Mengenali Gejala Tuna Wicara pada Anak dan Terapinya

Terapi wicara terdiri dari beberapa jenis yang memiliki manfaatnya masing-masing
Ilustrasi terapi wicara dengan terapis

Memiliki anak tuna wicara merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua. Jika Anda termasuk salah satunya, tak perlu berkecil hati karena Si Kecil tetap dapat menjalani kehidupan yang berkualitas, salah satunya melalui terapi wicara.

Tuna wicara tidak melulu menggambarkan anak yang sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Namun, para psikolog lebih mendefinisikan tuna wicara pada anak sebagai gangguan atau hambatan yang dialami oleh anak sehingga sulit melakukan komunikasi secara verbal yang dimengerti oleh lawan bicaranya.

Kesulitan tersebut bisa berupa gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi bicara, hingga kelancaran berbicara. Banyak hal dapat menyebabkan anak menjadi tuna wicara, mulai dari faktor pertumbuhan janin di dalam rahim maupun kondisi setelah ia dilahirkan.

Penyebab tuna wicara pada anak

Banyak hal dapat menyebabkan tuna wicara pada anak, baik faktor fisik, mental, maupun kombinasi keduanya. Secara garis besar, penyebab tuna wicara pada anak dapat digolongkan ke dalam 4 faktor, yakni:

1. Faktor sentral

Faktor ini meliputi adanya kerusakan pada susunan saraf pusat sehingga mengakibatkan anak tidak mampu berbahasa verbal yang spesifik, mengalami keterbelakangan mental, autisme, attention defficit hyperactivity disorder (ADHD), dan gangguan fungsi kognitif lainnya.

2. Faktor periferal

Faktor ini berhubungan dengan gangguan sensoris atau fisik, terutama gangguan pendengaran. Anak juga bisa menjadi tuna wicara ketika motorik yang berhubungan dengan kemampuan berbiacaranya terganggu.

3. Faktor lingkungan dan emosional

Bentuk dari faktor ini misalnya saat anak mengalami penelantaran, penganiayaan, maupun gangguan dalam perilaku dan emosi lainnya.

4. Campuran

Faktor ini merupakan gabungan dari faktor sentral, periferal, dan/atau lingkungan.

Apa saja tanda-tanda anak tuna wicara?

Tanda-tanda anak mengalami tuna wicara sangat tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Namun secara umum, berikut gejala anak tuna wicara yang dapat dikenali orangtua:

  • Sering mengulangi atau memperpanjang suara
  • Suara melengking
  • Bicara dengan sangat pelan atau dengan suara serak
  • Menambahkan suara atau suku kata ke kalimat yang diucapkannya
  • Menata ulang suku kata
  • Mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata dengan benar
  • Tampak berusaha keras untuk mengucapkan kata atau suara yang benar.

Secara fisik dan psikis, anak tuna wicara juga mungkin memiliki beberapa perbedaan dibanding anak normal pada umumnya. Ciri-ciri itu adalah:

  • Telinga mengeluarkan cairan
  • Bibir sumbing
  • Melakukan suatu gerakan yang berulang
  • Berbicara keras dan tidak jelas
  • Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya
  • Cenderung pendiam
  • Suara sengau

Di Indonesia, anak tuna wicara dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus. Namun, tingkat intelegensi (IQ) anak tuna wicara cenderung sama dengan anak normal pada umumnya, hanya saja skor pada IQ verbalnya lebih rendah dari performanya.

Jika Anda mencurigai anak Anda memiliki gejala tuna wicara, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah membawanya ke dokter anak atau telinga-hidung-tenggorokan (THT). Mereka akan diperiksa untuk memastikan gangguan pendengaran yang biasanya menjadi alasan utama terjadinya tuna wicara pada anak.

Anda juga dapat membawa anak ke dokter atau klinik tumbuh kembang untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya gangguan bicara pada anak. Si Kecil mungkin harus menjalani serangkaian tes sebelum diputuskan harus menjalani terapi wicara atau tidak.

Apa saja jenis terapi yang dapat dilakukan pada anak tuna wicara?

Dalam terapi wicara, terapis akan melatih kemampuan berbahasa dan berbicara anak dengan melibatkannya pada kegiatan one-on-one, kelompok kecil, maupun di kelas yang lebih ramai. Kegiatan yang dilakukan dalam sesi terapi dapat bervariasi, antara lain:

  • Aktivitas intervensi berbahasa

Terapis melibatkan anak dalam kegiatan yang melatih komunikasinya lewat berbicara, menunjuk gambar, objek, atau aktivitas lain secara berulang-ulang untuk memperbaiki skill berbahasa anak.

  • Terapi artikulasi

Terapi artikulasi adalah latihan yang bertujuan melatih anak mengeluarkan lebih banyak kosa kata serta melatih anak melafalkan kata tersebut, misalnya terapis mencontohkan anak mengucapkan huruf ‘L’ dengan memperlihatkan gerakan lidahnya. Terapi ini akan disesuaikan dengan usia maupun tingkat keparahan gejala tuna wicara pada anak.

  • Terapi oral-motor

Terapi oral-motor adalah terapi fisik yang dilakukan untuk memperkuat otot di sekitar bibir, lidah, maupun rahang. Kegiatan terapi ini sangat beragam, mulai dari pijat wajah hingga meminta anak mengunyah makanan tertentu.

Jika tuna wicara pada anak disebabkan gangguan pendengaran, ia juga bisa dibekali dengan alat bantu dengar. Dokter juga mungkin meresepkan beberapa jenis obat untuk meredakan kecemasan atau stres yang mungkin timbul karena anak merasa terkucil dari lingkungan sosialnya.

Repository Unimus. http://repository.unimus.ac.id/1697/3/BAB%202.pdf
Diakses pada 2 Mei 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324764
Diakses pada 2 Mei 2020

IAIN Syekh Nurjati Cirebon. http://sc.syekhnurjati.ac.id/esscamp/risetmhs/BAB21413153096.pdf
Diakses pada 2 Mei 2020

CDC. https://www.cdc.gov/ncbddd/childdevelopment/language-disorders.html
Diakses pada 2 Mei 2020

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/speech-therapy.html
Diakses pada 2 Mei 2020

Artikel Terkait