Manfaat musik dalam perkembangan otak bayi prematur
Musik dapat memberikan manfaat bagi bayi prematur

Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 37 minggu. Sebagian bayi prematur dapat tumbuh sehat dan berkembang layaknya bayi cukup bulan. Sebagian lainnya berpotensi mengalami berbagai gangguan jangka pendek maupun jangka panjang. Gangguan yang sering terjadi biasanya berupa gangguan pernapasan, jantung, ataupun otak.

Oleh karena itu, bayi prematur seringkali membutuhkan perawatan di ruang intensif neonatal atau NICU. Namun, dalam ruangan ini banyak suara yang ditimbulkan oleh mesin-mesin bantuan medis yang mungkin menyebabkan gangguan pada proses perkembangan otak yang dialami bayi.

Salah satu cara yang dipercaya dapat meningkatkan perkembangan otak adalah dengan musik. Penelitian yang dipublikasikan oleh Proceedings of the National Academy of Science di Amerika Serikat menemukan bahwa paparan terhadap musik mampu meningkatkan struktur fungsional otak menyerupai otak pada bayi cukup bulan.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk melihat aktivitas otak bayi prematur. Pemeriksaan dilakukan pada tiga kelompok bayi, di antaranya bayi prematur yang diberikan musik, bayi prematur tanpa musik, dan bayi cukup bulan.

Penelitian ini menemukan bahwa bayi yang terpapar dengan musik di ruang perawatan intensif secara signifikan mengalami peningkatan koneksi otak, di antaranya bagian otak yang berperan dalam fungsi sensorik dan fungsi kognitif tingkat tinggi.

Pada bayi prematur yang tidak mendapat paparan musik, koneksi otak yang terbentuk lebih sedikit dibandingkan bayi cukup bulan. Koneksi otak yang mengalami penurunan, terutama pada bagian otak yang berperan penting dalam proses belajar, performa kognitif, hubungan sosial, dan manajemen emosi.

Pembentukan koneksi otak terjadi di dalam rahim pada bayi cukup bulan, sedangkan pada bayi prematur, proses ini berlangsung di ruang perawatan intensif. Dua lingkungan yang berbeda memengaruhi proses perkembangan yang terjadi.

Stimulasi berlebih pada ruang perawatan intensif, seperti suara pintu dan jam, membuat bayi sulit untuk membentuk koneksi dibandingkan kondisi dalam rahim, di mana bayi hanya perlu menyesuaikan diri dengan ritme dari ibu.

[[artikel-terkait]]

Peran musik pada bayi prematur

Musik diketahui dapat meningkatkan fungsi visual, motorik, dan auditorik pada anak dan orang dewasa. Pembentukan koneksi otak yang penting terjalin lebih banyak pada individu yang melakukan latihan musik dibandingkan yang tidak.

Sejak lama, musik dipercaya memiliki manfaat penting bagi pertumbuhan bayi. Pada bayi prematur, musik berperan dalam menstabilkan kerja jantung dan laju pernapasan, menurunkan jumlah henti napas dan bradikardia (denyut jantung lambat) setiap harinya, serta merangsang peningkatan berat badan dan pola tidur yang lebih berkualitas.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan oleh American Academy of Pediatric membuktikan hal ini.
Penelitiannya dilakukan pada 272 bayi prematur berusia 32 minggu atau lebih dengan kesulitan pernapasan, sepsis, atau kecil masa kehamilan. Bayi diberikan tiga intervensi setiap minggunya selama 2 minggu.

Perubahan psikologis dan perkembangan dinilai sebelum, saat, dan setelah dilakukan intervensi dan pada saat tidak dilakukan intervensi. Hasil yang diperoleh adalah musik secara langsung maupun lagu yang telah tersertifikasi oleh terapis musik dan dinyanyikan oleh orangtua dapat memengaruhi fungsi jantung dan pernapasan.

Ditemukan juga peningkatan perilaku menyusui dan pola menghisap pada bayi yang mendapatkan paparan musik. Tidak hanya bayi, ibu juga mengalami manfaat dari terapi musik ini. Dengan menyanyikan lagu pada anaknya, ibu akan mengalami penurunan kadar stres yang sering terjadi akibat perawatan bayi prematur yang lebih sulit.

PNAS. https://www.pnas.org/content/116/24/12103
Diakses pada Juni 2019

Scientific American. https://www.scientificamerican.com/podcast/episode/music-may-orchestrate-better-brain-connectivity-in-preterm-infants/
Diakses pada Juni 2019

ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2019/05/190528095220.htm
Diakses pada Mei 2019

Pediatrics AAP. https://pediatrics.aappublications.org/content/131/5/902
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed