Mengenal Vaksin Rotavirus, Si Pencegah Diare Berat pada Bayi

Vaksin rotavirus dapat mencegah terjadinya diare parah pada bayi
Pemberian imunisasi rotavirus biasanya diberikan melalui obat tetes ke mulut

Jika Anda melihat daftar imunisasi dasar yang harus diberikan kepada bayi, rotavirus memang bukan salah satunya. Meski tidak wajib, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan Anda untuk melengkapi imunisasi bayi dengan vaksin rotavirus di klinik vaksin maupun rumah sakit yang terpercaya.

Imunisasi rotavirus adalah pemberian vaksin rotavirus dengan cara oral (tetes) untuk mencegah diare berat yang berakibat fatal bagi bayi dan anak-anak. Diare yang disebabkan oleh rotavirus sangat berbahaya karena dapat membuat bayi atau anak-anak mengalami dehidrasi, muntah, dan demam tinggi.

Di Indonesia, vaksin rotavirus tidak termasuk vaksin subsidi pemerintah sehingga Anda harus merogoh kocek sendiri untuk mendapatkan imunisasi yang satu ini. Harga satu vaksin rotavirus tergantung dari merek yang Anda pilih, namun rata-rata dimulai dari Rp400.000,- per vaksin.

Jadwal pemberian imunisasi rotavirus pada bayi

Di Indonesia, jenis vaksin rotavirus yang beredar ada dua macam, yakni Rotateq dan Rotarix. Perbedaannya adalah Rotateq berisi lima strain rotavirus (pentavalen), sedangkan Rotarix hanya berisi satu strain rotavirus (monovalen).

Jika Anda memilih vaksin rotavirus Rotateq, imunisasi rotavirus harus dilakukan tiga kali. Pemberian pertama dilakukan ketika usia bayi 6-14 minggu, pemberian kedua diberikan dengan jeda 4-8 minggu kemudian, sedangkan dosis ketiga diberikan maksimal saat usia anak mencapai 8 bulan.

Jika Anda memilih vaksin rotavirus Rotarix, maka imunisasi rotavirus cukup dilakukan sebanyak dua kali. Dosis pertama diberikan saat usia anak 10 minggu, sedangkan dosis kedua pada usia 14 minggu atau sebelum bayi genap berusia 6 bulan.

Jika bayi belum mendapat imunisasi rotavirus saat usianya sudah lebih dari 6 bulan (untuk Rotarix) dan 8 bulan (untuk Rotateq), maka pemberian vaksin ini tidak diperlukan. Pasalnya, hingga kini belum ada studi yang menyatakan bayi di atas umur tersebut masih memerlukan proteksi dari vaksin rotavirus.

Karena vaksin rotavirus diberikan lewat mulut, ada kemungkinan bayi Anda akan langsung memuntahkannya. Jika ini terjadi, petugas medis akan mengulang pemberian vaksin. Jangan takut, bayi tidak akan mengalami overdosis vaksin karena langkah ini.

Mengenal Vaksin Rotavirus, Si Pencegah Diare Berat pada Bayi

Vaksin rotavirus sangat aman diberikan kepada bayi. Vaksin yang sama telah diberikan kepada anak-anak di banyak negara lain, seperti Belgia, Kanada, Austria dan sejauh ini belum ada masalah serius yang mengemuka. 

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bayi Anda mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) setelah diberikan vaksin rotavirus ini. KIPI biasanya akan hilang dalam 3-4 hari, meski kadang bisa berlangsung lebih lama. Jika Anda khawatir, periksakan kondisi bayi ke dokter.

Pada imunisasi rotavirus, KIPI yang biasanya dialami bayi adalah diare ringan yang hanya berlangsung sebentar. Bayi juga mungkin mengalami muntah-muntah, tapi biasanya hal ini bukan dikarenakan vaksin rotavirus. Ingat juga bahwa muntah, asalkan tidak berlebihan, merupakan hal yang lumrah terjadi pada bayi.

Apakah bayi yang sudah melakukan imunisasi rotavirus pasti tidak akan terkena diare? Imunisasi tidak menjamin bayi tidak terjangkit penyakit tertentu. Hanya saja, bila ia terkena penyakit yang dimaksud, kondisinya tidak akan separah bayi lain yang tidak pernah diimunisasi.

Apa yang terjadi jika bayi tidak melakukan imunisasi rotavirus?

Diare masih menjadi momok bagi anak-anak yang hidup di negara berkembang seperti Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2017 lalu masih terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) diare di 12 provinsi dengan jumlah penderita 1.725 orang dan 1,97% di antaranya meninggal dunia, atau lebih tinggi dari target pemerintah yang menginginkan angka kematian karena diare di bawah 1%.

Diare yang disebabkan oleh rotavirus bersifat sangat menular. Anak-anak dan bayi biasanya tertular penyakit ini dari lingkungan yang tidak higienis, termasuk di rumah sakit yang menampung penderita diare akibat rotavirus.

Ketika bayi atau anak terinfeksi rotavirus, mereka akan memerlihatkan gejala, seperti demam, pusing, muntah, kram perut, dan diare yang sangat sering. Gejala ini bisa bertahan hingga 8 hari, dan bila dibiarkan akan mengakibatkan dehidrasi yang kemudian bisa membuat anak meninggal dunia.

Pemerintah pun memahami urgensi imunisasi rotavirus di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah sedang berupaya agar vaksin ini dapat dimasukkan ke dalam program imunisasi subsidi sehingga para orangtua tidak perlu mengeluarkan dana terlalu besar untuk mendapatkan manfaat dari vaksin rotavirus ini.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii
Diakses pada 26 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
Diakses pada 26 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
Diakses pada 26 Desember 2019

Kemenkes RI. https://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-tahun-2017.pdf
Diakses pada 26 Desember 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/rotavirus-vaccine-questions-answers/
Diakses pada 26 Desember 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/rotavirus-vaccine/
Diakses pada 26 Desember 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/rotavirus-vaccine-side-effects/
Diakses pada 26 Desember 2019

CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/rotavirus.html
Diakses pada 26 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/rotavirus-rv-vaccine
Diakses pada 26 Desember 2019

Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/read/detail/264163-vaksin-pcv-dan-rotavirus-bakal-masuk-imunisasi-wajib
Diakses pada 26 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed