruk. Mendeteksi bayi kuning bisa dilakukan sejak pertama bayi baru lahir. Pemeriksaan awal untuk kadar bilirubin ini penting untuk bayi prematur maupun bayi cukup bulan. Deteksi awal akan membantu mencegah kondisi kernikterus pada bayi. Meskipun obat-obatan biasanya tidak akan diberikan pada bayi dengan ikterus neonatal fisiologis, dalam beberapa kasus, obat fenobarbital akan digunakan untuk mengurangi kadar bilirubin darah yang tinggi selama minggu pertama kelahiran.Jika Anda ingin bertanya secara langsung dengan dokter terkait kondisi ikterus neonatorum pada bayi, Anda bisa konsultasikan langsung dengan chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
kernikterusbilirubin
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165358.php
Diakses pada Mei 2019
MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/007309.htm
Diakses pada Mei 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320701.php
Diakses pada Mei 2019
Genetic and Rare Diseases Information Center (GARD). https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/6830/kernicterus
Diakses pada Mei 2019
IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-ikterus Diakses pada 30 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait