Mengulik 7 Teori Perkembangan Anak


Teori perkembangan anak mengacu pada bagaimana anak berubah dan bertumbuh selama masa kecilnya. Di dalamnya terdapat beragam aspek mulai dari sosial, emosional, hingga kognitif. Menariknya, mengetahui hal-hal ini dapat memprediksi karakter anak hingga dewasa kelak.

(0)
18 Nov 2020|Azelia Trifiana
anak belajarTeori perkembangan anak dapat membantu Anda menentukan proses belajar anak
Teori perkembangan anak mengacu pada bagaimana anak berubah dan bertumbuh selama masa kecilnya. Di dalamnya terdapat beragam aspek mulai dari sosial, emosional, hingga kognitif. Menariknya, mengetahui hal-hal ini dapat memprediksi karakter anak hingga dewasa kelak.Dengan memahami perkembangan anak, maka apresiasi terhadap aspek kognitif, emosi, fisik, sosial, dan pendidikan sejak lahir hingga beranjak dewasa. Ada beragam teori terkait hal ini yang digagas oleh sosok berbeda. Tiap teori punya prinsip masing-masing.

Jenis teori perkembangan anak

Beberapa jenis teori yang mengupas lebih tuntas tentang perkembangan anak adalah:

1. Teori Sigmund Freud

Menurut teori perkembangan psikoseksual yang digagas oleh Sigmund Freud, diyakini bahwa pengalaman di masa kecil dan hasrat alam bawah sadar berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Menurut Freud, konflik yang terjadi pada tahapan-tahapan itu akan berpengaruh hingga jauh ke depan.Lebih jauh lagi, teori perkembangan anak versi Freud ini menyatakan bahwa pada setiap usia anak, titik hawa nafsu atau libido juga akan berbeda. Contohnya mulai usia 3-5 tahun, anak mengenali identitas seksualnya. Kemudian pada usia 5 tahun hingga pubertas, akan masuk tahapan laten dengan belajar seputar seksualitas.Jika anak tidak berhasil menuntaskan tahapan ini, maka bisa berpengaruh terhadap karakternya saat dewasa kelak. Selain itu, Freud juga menyebut bahwa sifat seseorang sangat ditentukan pada apa yang dialaminya sejak usia 5 tahun.

2. Teori Erik Erikson

Teori psikososial datang dari Erik Erikson dan hingga kini termasuk yang paling populer. Dalam teorinya, terdapat 8 tahapan perkembangan psikososial seseorang yang fokus pada interaksi sosial dan konflik.Jika teori Freud fokus pada aspek seksual, menurut Erikson justru interaksi sosial dan pengalaman yang menjadi penentu. Kedelapan tahapan perkembangan anak ini menjelaskan proses sejak bayi hingga meninggal dunia. Konflik yang dihadapi pada tiap tahapannya akan berpengaruh pada karakternya saat dewasa. Setiap krisis bisa menjadi titik balik perubahan sikap seseorang, atau biasa disebut dengan troubled inner child.

3. Teori behavioral

Menurut perspektif ini, seluruh perilaku manusia bisa dijelaskan merujuk pada pengaruh lingkungan. Teori ini fokus pada bagaimana interaksi lingkungan berpengaruh pada karakter seseorang. Beda utama dari teori yang lain adalah mengabaikan aspek seperti perasaan atau pikiran.Contoh penggagas teori behavioral ini adalah John B. Watson, B.F. Skinner, dan Ivan Pavlov. Mereka fokus bahwa pengalaman seseorang sepanjang hidupnya yang berperan membentuk sifat ketika dewasa kelak.

4. Teori Jean Piaget

Piaget memiliki teori kognitif terkait perkembangan anak, fokusnya pada pola pikir seseorang. Ide utama dari Piaget adalah anak berpikir dengan cara berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, proses berpikir seseorang juga dipertimbangkan sebagai aspek penting yang menentukan cara seseorang memahami dunia.Dalam teori perkembangan kognitif Piaget, tahapannya dibedakan menjadi:
  • 0 bulan-2 tahun (sensorimotor stage)
Pengetahuan anak terbatas pada persepsi sensori dan aktivitas motorik
  • 2-6 tahun (pre-operational stage)
Anak belajar menggunakan bahasa namun belum paham logika
  • 7-11 tahun (concrete operational stage)
Anak mulai paham cara berpikir logis namun belum paham konsep abstrak
  • 12 tahun-dewasa (formal operational stage)
Mampu berpikir konsep abstrak, diikuti dengan kemampuan berpikir logis, analisis deduktif, dan perencanaan sistematis

5. Teori John Bowlby

Termasuk teori perkembangan sosial yang paling awal dikemukakan, Bowlby meyakini bahwa hubungan sejak dini antara anak dengan pengasuhnya berperan penting dalam perkembangannya. Bahkan, hal ini akan terus berpengaruh pada hubungan sosial seumur hidupnya.Menurut teori Bowlby, anak terlahir dengan kebutuhan untuk mendapatkan attachment atau kasih sayang. Itulah mengapa anak ingin selalu dekat dengan pengasuhnya, kemudian dibalas dengan perlindungan dan kasih sayang.

6. Teori Albert Bandura

Psikolog Albert Bandura mengemukakan teori belajar sosial yang meyakini bahwa anak mendapatkan informasi dan skill baru dengan mengamati perilaku orang sekitarnya. Meski demikian, mengamati ini tak harus selalu secara langsung.Anak yang melihat perilaku orang lain atau tokoh fiksi di buku, film, dan lainnya juga bisa belajar aspek sosial. Observasi dan melihat contoh ini menjadi bagian penting dari teori Bandura.

7. Teori Lev Vygotsky

Vygotsky menggagas teori yang sangat berpengaruh terutama di bidang pendidikan. Menurutnya, anak belajar secara aktif lewat pengalaman yang dilakukan secara langsung. Teori sosiokultural ini juga menyebutkan bahwa orangtua, pengasuh, dan teman sebaya turut berperan penting.Teori ini menekankan bahwa belajar adalah proses yang tak bisa dipisahkan dari aspek sosial. Lewat interaksi dengan orang lain, di situlah proses belajar terjadi.Ketujuh teori perkembangan anak ini memang tidak semuanya masih dianggap relevan dengan situasi saat ini. Tak menutup kemungkinan untuk menggabungkan bergaam teori dan perspektif untuk memahami bagaimana anak tumbuh, bertindak, dan berbicara.

Catatan dari SehatQ

Tentunya, faktor lain seperti pertumbuhan fisik dan mental juga perlu diperhitungkan. Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar perkembangan anak dan tahapannya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentingibu dan anakgaya parenting
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/child-development-theories-2795068
Diakses pada 3 November 2020
Gulf Bend. https://www.gulfbend.org/poc/view_doc.php?&id=7924
Diakses pada 3 November 2020
Jstor. https://www.jstor.org/stable/20721212
Diakses pada 3 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait