Kebiasaan Menghindari Konflik Ternyata Berdampak Buruk bagi Kesehatan, Begini Cara Menghentikannya


Menghindari konflik dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Kebiasaan ini berpotensi mengakibatkan depresi serta meningkatkan risiko kematian dini.

0,0
Menghindari konflik justru berpotensi mengakibatkan depresiOrang yang menghindari konflik biasanya karena tidak ingin terlibat perdebatan lebih dalam
Konflik seringkali menguras emosi dan tenaga seseorang. Oleh sebab itu, banyak orang yang kemudian memilih untuk menghindari konflik. Hal tersebut biasanya dilakukan karena mereka tidak ingin terlibat masalah yang lebih dalam.Meski terlihat baik, menghindari konflik nyatanya malah memberikan efek yang berkebalikan. Apabila diteruskan, kebiasaan ini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan kehidupan pelakunya.

Apa saja ciri-ciri orang yang menghindari konflik?

Ada beberapa sikap dan perilaku yang menjadi tanda bahwa Anda sengaja menghindari konflik. Alasannya pun beragam, yang paling umum adalah tidak ingin terlibat perdebatan lebih dalam dan ingin masalah cepat selesai.Sejumlah sikap dan perilaku yang menjadi tandanya, antara lain:
  • Sengaja menghindari percakapan dengan orang yang terlibat konflik
  • Memilih bertahan dalam situasi yang tidak nyaman daripada bersikap terbuka
  • Stonewalling, menyangkal adanya masalah dengan diam atau sikap pengabaian
  • Mengubah topik pembicaraan secara sengaja ketika terlibat dalam obrolan yang dapat memicu perdebatan

Dampak buruk menghindari konflik terhadap kesehatan

Menghindari konflik dapat berdampak buruk terhadap kesehatan pelakunya. Tak hanya memicu penyakit, kebiasaan ini juga bisa mengakibatkan munculnya masalah kesehatan mental tertentu dan mengganggu hubungan Anda dengan orang lain.Ketika menghindari perselisihan, Anda mengkompromikan perasaan yang sebenarnya. Lama-kelamaan, hal tersebut dapat membuat frustasi, sebelum kemudian memengaruhi kesehatan Anda.Menurut sebuah penelitian berjudul “Emotion Suppression and Mortality Risk Over a 12-Year Follow-up”, memendam emosi bisa meningkatkan risiko kematian dini. Selain itu, memasang senyum palsu untuk menyembunyikan emosi juga berpotensi memicu depresi dan perasaan kesepian di dalam diri Anda.Hubungan Anda dengan orang lain juga akan terpengaruh akibat menghindari konflik. Saat menjauhi konflik, Anda dengan sengaja memutuskan komunikasi dengan orang lain secara jujur.Beberapa orang mungkin merasa bahwa tindakan tersebut bisa membantu menyelesaikan perdebatan. Namun, konflik yang tidak diselesaikan dalam jangka panjang dapat merusak hubungan Anda dengan orang tersebut.

Cara menghilangkan kebiasaan menghindari konflik

Melihat dampak buruk yang bisa ditimbulkan, kebiasaan menghindari konflik haruslah segera dihilangkan. Beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk menghilangkan kebiasaan ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan refleksi diri setelah menghadapi konflik

Refleksi diri dapat membantu Anda untuk lebih siap menghadapi konflik di masa depan. Kenali masalah apa saja yang menjadi pemicunya, lalu pikirkan mengenai bagaimana tindakan untuk menyelesaikannya. Semakin banyak Anda berlatih refleksi diri, kebiasaan menghindari konflik akan menghilang dengan sendirinya seiring waktu berjalan.

2. Cobalah untuk mengutarakan perasaan

Belajar mengutarakan apa yang dirasakan dapat membantu menghilangkan kebiasaan ini. Menyampaikan kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan Anda adalah tindakan yang boleh dilakukan. Sampaikan perasaan Anda secara jujur namun tetap dengan hormat, serta tidak menyerang.

3. Salahkan perilaku, bukan orangnya

Ketika terlibat konflik, jangan salahkan orangnya, tetapi perilakunya. Bicarakanlah bagaimana perilaku mereka memengaruhi pikiran dan perasaan Anda. Dengan begitu, mereka akan lebih memahami apa yang harus dilakukan agar masalah serupa tidak kembali terulang.

4. Selesaikan masalah saat itu juga

Daripada terus dipusingkan dengan konflik yang tidak kunjung selesai karena sikap diam Anda, cobalah untuk menyelesaikannya saat itu juga. Ketika menyelesaikan masalah, hindari bersikap defensif dan menghakimi. Sampaikan segala sesuatunya dengan tegas namun tetap tenang.Jika Anda kesulitan menyelesaikan konflik, meminta bantuan profesional bisa dijadikan pilihan. Dengan begitu, Anda akan dibantu mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah.

Catatan dari SehatQ

Menghindari konflik dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Kebiasaan ini berpotensi mengakibatkan depresi serta meningkatkan risiko kematian dini. Selain itu, menjauhi konflik juga bisa merusak hubungan Anda dengan orang lain.Jika kebiasaan ini mulai memengaruhi kondisi kesehatan mental Anda, segera berkonsultasi dengan profesional. Nantinya, Anda akan dibantu mengelola emosi dan diajarkan cara untuk berani mengutarakan perasaan di depan orang lain. Penanganan sedini mungkin mencegah kondisi Anda bertambah parah.Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar masalah kesehatan, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
depresikesehatan mentalmenjalin hubungan
Healthline. https://www.healthline.com/health/conflict-avoidance
Diakses pada 31 Agustus 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3939772/
Diakses pada 31 Agustus 2021
The Psych Professionals. https://psychprofessionals.com.au/conflict-avoidance-managing-conflict/
Diakses pada 31 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait