logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Wanita

Serba-serbi Menopause Dini yang Penting Diketahui

open-summary

Menopause dini adalah menopause yang terjadi saat wanita berusia di bawah 45 tahun. Normalnya, wanita mengalami menopause saat berusia 45-55 tahun. Penyebab menopause dini antara lain faktor genetik, kelainan kromosom, tindakan medis tertentu seperti kemoterapi, penyakit autoimun, hingga mulai menstruasi lebih cepat dari yang seharusnya.


close-summary

4.2

(15)

1 Jun 2022

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum berusia 45 tahun

Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum berusia 45 tahun

Table of Content

  • Menopause dini terjadi pada umur berapa?
  • Penyebab menopause dini pada wanita
  • Ciri-ciri menopause dini pada wanita
  • Cara mengatasi menopause dini
  • Cara mencegah menopause dini
  • Dampak menopause dini

Menopause adalah fase alami yang akan dialami oleh semua wanita. Saat mengalami menopause, kadar hormon di tubuh akan berubah dan membuat proses haid berhenti sama sekali.

Advertisement

Pada beberapa perempuan, menopause terjadi lebih cepat dari yang seharusnya. Inilah yang disebut sebagai menopause dini.

Menopause dini terjadi pada umur berapa?

Menopause dini terjadi sebelum usia 45 tahun
Menopause dini terjadi sebelum usia 45 tahun

Sebagian besar perempuan mulai memasuki masa menopause pada usia antara 45 sampai 55 tahun. Tapi ada juga wanita dengan usia menopause yang lebih cepat, yakni di bawah 45 tahun.

Jika masa menopause datang sebelum usia 45 tahun, kondisi ini digolongkan dalam menopause dini. Sementara bila menstruasi berhenti di usia sebelum 40 tahun, seorang wanita dikatakan mengalami menopause prematur.

Penyebab menopause dini pada wanita

Pada banyak kasus, tidak ditemukan penyebab menopause dini secara pasti. Kondisi ini dinamakan idiopatik.

Namun para pakar memperkirakan bahwa ada beberapa hal yang dapat menjadi penyebab menopause dini. Berikut penjelasannya:

1. Faktor genetik

Jika menopause dini bukan terjadi akibat penyakit tertentu, penyebabnya kemungkinan besar adalah faktor keturunan. Biasanya, umur wanita mengalami menopause bisa diperkirakan berdasarkan usia ibu, nenek, dan saudara-saudara perempuan dari ibunya saat menopause.

Apabila ibu dan nenek kandung Anda memasuki masa menopause di usia 40an, Anda juga memiliki kemungkinan besar untuk mengalaminya di sekitar usia yang sama. 

2. Gaya hidup

Gaya hidup yang dijalani oleh seorang wanita bisa memengaruhi usia menopause. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah kebiasaan merokok.

Pasalnya, racun-racun dalam rokok maupun asapnya memiliki efek antiestrogen. Berdasarkan beberapa penelitian mengenai rokok, wanita perokok mengalami menopause lebih cepat dua tahun daripada wanita yang bukan perokok.

Faktor gaya hidup lain yang bisa berdampak pada menopouse adalah berat badan. Perempuan dengan kadar lemak tubuh rendah, lebih berisiko untuk mengalami menopause dini.

Hal tersebut terjadi karena hormon estrogen tersimpan dalam jaringan lemak. Ini berarti, perempuan yang sangat kurus atau memiliki kadar lemak tubuh rendah, punya lebih sedikit simpanan hormon estrogen.

3. Penyakit tertentu

Pada pengidap penyakit-penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh menganggap suatu organ sebagai benda asing dan menyerangnya. Jika ovarium yang kebetulan terkena dampaknya, wanita yang mengidap kondisi autoimun bisa mengalami menopause dini.

Perempuan yang menderita epilepsi juga lebih rentan mengalami menopause secara dini akibat kegagalan ovarium dalam menjalankan fungsinya. Pada kelompok perempuan dengan epilepsi yang diteliti, 14% di antaranya mengalami menopause dini.

Angka tersebut tentu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan prevalensi menopause dini pada populasi wanita secara umum, yang hanya berkisar pada 1%.

4. Tindakan medis tertentu

Tindakan medis tertentu pada perempuan di bawah usia 45 tahun akan menyebabkan menopause dini. Contohnya, kemoterapi, radioterapi dan pengangkatan ovarium atau indung telur.

Hal tersebut bisa terjadi secara langsung atau beberapa waktu kemudian. Efek samping obat-obatan tertentu juga dapat memicu menopause dini.

Perlu diingat bahwa tidak semua perempuan yang menjalani perawatan kanker pasti akan mengalami menopause dini. Risikonya pada pasien kanker bergantung pada beberapa faktor berikut:

Pada perempuan yang berusia lebih muda, tubuhnya biasa lebih kuat menghadapi perubahan akibat penanganan kanker, jadi risiko menopause dini lebih kecil

  • Jenis kemoterapi. Tidak semua jenis kemoterapi memiliki persentase kenaikan menopause dini yang sama.
  • Area tubuh yang ditargetkan pada perawatan radioterapi. Prosedur radioterapi yang ditargetkan di area otak dan pelvis berisiko lebih tinggi menyebabkan menopause dini.

5. Kelainan kromosom

Beberapa kondisi kelainan kromosom, seperti sindrom Turner, akan menyebabkan ovarium tidak berfungsi secara normal. Hal ini sering memicu terjadinya menopause dini.

Perempuan yang mengidap sindrom X rapuh juga biasanya mengalami menopause dini. Demikian pula dengan wanita yang menjadi pembawa kelainan genetik ini.

6. Mulai menstruasi lebih cepat

Masih terbuka perdebatan mengenai hubungan antara usia menstruasi pertama (menarche) dengan usia menopause.

Dewasa ini, anak perempuan umumnya memang mengalami menstruasi pertama di usia yang lebih muda dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Sementara itu, rata-rata usia menopause tetap sama, yaitu di atas usia 50 tahun.

Namun penelitian terhadap 50.000 wanita pascamenopause di Australia, Jepang, dan Skandinavia, menemukan bahwa wanita yang mengalami menstruasi pertama di bawah usia 12 tahun, memiliki kemungkinan 31% lebih tinggi untuk mengalami menopause pada usia antara 40-44 tahun.

Baca Juga: Mengenal Perimenopause, Masa Menjelang Menopause

Ciri-ciri menopause dini pada wanita

Ciri-ciri menopause dini salah satunya hot flashes
Hot flashes salah satu tanda menopause dini

Ciri-ciri menopause dini sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan tanda menopause pada umumnya. Berikut beberapa ciri menopause dini yang bisa diperhatikan:

  • Menstruasi tidak teratur
  • Haid lebih lama atau lebih cepat dari biasanya
  • Volume darah haid yang jauh lebih banyak atau sebaliknya, hanya bercak
  • Hot flashes
  • Perubahan suasana hati (mood)
  • Sulit tidur
  • Gairah seksual menurun
  • Vagina kering
  • Berkeringat di malam hari
  • Masalah pada saluran kemih

Mengalami menopause dini juga sering menimbulkan dampak emosional. Terlebih bagi mereka yang mengalami menopause prematur dan belum mempunyai anak atau masih ingin menambah keturunan. Biasanya, akan timbul kekecewaan karena tidak akan bisa hamil.

Secara umum, wanita yang mengalami menopause dini juga merasa cemas. Pasalnya, mereka merasa ‘tua sebelum waktunya’.

Cara mengatasi menopause dini

Saat perempuan sudah mengalami menopause dini, tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mengembalikan fungsi ovarium seperti semula. Namun Anda masih bisa menjalani perawatan untuk meredakan gejala menopause dini yang mengganggu.

Berikut ini beberapa cara mengatasi gejala menopause dini yang Anda coba:

1. Terapi hormon

Dalam terapi hormon, hormon estrogen diberikan dalam bentuk pil, krim, semprot, hingga koyo. Langkah ini bertujuan untuk membantu dalam meredakan gejala menopause seperti hot flashes dan vagina kering. Dokter juga mungkin memberikan terapi dalam bentuk pil KB.

2. Obat antidepresan

Obat antidepresan dari golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) telah terbukti bisa menurunkan gejala hot flashes pada perempuan yang mengalami menopause hingga 60%.

3. Lubrikan

Salah satu gejala menopause yang paling sering terjadi adalah vagina kering. Kondisi ini bisa membuat hubungan seksual menjadi kurang nyaman dilakukan, bahkan terasa nyeri.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, wanita yang sudah menopause disarankan untuk menggunakan lubrikan ataupun krim dan gel khusus, yang dapat membantu dalam melumasi area vagina.

4. Teknologi reproduksi buatan

Perempuan yang sudah mengalami menopause tidak bisa kembali subur. Tapi pada wanita yang mengalami menopause dini, namun masih ingin memiliki keturunan, ada cara lain yang bisa dilakukan.

Mereka dapat menggunakan teknologi reproduksi buatan dengan donor sel telur. Meski begitu, tidak semua perempuan bisa menjalani perawatan jenis ini.

Cara mencegah menopause dini

Cara mencegah menopause dini adalah dengan rajin olahraga
Cara mencegah menopause dini adalah dengan rajin olahraga

Sebagian kasus menopause dini sebetulnya tidak bisa dihindari. Namun ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah atau menundanya.

Berikut cara mencegah menopause dini:

  • Segera berhenti merokok
  • Berolahraga secara teratur
  • Menjaga berat badan pada angka batas yang sehat
  • Menggunakan produk perawatan kulit alami yang bebas hormon
  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang
  • Tidak mengonsumsi makanan olahan

Hal ini akan membantu Anda tetap sehat dan bugar, sehingga mencegah munculnya menopause lebih awal.

Baca Juga: Hamil Menjelang Menopause, Mungkinkah Terjadi?

Dampak menopause dini

Dampak menopause dini yang utama adalah menghilangnya kemampuan untuk hamil. Meski begitu, masih ada dampak lain yang perlu diwaspadai karena saat menopause dini terjadi, ini pertanda bahwa kadar hormon estrogen di tubuh juga akan menurun.

Dalam kondisi normal, hormon estrogen diperlukan untuk meningkatkan kadar kolesterol baik atau HDL dan menurunkan kolesterol jahat atau LDL. Hormon ini juga berfungsi membuat pembuluh darah tetap rileks dan mencegah pengenceran darah.

Saat kadar estrogen menurun akibat menopause dini, kesimbangan tubuh akan terganggu dan meningkatkan risiko berbagai penyakit. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai setelah mengalami menopause dini meliputi:

  • Penyakit jantung
  • Osteoporosis
  • Depresi
  • Demensia

Di sisi lain, menopause dini bisa menurunkan risiko penyakit. Salah satunya kanker payudara karena kemunculan penyakit ini berkaitan erat dengan keberadaan hormon estrogen.

Perempuan yang terlambat memasuki masa menopause (di atas usia 55 tahun) bahkan memiliki risiko lebih besar untuk terkena kanker payudara daripada mereka yang mulai menopause di bawah 55 tahun.

Peningkatan risiko tersebut muncul karena jaringan payudara yang lebih lama terpapar oleh hormon estrogen, akan lebih mungkin terserang kanker.

Baca Juga

  • Cara Tahu Apakah Siklus Menstruasi Normal atau Tidak
  • Apakah Polip Rahim saat Menopause Membutuhkan Operasi?
  • Cara Melancarkan Haid Setelah KB Suntik 3 Bulan

Bila mengalami tanda-tanda menopause dini, Anda sebaiknya periksakan diri ke dokter. Karena dapat berdampak pada kesehatan, dokter bisa meresepkan terapi hormon sampai Anda setidaknya berada pada usia menopause yang normal.

Anda juga mungkin perlu menjalani konsultasi dengan psikolog atau support group tertentu bila dampak emosional menopause dini terasa sangat berat.

Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai menopause dini, konsultasikan secara langsung pada dokter lewat fitur Chat Dokter yang ada di aplikasi kesehatan SehatQ. Unduh gratis di App Store dan Google Play.

Advertisement

menopausegangguan menstruasi

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved