Sedih, cemas, dan putus asa dapat menjadi tanda depresi pada remaja
senang menyendiri merupakan salah satu tanda depresi pada remaja

Depresi tidak mengenal korbannya. Berbagai kalangan usia bisa terjerumus dalam lubang hitam ini, mulai dari lansia, dewasa, sampai dengan remaja. Khusus untuk depresi pada remaja, masalah ini kadang disepelekan dan tidak dianggap serius, padahal dampaknya bisa sangat buruk.

Dilansir dari intothelightid, berdasarkan penelitian besar seputar depresi di Indonesia oleh Supa Pengpid dari Mahidol University, Thailand, prevalensi depresi pada perempuan berusia 15-19 tahun mencapai 32 persen, sementara pada laki-laki di usia yang sama mencapai 26 persen. Yang lebih mencengangkan lagi, sekitar 21,8 persen responden berusia 15 tahun ke atas melaporkan gejala depresi sedang atau berat.

Mengapa depresi pada remaja bisa terjadi?

Depresi adalah masalah kesehatan mental serius yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat dalam beraktivitas. Ini bukanlah hal yang sepele karena depresi menjadi faktor risiko utama untuk bunuh diri. Setiap tahun, sekitar 13 persen remaja di Amerika Serikat mengalami depresi. Bahkan menurut sebuah studi pada tahun 2018, kasus depresi meningkat sebesar 47 persen pada anak laki-laki dan 65 persen pada anak perempuan sejak tahun 2013. 

Ada berbagai alasan mengapa seorang remaja mengalami depresi, misalnya nilai pelajaran yang selalu jelek, kesenjangan status sosial dengan teman sebaya, atau kehidupan keluarga yang tidak nyaman. Hal tersebut memiliki pengaruh yang besar pada perasaan seorang remaja. 

Terkadang, depresi pada remaja juga dapat terjadi akibat tekanan lingkungan. Tidak adanya dukungan dari orang-orang terdekat ketika remaja mengalami kesedihan atau merasa terisolasi, membuat depresi remaja lebih mungkin terjadi.

Depresi remaja umumnya dimulai pada usia 15 tahun. Kondisi tersebut umumnya terjadi di kalangan remaja yang memiliki riwayat keluarga depresi. Adapun faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi, yaitu:

  • Merasa harga dirinya direndahkan
  • Pernah menjadi korban atau saksi kekerasan
  • Memiliki masalah kesehatan mental lain
  • Memiliki masalah dalam belajar atau menderita ADHD
  • Menderita penyakit kronis
  • Memiliki masalah dengan sifat kepribadian
  • Tindakan bullying.

Remaja tak selalu berbagi emosinya dengan orang lain. Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk memerhatikan, mendengarkan, dan mengajak anaknya berbicara agar saling memahami.

Tanda-tanda depresi pada remaja

Ketika melihat anak remajanya bersedih atau murung, orangtua seringkali menganggap itu hal yang wajar akibat masalah remaja biasa. Padahal, bisa saja anak memiliki masalah yang lebih kompleks yang bisa membuatnya depresi. 

Remaja yang depresi akan mengalami perubahan dalam pola pikir dan perilakunya. Mereka mungkin senang menyendiri, tak bersemangat, tidur berlebihan, kebiasaan makannya berubah, dan bisa juga menunjukkan perilaku kriminal. Adapun tanda-tanda depresi pada remaja yang lainnya, yaitu:

  • Mudah marah
  • Apatis
  • Kelelahan
  • Merasakan nyeri, seperti sakit kepala, sakit perut atau sakit punggung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit membuat keputusan
  • Merasa tidak pantas atau merasa bersalah secara berlebihan 
  • Melakukan hal yang tak bertanggung jawab, misalnya bolos sekolah
  • Tidak nafsu makan atau makan secara berlebihan sehingga mengalami penurunan atau kenaikan berat badan yang cepat
  • Sedih, cemas, putus asa
  • Menunjukkan perilaku memberontak
  • Terjaga di malam hari dan tidur di siang hari
  • Nilai turun secara tiba-tiba
  • Tidak ingin bergaul
  • Penyalahgunaan alkohol, narkoba, atau melakukan seks bebas
  • Berbicara mengenai kematian
  • Ada keinginan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri

Akan tetapi, tidak semua tanda tersebut dapat terjadi karena tergantung pada individu masing-masing. Hanya saja, sebagai orangtua, Anda tetap perlu waspada jika mencurigai anak remaja Anda menunjukkan tanda-tanda depresi.

Peran orangtua dalam membantu mengatasi depresi pada remaja

Jika Anda curiga anak remaja Anda mengalami depresi, terdapat beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasinya. Berikut peran orangtua dalam mengatasi depresi pada remaja:

  • Mempelajari tentang depresi

Ini merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Dengan mempelajari segala sesuatu tentang depresi, seperti mengenai tanda-tanda, pengobatan, maupun bagaimana cara menyikapinya, dapat membuat Anda lebih memahami apa yang anak remaja Anda rasakan dan apa yang harus dilakukan.

  • Komunikasikan bersama

Ajaklah anak Anda berkomunikasi dengan mengobrol secara langsung untuk mengetahui apa yang ia rasakan dan pikirkan. Dengarkan mereka dengan baik dan tenang, agar emosi mereka dapat dibagi dan tersalurkan. 

Katakan hal-hal yang baik mengenai anak Anda karena ini dapat membuatnya merasa positif. Selain itu, terimalah ia apa adanya. Jangan sampai Anda menyuruhnya untuk berhenti mengeluh atau memaksanya segera kembali normal.

  • Memperbaiki suasana hatinya

Anda dapat memperbaiki suasana hati anak remaja Anda dengan mengajaknya melakukan apa yang ia senangi, seperti melukis, menonton film, olahraga, dan lainnya. Anda juga dapat mengajak teman-teman terdekatnya untuk menemaninya berbincang atau bermain. Hal ini bisa membuat suasana hati anak Anda lebih baik.

  • Cari bantuan profesional

Remaja yang mengalami depresi cenderung membutuhkan bantuan profesional. Orangtua harus mencari psikolog atau psikiater yang tepat untuk anaknya, utamanya yang telah berpengalaman dalam menangani masalah kesehatan mental remaja. 

Sangat penting untuk melibatkan anak remaja Anda dalam proses pemilihan karena ia harus merasa nyaman untuk melakukan pengobatan.

Bantuan profesional dan dukungan dari keluarga serta orang-orang terdekat tentunya akan memudahkan penyembuhan depresi pada remaja. Ini merupakan kondisi mental serius yang harus segera mendapat perhatian dan pengobatan.

Web MD. https://www.webmd.com/depression/guide/teen-depression#1
Diakses pada 20 Februari 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326872#advice-for-parents
Diakses pada 20 Februari 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/teen-depression/symptoms-causes/syc-20350985
Diakses pada 20 Februari 2020
Intothelightid. https://www.intothelightid.org/2018/08/28/menilik-prevalensi-gejala-depresi-di-indonesia/
Diakses pada 20 Februari 2020

Artikel Terkait