Mengulas Usia yang Pantas dari Syarat Masuk SD Mendikbud

Syarat masuk SD kini harus berusia 7 tahun
Ilustrasi adik-kakak berseragam SD

Tahun 2019 lalu, Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menerbitkan peraturan yang memuat perihal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), termasuk di antaranya syarat masuk sekolah dasar (SD). Apakah Anda sudah terpikir untuk menyekolahkan anak ke sekolah dasar di tahun 2020 ini? Sebelum tahun ajaran baru dimulai, mari simak apa saja syarat masuk SD yang harus dipenuhi.

Syarat masuk SD

Dimuat dalam pasal 5 Peraturan Mendikbud Nomor 44 Tahun 2019, syarat masuk SD terbilang cukup sederhana, yaitu hanya mengenai batasan umur untuk anak bisa masuk SD. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa:

  • Anak dapat mendaftar jika berusia 7-12 tahun
  • Paling rendah usia anak yang mendaftar adalah 6 tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan
  • Sekolah wajib menerima siswa yang berumur 7-12 tahun
  • Untuk anak-anak berusia lebih muda diperbolehkan untuk mendaftar, dengan usia paling muda yaitu 5 tahun 6 bulan pada 1 Juli tahun berjalan. Syaratnya, anak tersebut harus memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta sudah siap secara psikis, dibuktikan dengan rekomendasi tertulis dari psikolog profesional.
  • Jika tidak tersedia rekomendasi dari psikolog, rekomendasi dapat diperoleh melalui dewan guru sekolah.

Bahaya tak penuhi batas usia anak masuk SD

Usia anak dapat dikaitkan dengan kesiapannya untuk memulai sekolah. Kebanyakan orangtua berpikir bahwa ukuran kesiapan anak untuk memulai sekolah dilihat dari kemampuannya membaca, menulis, atau mampu mengerjakan perhitungan matematika.

Lebih dari itu, orangtua juga harus memerhatikan aspek lain dalam perkembangan anak secara keseluruhan, misalnya kemampuan sosial dan emosional anak, keterampilan fisik, serta komunikasi dan kognitif.

Oleh karena itu, dalam salah satu pasal dalam Peraturan Mendikbud di atas, untuk anak-anak berprestasi dan memiliki bakat istimewa yang dirasa sudah pantas untuk memasuki sekolah dasar secara akademik, perlu juga dipastikan kesiapan fisik dan mentalnya.

Kesiapan tersebut penting untuk dipenuhi karena dapat membantu anak-anak berkembang di sekolah untuk bisa bergaul dengan anak-anak lain, mengikuti instruksi, dan mengomunikasikan kebutuhan mereka.

Menurut Profesor Nancy Carlsson-Paige, ahli pendidikan anak dari Lesley University, Massachusetts, orangtua juga perlu memahami bahwa ketika anak-anak memiliki tingkat pendidikan yang tidak selaras dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan belajar mereka, hal tersebut bisa berdampak pada mental anak, seperti tercipta perasaan tidak mampu, cemas, dan kebingungan.

Bahkan menurut penelitian terbaru dari para peneliti Fakultas Kedokteran Harvard University, anak-anak SD yang sering dianggap gagal mengikuti pelajaran di kelasnya kebanyakan disebabkan karena orangtua yang mendaftarkan mereka terlalu dini.

Para peneliti tersebut menemukan fakta bahwa dibandingkan anak-anak yang lebih tua, anak termuda di kelas yang mereka teliti memiliki kemungkinan yang jauh lebih besar untuk mendapatkan diagnosis ADHD, di mana anak cenderung hiperaktif dan sulit untuk fokus belajar.

Sebagai akibatnya, studi tersebut menyimpulkan bahwa sering terjadi diagnosis yang berlebihan dan perawatan yang salah pada anak-anak yang merasa kesulitan belajar, hanya karena mereka didaftarkan di usia mereka yang lebih muda.

Benarkah usia 7 tahun ideal untuk memulai sekolah dasar?

Finlandia, yang sistem pendidikannya diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia, telah menerapkan pendidikan formal yang dimulai ketika anak menginjak usia 7 tahun. Di usia tersebut, anak dianggap sudah siap secara fisik maupun mental untuk menghadapai berbagai tantangan yang akan mereka dapatkan di sekolah.

Suatu penelitian berjudul The Gift of Time? School Starting Age and Mental Health telah mengulas tentang usia terbaik untuk memulai sekolah. Studi ini dilakukan dengan mengamati proses penerimaan siswa baru di Denmark.

Umumnya, anak-anak di Denmark mulai sekolah ketika berumur 6 tahun. Para peneliti kemudian menelaah siswa-siswa yang menunda proses belajar mereka hingga umur 7 tahun. Hasilnya diungkapkan bahwa ketika menginjak usia 11 tahun, anak-anak yang memulai sekolah di usia 7 tahun lebih rendah mengalami kesulitan belajar, seperti susah memerhatikan pelajaran, dan 73 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi hiperaktif.

Sementara, menurut studi yang diterbitkan oleh lembaga riset IZA, dinyatakan bahwa anak-anak yang relatif lebih tua dari teman sekelasnya di sekolah dasar yang mereka teliti, memiliki sejumlah keunggulan, seperti:

  • Cenderung memiliki nilai yang lebih bagus pada ujian SMP dan SMA di kemudian hari.
  • Memiliki pengalaman kepemimpinan di sekolah menengah nantinya.
  • Lebih mungkin untuk terdaftar dalam program jalur universitas praakademik (jalur undangan) dan masuk ke universitas unggulan.

Terlepas dari berbagai temuan studi yang berhubungan dengan syarat masuk SD di atas, ada satu hal yang seharusnya menjadi perhatian utama para orangtua, yakni anak-anak perlu ada di rumah untuk mendapatkan pendidikan pertamanya dari orangtua.

Ayah dan ibu wajib menjadi guru pertama yang membentuk ikatan emosional yang kuat dengan anak sehingga mereka memiliki kesiapan yang mumpuni ketika memulai sekolah dasar nanti.

KEMDIKBUD. https://jdih.kemdikbud.go.id/arsip/Permendikbud%20Nomor%2044%20Tahun%202019.pdf
Diakses pada 1 Maret 2020

LEARNINGPOTENTIAL.https://www.learningpotential.gov.au/is-your-child-ready-for-big-school
Diakses pada 1 Maret 2020

FEE.https://fee.org/articles/harvard-study-shows-the-dangers-of-early-school-enrollment/
Diakses pada 1 Maret 2020

HARVARD.https://news.harvard.edu/gazette/story/2018/11/when-starting-school-younger-children-are-more-likely-to-be-diagnosed-with-adhd-study-says/
Diakses pada 1 Maret 2020

Artikel Terkait