Demensia merupakan suatu bentuk dari gangguan saraf dan bukan bagian dari penuaan yang alami
Banyak mitos yang mengatakan bahwa wajar bila lansia menderita penyakit demensia, padahal sebenarnya ini merupakan gangguan pada saraf.

Penyakit demensia adalah salah satu penyakit yang cukup membuat miris. Demensia dapat memengaruhi memori, pemikiran, dan bahkan kemampuan sosial dari penderitanya.

Penyakit demensia bukan lagi hal yang baru di publik. Namun, tetap saja beberapa informasi yang salah atau mitos-mitos dapat beredar seputar penyakit demensia. Apa-apa saja mitos-mitosnya? Ketahui faktanya!

[[artikel-terkait]]

Mitos fakta penyakit demensia

Penyakit demensia merupakan penyakit yang selalu diasosiasikan dengan usia yang tua, tetapi apakah kepercayaan tersebut hanya sebuah mitos atau memang fakta? Simak mitos dan fakta penyakit demensia lainnya di bawah ini:

1. Penyakit demensia tidak bisa diatasi

Penyakit demensia memang tidak ada obatnya, tetapi bukan berarti penyakit demensia tidak dapat diatasi gejalanya. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani gejala penyakit demensia dan meningkatkan kualitas penderitanya.

Cara yang dapat dilakukan adalah dengan kombinasi medikasi dan mengubah pola hidup. Oleh karenanya, diagnosis dini dapat membantu penderita mendapatkan penanganan yang tepat dan efektif.

2. Hilang ingatan sudah pasti penyakit demensia

Hilang ingatan atau sering lupa belum tentu indikasi dari penyakit demensia. Saat usia bertambah, kemampuan untuk mengingat juga semakin berkurang. Oleh karenanya, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut secara menyeluruh untuk dapat dinyatakan mengalami demensia.

penyakit demensia dialami oleh lansia

3. Penyakit demensia adalah bagian dari penuaan 

Penyakit demensia merupakan suatu kondisi medis dan tidak selalu muncul karena usia yang bertambah tua. Penyakit demensia bukan bagian dari penuaan yang alami dan merupakan suatu gangguan pada saraf. Lansia bisa saja tidak mengalami demensia.

4. Penyakit demensia hanya dapat dialami oleh lansia

Penyakit demensia merupakan gangguan yang dapat dialami oleh kaum lansia maupun orang yang masih berusia muda. Kebanyakan penderita demensia berusia 65 tahun ke atas, tetapi terdapat beberapa penderita demensia yang berusia sekitar 40-50 tahun.

5. Penyakit demensia dapat dicegah

Alzheimer yang merupakan salah satu jenis penyakit demensia tidak dapat dicegah dan hanya risikonya saja yang dapat diturunkan. Pengurangan risiko dilakukan dengan olahraga teratur, mengatur tekanan darah, aktif bersosialisasi, dan mendapatkan asupan nutrisi yang baik.

penderita penyakit demensia linglung

6. Penderita demensia tidak mengerti sekitarnya 

Penderita penyakit demensia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, namun bukan berarti ia tidak memahami hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Bagian otak untuk berkomunikasi berbeda dengan bagian otak yang mengatur kesadaran.

7. Selalu koreksi kesalahan dari penderita demensia

Mengoreksi kesalahan kata atau memori dari penderita penyakit demensia tidak perlu dilakukan dan terkadang dapat memberikan efek yang negatif. Koreksi yang berulang dapat memicu depresi, agresivitas, dan kebingungan pada penderita.

Anda dapat mengoreksi kesalahan penderita dengan berusaha untuk memahami penderita. Anda dapat menekankan aspek lain dari memori atau perkataan penderita, seperti mendorong penderita untuk bercerita mengenai memori tersebut, apa yang dirasakannya, dan sebagainya.

Dengan demikian, Anda dapat meningkatkan kemampuan sosialisasinya tanpa harus membuat penderita penyakit demensia merasa bersalah akan dirinya.

8. Penderita demensia tidak menyadari gejala yang dialami

Berkebalikan dengan mitos yang beredar, penderita penyakit demensia umumnya dapat menyadari penurunan memori dan kesulitan dalam melakukan berbagai tugas. Namun, hal tersebut mungkin saja berbeda pada tiap penderita.

Pada kebanyakan kasus, kesadaran akan gejala penyakit demensia yang dialami menurun seiring dengan bertambah parahnya penyakit demensia yang dialami.

penderita demensia cepat marah

9. Penyakit demensia memicu agresivita

Agresivitas pada penderita demensia jarang terjadi. Anda dapat mengurangi risiko penderita menjadi agresif dengan menjalin komunikasi yang baik dan sabar, serta mencatat perilaku-perilaku yang dilakukan penderita.

Sikap agresif hanya muncul saat penderita penyakit demensia merasa tidak nyaman, karenanya salah satu cara mengurangi dan menangani sikap agresif penderita adalah dengan membicarakan masalah yang membuat penderita bersikap agresif.

10. Penderita demensia tidak tahu apa yang diinginkan

Penderita demensia hanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dan mengetahui apa yang diinginkan. Kesabaran dibutuhkan untuk mengetahui apa yang diinginkan dan yang tidak diinginkan oleh penderita penyakit demensia.

Mencatat perilaku penderita penyakit demensia dapat membantu Anda untuk mengetahui pola perilaku yang dilakukan oleh penderita.

Konsultasikan ke dokter

Penyakit demensia bukanlah penyakit yang tidak menimbulkan gejala-gejala awal. Oleh karenanya, Anda perlu jeli dan peka dalam melihat sekitar Anda. Beberapa gejala awal dari penderita penyakit demensia adalah:

  • Berkurangnya konsentrasi
  • Depresi, bersikap apatis, atau menarik diri
  • Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  • Gangguan di memori, terutama dalam mengingat hal-hal yang baru saja terjadi
  • Perubahan pada perilaku atau kepribadian
  • Meningkatnya kebingungan

Bila kerabat atau orang di sekitar Anda memiliki gejala di atas, segeralah berkonsultasi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Artikel Terkait

Banner Telemed