Mengenali Pentingnya Fungsi Plasenta Selama Masa Kehamilan

Fungsi plasenta ada beragam, antara lain sebagai pemberi nutrisi untuk janin dan kekebalan tubuh untuk bayi
Fungsi plasenta adalah untuk memberikan nutrisi dan oksigen ke janin

Plasenta merupakan salah satu dari tiga organ utama, selain tali pusar dan ketuban, yang fungsi utamanya adalah membantu pertumbuhan janin. Plasenta baru terbentuk ketika seorang wanita sedang melalui proses kehamilan.

Pada posisi normal, plasenta menempel di dinding rahim bagian atas atau samping, dan terhubung ke janin oleh tali pusar. Fungsi plasenta untuk janin sangatlah penting, sehingga jika terjadi gangguan pada organ ini, keselamatan janin dan kesehatan ibu dapat terganggu.

Fungsi plasenta selama masa kehamilan

Fungsi plasenta adalah sebagai sumber kehidupan janin. Dari plasenta, bayi mendapatkan aliran darah, oksigen, serta nutrisi yang dibutuhkan. Komponen-komponen penting dari plasenta, masuk ke janin melalui tali pusar.

Lebih jelas, berikut ini pentingnya fungsi plasenta yang perlu Anda ketahui.

1. Sebagai sumber nutrisi bayi

Plasenta merupakan tempat pertukaran darah antara ibu dan janin. Darah dari janin yang berisi sisa metabolisme yang sudah tidak dibutuhkan tubuh, akan dialirkan oleh pembuluh darah kecil ke plasenta.

Di plasenta, juga terdapat darah ibu. Sisa metabolisme dari janin tadi, kemudian akan ditransfer ke darah ibu, untuk kemudian dikeluarkan melalui tubuh ibu.

Sebaliknya, darah ibu yang masuk ke plasenta adalah darah yang berisi banyak oksigen dan nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan janin. Nutrisi dan oksigen tersebut kemudian akan ditransfer ke pembuluh darah janin.

2. Memproduksi hormon kehamilan

Fungsi plasenta lainnya yang tidak kalah penting adalah organ ini juga memproduksi hormon yang berkaitan dengan kehamilan, seperti estrogen, progesteron, dan hCG. Hormon-hormon tersebut berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan janin.

3. Melindungi janin dari bakteri

Plasenta juga berfungsi untuk melindungi janin dari infeksi bakteri. Meski dapat melindungi janin dari sebagian besar jenis bakteri, plasenta tidak dapat melindungi janin dari infeksi virus.

Alkohol, nikotin, dan obat-obatan lainnya juga dapat menembus plasenta dan menyebabkan gangguan kesehatan pada janin.

4. Memberikan antibodi untuk bayi

Pada masa akhir kehamilan, plasenta akan menurunkan antibodi yang dimiliki ibu ke bayi yang dikandungnya. Antibodi ini dapat memberikan kekebalan tubuh pada bayi hingga usia tiga bulan.

Apa yang terjadi pada plasenta setelah kelahiran?

Setelah proses melahirkan, plasenta sudah tidak memiliki peran di tubuh. Pada wanita yang melalui proses persalinan normal (vaginal), maka plasenta akan keluar dalam waktu sekitar 5-30 menit setelah proses persalinan. Proses keluarnya plasenta ini disebut sebagai tahap ketiga persalinan.

Setelah bayi berhasil dilahirkan, ibu tetap akan merasakan kontraksi ringan. Setelah itu, ibu akan diinstruksikan untuk mengejan agar plasenta dapat keluar. Untuk mempermudah proses keluarnya plasenta, dokter atau bidan dapat memijat perut Anda.

Selain itu, pemberian suntikan oksitosin juga dapat dilakukan untuk untuk memicu keluarnya plasenta.
Jika proses persalinan dilakukan dengan operasi Caesar, maka dokter akan mengeluarkan plasenta pada saat operasi.

Setelah proses persalinan, semua bagian plasenta harus dikeluarkan dari tubuh. Jika tidak, risiko perdarahan dan infeksi bisa terjadi.

Cara menjaga kesehatan plasenta

Fungsi plasenta dapat berjalan dengan baik apabila Anda menjalankan langkah yang tepat untuk menjaga kesehatannya. Salah satu hal yang sangat penting untuk menjaga fungsi plasenta dapat berjalan dengan baik adalah rutin memeriksakan kandungan Anda ke dokter.

Selain itu, beberapa langkah di bawah ini juga perlu Anda lakukan untuk menjaga fungsi plasenta.

  • Beritahukan ke dokter riwayat gangguan plasenta di kehamilan sebelumnya atau jika Anda pernah menjalani operasi rahim.
  • Jangan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilan.
  • Selalu diskusikan dengan dokter sebelum Anda mengonsumsi obat tertentu, termasuk obat herbal, suplemen, dan obat bebas yang dapat dibeli di apotek.
  • Diskusikan dengan dokter apabila Anda merasakan sakit punggung dan sakit perut yang parah, menagalami perdarahan vaginal, kontraksi, serta benturan di perut.

Faktor yang memengaruhi kesehatan dan fungsi plasenta

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kesehatan serta fungsi plasenta selama kehamilan, seperti berikut ini.

• Usia ibu

Usia ibu juga bisa menjadi faktor risiko yang memengaruhi kesehatan plasenta. Semakin tua usia saat ibu mengandung, terutama di atas usia 40 tahun, maka kemungkinan terjadinya gangguan plasenta akan semakin besar.

• Kesehatan ketuban

Selama di dalam kandungan, bayi berada di dalam kantong ketuban yang berisi cairan atau air ketuban. Jika ketuban pecah atau merembes padahal belum waktunya melahirkan, risiko terjadinya gangguan pada plasenta akan meningkat.

• Tekanan darah

Tekanan darah yang tinggi dapat berpengaruh buruk pada kesehatan ibu maupun janin yang dikandungnya. Salah satunya, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi plasenta.

• Jumlah bayi yang dikandung

Hamil anak kembar dapat meningkatkan risiko munculnya kelainan pada plasenta.

• Riwayat gangguan kesehatan

Gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi fungsi plasenta salah satunya adalah gangguan pembekuan darah. Jika Anda pernah mengalami kelainan plasenta pada kehamilan sebelumnya, risiko Anda untuk mengalami hal yang sama juga akan lebih tinggi.

• Riwayat operasi

Jika Anda pernah menjalani operasi pada rahim seperti operasi Caesar, atau operasi untuk menghilangkan fibroid, maka risiko munculnya gangguan pada plasenta akan meningkat.

Kelainan plasenta yang bisa terjadi

Begitu pentingnya fungsi plasenta, hingga gangguan yang terjadi bisa membahayakan ibu dan janin yang dikandungnya. Berikut ini tiga gangguan pada plansenta yang paling umum terjadi, yang perlu Anda waspadai.

1. Plasenta previa

Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta berada pada posisi yang terlalu ke bawah, sehingga menutupi sebagian atau seluruh leher rahim yang menjadi jalan lahirnya bayi. Posisi plasenta dapat berubah dengan sendirinya, seiring bertambahnya usia kehamilan.

Namun, jika posisi plasenta tidak kunjung berubah saat tiba waktunya waktu persalinan, dokter akan melakukan operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi dengan selamat.

Plasenta previa juga dapat menyebabkan perdarahan vaginal sebelum dan saat proses persalinan.

2. Abruptio plasenta

Pada abruptio plasenta, plasenta yang seharusnya menempel seluruhnya di dinding rahim, justru hanya melekat sebagian atau bahkan sama sekali tidak menempel pada dinding rahim.

Kondisi ini merupakan penyebab kematian janin dan bayi baru lahir yang paling banyak terjadi. Abrupsi plasenta juga dapat memicu persalinan prematur dan gangguan pertumbuhan janin.

3. Plasenta akreta

Plasenta akreta adalah gangguan perlekatan pada plasenta. Pada kondisi ini, plasenta bisa saja justru melekat di otot dinding rahim atau bahkan di organ lain yang terdapat di sekitar rahim.

Gangguan ini bisa menyebabkan terjadinya perdarahan parah dan membahayakan ibu dan janin.

Dengan mengenali fungsi plasenta dan perannya dalam kehamilan, diharapkan bisa membuat Anda lebih mawas diri dalam menjaga kesehatan organ yang satu ini. Dengan begitu, kehamilan pun diharapkan bisa berjalan dengan lebih lancar dan sehat.

Pregnancy Birth and Baby. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/what-is-the-placenta
Diakses pada 9 September 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/placenta/art-20044425
Diakses pada 9 September 2019

American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/while-pregnant/fetal-life-support-system/
Diakses pada 9 September 2019

NHS. https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/what-is-the-placenta/
Diakses pada 9 September 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/309618.php
Diakses pada 9 September 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed