Menu Tunggal MPASI, Apakah Direkomendasikan oleh Dokter Anak?


Menu tunggal MPASI dianggap sebagai salah satu cara untuk menemukan makanan pemicu alergi pada bayi. Nyatanya, menu MPASI tunggal justru menimbulkan risiko mengganggu tumbuh kembangnya.

0,0
Menu tunggal MPASI tidak direkomendasikan untuk menemukan alergi makananMenu tunggal MPASI justru mengurangi kebutuhan asupan gizi bayi
Menu tunggal MPASI adalah pemberian satu jenis makanan untuk bayi selama 2 minggu berturut-turut. Misalnya, Si Kecil diberikan buah alpukat yang dilumat saja selama 14 hari. Pemberian satu jenis makanan di awal peralihan menyapih ke MPASI bertujuan untuk mendeteksi apakah si Kecil memiliki alergi makanan tertentu.Namun, apakah cara ini benar-benar baik?

Apakah menu tunggal MPASI direkomendasikan?

Menu tunggal MPASI ternyata tidak direkomendasikan karena mengurangi asupan gizi bayi
Menu tunggal MPASI ternyata tidak direkomendasikan karena mengurangi asupan gizi bayi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian MPASI bisa dimulai sejak usia bayi 6 bulanSayangnya, menu tunggal MPASI menurut WHO tidak direkomendasikan sama sekali. Sebab, bayi tidak bisa mendapatkan variasi asupan gizi yang diperlukannya jika hanya terus-terusan mengonsumsi satu jenis makanan saja. Justru, ini akan berisiko mengganggu tumbuh kembang bayi.Ada banyak zat gizi yang harus dipenuhi agar tumbuh kembang bayi bisa optimal mulai dari protein, zinc, kalsium, vitamin A, vitamin C, folat, dan lemak. Lebih jauh dikutip dari Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI dari WHO, asupan makanan bayi yang dianjurkan dalam sehari sebaiknya terdiri dari:
  • Makanan pokok lokal, seperti nasi
  • Sayur dan buah kaya vitamin A
  • Asupan hewani, contohnya ikan, telur, daging, dan unggas
  • Asupan lemak yang mudah ditemukan, seperti margarin atau santan.
Memang, beberapa sumber protein justru memicu alergi. Namun, WHO menyatakan bahwa tidak memberikan asupan protein sampai usia 2 tahun belum terbukti mencegah alergi protein.Asupan lemak pada bayi juga diperlukan untuk mempercepat penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K. Selain itu, lemak bermanfaat untuk menambah kalori makanan dan meningkatkan kualitas sensorik Si Kecil.Bahkan, sayur dan buah kaya vitamin A harus dikonsumsi setiap hari. Defisiensi vitamin A pada anak meningkatkan risiko kebutaan dan penyakit infeksi, seperti diare hingga campak.

Bagaimana cara mengetahui makanan pemicu alergi pada bayi?

Alih-alih menu tunggal MPASI, sebaiknya hanya kenalkan satu jenis makanan pemicu alergi dengan dicampur makanan lainnya selama seminggu
Alih-alih menu tunggal MPASI, sebaiknya hanya kenalkan satu jenis makanan pemicu alergi dengan dicampur makanan lainnya selama seminggu
Berdasarkan penjelasan di atas, asupan protein kerap menjadi pemicu alergi pada anak. Sebanyak 90% alergi pada bayi biasanya berasal dari asupan protein dari:
  • Susu sapi
  • Telur
  • Kacang
  • Kedelai
  • Gandum
  • Kacang-kacangan yang berasal dari pohon, seperti kenari, kacang mete, atau almond
  • Ikan
  • Seafood dengan cangkang, seperti kerang dan udang.
Bila menu tunggal MPASI tidak dianjurkan, bagaimana cara mendeteksi jenis asupan yang menimbulkan alergi pada bayi?Caranya, kenalkan salah satu jenis makanan pemicu alergi satu per satu. Sebagai contoh, Anda bisa memasukkan satu jenis protein pada asupan harian Si Kecil, seperti telur. Namun, Anda tetap tidak boleh melupakan sayur dan buah, makanan pokok, serta asupan lemak.Beri jarak selama 1-2 minggu di setiap jenisnya sehingga Anda bisa menemukan makanan alergen dengan tepat.Kalau Anda langsung memberikan 3 jenis makanan alergen sekaligus, nantinya Anda justru kebingungan menemukan asupan mana yang menimbulkan alergi.Perlu Anda ketahui, jika Anda memiliki alergi makanan tertentu, maka ada kemungkinan sebesar 50% Si Kecil akan memiliki alergi yang sama.

Bagaimana tips pemberian MPASI agar Si Kecil mau makan?

Sebaiknya, beri beragam jenis makanan alih-alih menu tunggal MPASI saat memulai makanan padat
Sebaiknya, beri beragam jenis makanan alih-alih menu tunggal MPASI saat memulai makanan padat
Pemberian menu tunggal MPASI hanya menyebabkan Si Kecil mengalami kekurangan gizi. Bahkan, hal ini diperparah bila ia susah makan atau cenderung pemilih (picky eater). Lantas, bagaimana caranya agar Si Kecil tidak pemilih dan mau makan?
  • Beri beragam jenis makanan, hindari pemberian satu jenis makanan yang sama berkali-kali, seperti pada menu tunggal MPASI. Bila bayi tidak suka, tetap coba berikan dan dan dicampur ke bahan lainnya hingga ia tidak menolaknya.
  • Jangan paksa bayi untuk makan lebih banyak daripada yang ia inginkan, mereka akan berhenti ketika merasa kenyang.
  • Pastikan kegiatan makan menjadi agenda yang menyenangkan, biarkan Si Kecil "mengacaukan" makanan hingga berantakan. Ini justru mendorongnya untuk mencoba berbagai jenis makanan lainnya dan selalu mengingat makan sebagai kegiatan yang mengasyikkan.
Selain itu, inilah strategi pemberian MPASI yang dianjurkan IDAI agar asupan nutrisi Si Kecil terpenuhi dan kesehatannya terjaga.
  • Tepat waktu, berikan MPASI ketika ASI sudah tidak memenuhi kebutuhan hariannya, bisa dimulai sekitar usia 6 bulan.
  • Buat jadwal makan, jadwali anak Anda makan per 2 jam. Misalnya jam 8 pagi anak minum ASI maka Anda dapat memberikan MPASI di pagi hari 2 jam setelahnya atau jam 10. Buat jadwal makan 3 kali sehari diselingi dengan ASI dan memberi snack. 
  • Adekuat atau mencukupi, MPASI harus memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan lemak.
  • Aman dan higienis, pastikan alat, cara, dan bahan untuk mengolah MPASI selalu terjaga keamanan dan kebersihannya.
  • Diberikan secara responsif, memberikan MPASI harus berdasarkan tanda bayi lapar atau kenyang.

Catatan dari SehatQ

Menu tunggal MPASI sebetulnya bukan cara efektif untuk menemukan makanan yang menyebabkan alergi pada bayi. Strategi ini justru membuat Si Kecil kekurangan asupan gizi yang diperlukan, seperti protein, vitamin, mineral, karbohidrat, dan lemak.Maka itu, perhatikan reaksi alergi Si Kecil dengan cara memberikan salah satu jenis makanan alergen tanpa mengurangi asupan lainnya. Kemudian beri jeda waktu seminggu untuk melanjutkan jenis asupan alergen lainnya.Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang menu MPASI tunggal, konsultasikan dengan dokter anak terdekat. Anda juga bisa chat gratis dengan dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
bayi & menyusuialergitumbuh kembang bayimpasigizi anakmerawat bayimakanan bayizat giziperkembangan bayi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana
Diakses pada 29 Juli 2021
WHO. http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/66389/WHO_NHD_00.1.pdf;jsessionid=367B2871FE159D90686D4431DBC628CB?sequence=1
Diakses pada 29 Juli 2021
WHO. https://www.who.int/nutrition/publications/guiding_principles_compfeeding_breastfed.pdf
Diakses pada 29 Juli 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320310
Diakses pada 29 Juli 2021
WHO. https://www.who.int/health-topics/micronutrients
Diakses pada 29 Juli 2021
KidsHealth. https://kidshealth.org/en/parents/food-allergies.html
Diakses pada 29 Juli 2021
Web MD. https://www.webmd.com/parenting/baby/introducing-new-foods
Diakses pada 29 Juli 2021
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/weaning
Diakses pada 29 Juli 2021
Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makanan-pendamping-air-susu-ibu-mpasi
Diakses pada 29 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait