Merasakan Euforia Tiba-tiba, Apa Sebabnya?

(0)
13 Sep 2020|Azelia Trifiana
Seseorang yang mengalami mania bisa saja pernah mengalami pengalaman traumatis di masa laluMania dapat disebabkan oleh pengalaman traumatis di masa lalu
Ketika seseorang merasakan euforia mendadak tanpa sebab yang begitu intens, itu disebut dengan kondisi psikologis “mania”. Tak hanya itu, orang yang mengalami mania juga bisa merasakan mood swing, hiperaktif, hingga delusi. Umumnya, mania ini merupakan gejala umum kepribadian ganda.Salah satu ciri utama kondisi psikologis mania adalah munculnya rasa euforia tiba-tiba, bahkan tanpa sebab. Ini bisa berbahaya karena seseorang bisa saja berperilaku yang berisiko dan mengancam keselamatan dirinya sendiri.

Euforia dan mania

Dalam dunia psikologi, euforia adalah perasaan bahagia atau damai yang lebih dari biasa dirasakan sehari-hari. Tak jarang euforia dapat mengakibatkan seseorang tampak lebih sejahtera atau meledak-ledak.Sesungguhnya euforia adalah suatu perasaan yang normal. Contohnya seseorang merasakan bahagia yang intens karena berhasil lulus kuliah dengan nilai baik setelah berjuang sungguh-sungguh atau ketika tim kesayangannya menjadi juara.Tetapi ketika euforia terjadi dalam derajat luar biasa (mania), pikiran seseorang seakan terlepas dari realita sehingga mendorongnya melakukan hal-hal berbahaya atau ceroboh.

Gejala lain mania

Selain euforia luar biasa, kondisi psikologis mania juga akan memunculkan beberapa gejala lain seperti:
  • Merasa sangat berenergi
  • Merasa bisa melakukan apapun
  • Sulit untuk tidur
  • Merasa dunia berputar lebih cepat
  • Berbicara dengan cepat, topik berganti-ganti
  • Merasa meledak-ledak
  • Melakukan tindakan berisiko seperti mengebut saat menyetir, menghabiskan uang, mengonsumsi alkohol berlebih dan lainnya
  • Merasa lebih penting dari orang lain
  • Merasa memiliki koneksi dengan orang-orang penting
  • Mudah marah ketika orang lain mempertanyakan perilakunya
  • Halusinasi dan delusi
Seseorang yang berada dalam kondisi psikologis ini bisa saja tak menyadari bahwa perilaku mereka tidak biasa. Namun, orang sekitar akan melihat perubahan yang sangat signifikan. Ada yang menganggap orang tersebut menjadi lebih ramah seperti social butterfly, ada juga yang melihatnya berperilaku aneh.Bagaimanapun gejala yang muncul ketika seseorang mengalami fase mania, harus ada orang yang mendampingi. Ini penting karena sangat mungkin mereka melakukan hal berisiko, bahkan mengancam keselamatan nyawanya sendiri.

Penyebab kondisi psikologis mania

Salah satu faktor yang berperan menyebabkan mania adalah keturunan. Seseorang dengan orangtua atau saudara kandung dengan kondisi serupa punya kecenderungan mengalami hal serupa.Selain itu, ada juga orang yang rentan mengalami kondisi psikologis mania karena masalah medis yang dideritanya. Umumnya, ini berkaitan dengan jenis-jenis gangguan psikologis seperti kepribadian ganda. Ketika ada hal yang memicu, maka orang yang bersangkutan dapat mengalami fase mania.Penyakit fisik seperti hipotiroidisme juga bisa menyebabkan seseorang mengalami episode mania. Namun hal ini termasuk jarang terjadi.Lebih jauh lagi, perubahan lingkungan yang signifikan juga dapat memicu terjadinya mania. Kejadian yang memicu stres seperti kehilangan orang terdekat, kesulitan finansial, hubungan buruk dengan pasangan, hingga divonis menderita sakit tertentu juga bisa berkontribusi terhadap terjadinya mania.

Cara diagnosis mania

Jika dilihat lewat pemindaian aktivitas otak, terlihat bahwa pasien dengan mania memiliki aktivitas dan struktur otak sedikit berbeda. Untuk mengevaluasi pasien dengan mania, pakar medis akan memberikan beberapa pertanyaan serta diskusi terkait gejala yang dialami.Untuk bisa disebut episode mania, harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  • Terjadi selama satu minggu
  • Bisa terjadi kurang dari satu minggu apabila pasien sedang dirawat di rumah sakit
  • Fokusnya mudah teralihkan
  • Melakukan perilaku impulsif dan berisiko
  • Pikirannya terus berubah-ubah dengan cepat
  • Tidak lagi merasa mengantuk atau ingin tidur
  • Pikirannya sangat obsesif
Banyak pasien yang mengalami episode mania harus dirawat di rumah sakit untuk membantu menetralkan mood serta mencegahnya menyakiti diri sendiri. Selain itu, episode mania berkepanjangan juga dapat merusak produktivitas seseorang, juga hubungannya dengan orang lain.Beberapa langkah penanganan pasien dengan mania, di antaranya:
  • Pemberian obat

Langkah pertama untuk menangani pasien dengan mania adalah memberikan obat. Cara kerjanya adalah agar mood pasien lebih seimbang dan menurunkan risiko melukai diri sendiri.Jenis obatnya beragam mulai dari obat-obatan antipsikotik, antikonvulsan, Benzodiazepines, dan Lithium.
  • Terapi psikologis

Sesi terapi psikologis dapat membantu pasien mengidentifikasi apa pemicu terjadinya mania. Selain itu, dalam sesi terapi pasien akan dibantu mengelola stres berlebihan yang dirasakannya. Bergabung dalam terapi kelompok juga dapat menjadi opsi.Apabila mania atau euforia berlebihan merupakan bagian dari kepribadian ganda atau masalah psikologis lain, kemungkinan berulangnya sangat besar. Jika ini yang terjadi, perlu penanganan jangka panjang untuk mencegah hal yang tak diinginkan ketika episode mania muncul.
penyakitgangguan mentalkesehatan mental
Healthline. https://www.healthline.com/health/mania#1
Diakses pada 29 Agustus 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312143#diagnosis
Diakses pada 29 Agustus 2020
American Psychological Association. https://dictionary.apa.org/euphoria
Diakses pada 29 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait