Merasa Diri Sendiri Paling Benar? Hati-Hati Terjebak Bias Kognitif


Bias kognitif atau cognitive bias adalah kesalahan sistematik pola pikir yang terjadi ketika seseorang sedang memproses dan menginterpretasi informasi. Konsekuensi dari kognitif bias adalah terpengaruhnya keputusan dan penilaian

0,0
08 Oct 2021|Azelia Trifiana
Bias kognitifBias kognitif
Bias kognitif atau cognitive bias adalah kesalahan sistematik pola pikir yang terjadi ketika seseorang sedang memproses dan menginterpretasi informasi. Konsekuensi dari kognitif bias ini adalah keputusan dan penilaian akan sangat terpengaruh.Kerap kali, bias ini terjadi karena upaya otak dalam menyederhanakan proses penyerapan informasi. Terlebih, otak dengan cara kerjanya yang menakjubkan memang punya keterbatasan.

Sejarah bias kognitif

Konsep bias kognitif pertama kali diperkenalkan oleh peneliti bernama Amos Tversky dan Daniel Kahneman pada tahun 1972. Sejak saat itu, telah muncul beberapa jenis kognitif bias yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.Cakupannya luas, mulai dari perilaku sosial, aspek kognitif, ekonomi perilaku, pendidikan, manajemen, layanan kesehatan, bisnis, dan juga finansial. Artinya, sangat luas sekali kemungkinan terjadinya bias kognitif ketika seseorang memproses informasi dari dunia di sekitarnya.Namun, berbeda dengan logical fallacy. Jika bias kognitif berakar dari proses mengolah informasi yang salah, logical fallacy berasal dari kesalahan dalam argumen logis.Selain itu, bias kognitif biasanya berakar dari masalah rentang fokus, daya ingat, atribusi, dan kesalahan lain yang berkaitan dengan mental.

Tanda-tanda bias kognitif

Sebenarnya, setiap orang pasti pernah melakukan bias kognitif. Beberapa tanda ketika Anda terpengaruh bias kognitif adalah:
  • Hanya memerhatikan berita atau informasi yang sejalan dengan opini diri sendiri
  • Menyalahkan faktor eksternal ketika situasi tidak berjalan sesuai ekspektasi
  • Menghubungkan kesuksesan orang lain sekadar keberuntungan
  • Mengapresiasi berlebihan pencapaian diri sendiri
  • Berasumsi orang lain memiliki opini atau keyakinan sama seperti diri sendiri
  • Hanya belajar sedikit tentang suatu topik dan berasumsi sudah paham segalanya
Tanda-tanda di atas terasa familiar? Wajar, sebab banyak orang yang memang mengalami bias kognitif. Hal ini lebih rentan terdeteksi ketika orang lain melakukannya, ketimbang menyadari bahwa diri sendiri berada di posisi tersebut.Lebih jauh lagi, manusia cenderung mengambil keputusan dan penilaian tentang dunia sekitarnya seakan-akan sudah objektif dan logis. Kerap kali, seseorang merasa sudah mempertimbangkan dan mengevaluasi seluruh informasi terkait dengan hal itu.Sayangnya, bias kognitif justru bisa menjatuhkan karena menghasilkan keputusan buruk dan penilaian salah.

Jenis bias kognitif

Beberapa jenis bias kognitif yang dapat mengganggu pemikiran dan penilaian seseorang di antaranya:
  • Actor-observer

Tendensi ini terjadi ketika seseorang menghubungkan tindakan dirinya terhadap faktor eksternal. Di sisi lain, ia juga menghubungkan perilaku orang lain terhadap faktor internal.Contohnya, menyalahkan kondisi GERD diri sendiri karena faktor genetik. Sementara ketika orang lain menderita penyakit yang sama, dikaitkan dengan pola makan mereka yang berantakan.
  • Anchoring

Tendensi untuk terlalu percaya pada potongan informasi yang pernah dipelajari. Bahkan, ini dapat membuat mereka menutup diri pada informasi tambahan. Sayangnya, bias ini juga sangat berpengaruh terhadap ekspektasi dan penilaian terhadap suatu hal.
  • Attentional

Kecenderungan untuk memperhatikan hanya beberapa hal saja. Di saat yang sama, secara simultan mengabaikan orang lain. Contohnya ketika akan membeli rumah, hanya mempertimbangkan faktor eksteriornya saja, tanpa melihat bagaimana kualitas bahan dan juga lokasinya.
  • Availability heuristic

Hanya menganggap informasi yang sampai ke otak dengan cepat dan mengabaikan lainnya. Artinya, tendensi ini juga melebih-lebihkan peluang hal serupa akan terjadi lagi di masa mendatang.
  • Confirmation

Hanya mengakui informasi yang sesuai dengan keyakinan selama ini. Di saat yang sama, juga tidak menganggap bukti yang tidak sejalan dengan keyakinan.
  • False consensus effect

Tendensi untuk melebih-lebihkan bahwa orang lain juga memiliki opini yang sama dengan Anda
  • Functional fixedness

Tendensi melihat objek hanya bekerja dengan cara tertentu dan menutup kemungkinan akan fungsinya yang lain. Ini bisa juga berdampak pada penilaian terhadap orang lain. Utamanya, ketika menganggap bahwa orang tertentu hanya memiliki satu kemampuan saja, padahal bisa saja lebih dari itu.
  • Halo effect

Kesan terhadap seseorang berpengaruh terhadap penilaian terhadap karakter mereka. Bias kognitif yang satu ini erat sekali kaitannya dengan penampilan fisik dan menarik tidaknya seseorang. Ketika dinilai menarik, seakan-akan kualitasnya yang lain juga baik. Begitu pula sebaliknya.
  • Misinformation effect

Tendensi untuk mengubah pemahaman akan sesuatu setelah mendengar dari orang lain. Ada intervensi terhadap memori sebelumnya. Ini dapat menyebabkan pengakuan saksi mata menjadi diragukan.
  • Optimism

Bias yang membuat seseorang merasa lebih sukses dari orang sekitarnya. Selain itu, juga merasa tidak rentan mengalami kesialan.
  • Self-serving

Kecenderungan menyalahkan faktor eksternal ketika hal buruk terjadi. Sebaliknya saat ada hal baik terjadi, akan langsung mengapresiasi diri sendiri.
  • The Dunning-Kruger effect

Terjadi ketika seseorang yakin bahwa dirinya lebih pintar dan mampu ketimbang yang terlihat. Artinya, cenderung tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak kompeten.

Penyebab bias kognitif

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bias kognitif, di antaranya:
  • Heuristic, ketika mental memproses informasi yang tercepat saja
  • Emosi
  • Motivasi pribadi
  • Keterbatasan otak memproses informasi
  • Tekanan sosial
  • Bertambahnya usia
Dampak dari bias kognitif adalah pemikiran yang kurang tepat, bahkan bisa saja terjebak meyakini teori konspirasi. Meski demikian, terkadang bias ini juga bersifat adaptif karena memungkinkan seseorang mengambil keputusan dengan cepat di saat darurat.Untuk menghindarinya, sadari bahwa bias ini sangat mungkin berpengaruh pada pola pikir Anda. Kemudian, perhitungkan apa saja faktor yang berpengaruh terhadap keputusan.Setelah terbiasa, Anda akan bisa menantang bias yang muncul dan menjadi sosok lebih kritis.Jika Anda ingin tahu lebih lanjut tentang bahaya cognitive bias, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalhidup sehatpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-a-cognitive-bias-2794963
Diakses pada 24 September 2021
Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/cognitive-bias.html
Diakses pada 24 September 2021
SAGE Journals. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0956797619861429
Diakses pada 24 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait