Mengenal Terapi Okupasi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup


Terapi okupasi dilakukan untuk membantu individu mencapai tingkat maksimal fungsi dan kemandirian dalam semua aspek kehidupan. Terdapat beberapa jenis terapi okupasi yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang.

(0)
terapi okupasi dapat diberikan untuk lansia, anak, dan mereka yang mengalami traumaTerapi okupasi membantu memaksimalkan fungsi tubuh dan kognitif agar dapat hidup mandiri
Pada kondisi kesehatan tertentu, beberapa orang mungkin mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya saja, anak berkebutuhan khusus (ABK), lansia yang mengalami penurunan fungsi tubuh, hingga seseorang yang mengalami trauma atau kecelakaan. Demi dapat menjalani hari-hari mereka secara mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain, menjalani terapi okupasi dapat menjadi solusi.Simak ulasan mengenai terapi okupasi berikut ini. 

Apa itu terapi okupasi?

Terapi okupasi pada anak autisme membantu mereka menjadi lebih mandiri
Terapi okupasi pada anak autisme membantu mereka menjadi lebih mandiri
Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan untuk membantu individu agar dapat mandiri dalam semua aspek kehidupan dengan memaksimalkan fungsi tubuhnya. Biasanya, terapi ini diberikan kepada mereka yang mengalami keterbatasan fisik ataupun psikis tertentu. Terapi ini dilakukan dengan cara melihat fungsi fisik, psikologis, dan sosial individu dalam suatu program aktivitas terstruktur. Itu sebabnya terapi okupasi pada anak akan berbeda dengan lansia atau orang yang mengalami cedera.Kemudian, serangkaian rencana terapi akan dibuat. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat menjadi lebih mandiri dalam menggunakan anggota tubuhnya.  Lebih jelas, asosiasi terapi okupasi Amerika Serikat, AOTA, menyebutkan bahwa terdapat tiga tahapan layanan terapi okupasi, yakni:
  • Penilaian individu

Pada tahap ini, pasien ataupun keluarga bersama dengan terapi menentukan tujuan yang ingin dicapai. Mengetahui sejauh mana kapasitas pasien akan menjadi penting untuk menentukan langkah selanjutnya dan menentukan target terapi.
  • Penyesuaian rencana terapi

Tahap ini bertujuan untuk menyesuaikan jenis terapi yang diperlukan individu berdasarkan penilaian yang telah dilakukan. Jenis terapi yang diberikan diharapkan dapat membantu pasien meningkatkan kemampuannya menjalankan aktivitas sehari-hari dan mencapai goals yang telah ditentukan.
  • Evaluasi

Setelah menjalani rangkaian terapi, evaluasi akan dilakukan untuk memastikan keberhasilan terapi atau dibutuhkan perubahan rencana terapi.

Siapa saja yang membutuhkan terapi okupasi?

Semua golongan usia yang memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dapat melakukan terapi okupasi, mulai dari bayi, anak, dewasa, hingga lansia. Beberapa kondisi umum yang membutuhkan terapi okupasi antara lain:
  • Orang yang berada dalam masa pemulihan pasca-operasi atau pasca-cedera
  • Orang yang membutuhkan penanganan nyeri tertentu
  • Seseorang yang mengalami gangguan neurologis, seperti sklerosis atau pemulihan pasca stroke
  • Seseorang yang mengalami gangguan sendi, seperti osteoartritis dan rheumatoid arthritis
  • Individu yang mengalami gangguan pada tangan, seperti carpal tunnel syndrome dan trigger finger
  • Seseorang yang mengalami gangguan perkembangan, seperti autisme, gangguan belajar, dan gangguan intelektual
  • Individu yang mengalami cedera otak
  • Individu yang mengalami gangguan psikologis, seperti depresi, kecemasan berlebih, demensia, dan Alzheimer
  • Individu yang mengalami gangguan keseimbangan
  • Individu yang mengalami penurunan penglihatan
  • Anak dengan Down syndrome atau cerebral palsy

Berbagai jenis terapi okupasi yang mungkin diberikan

Terapi wicara menjadi salah satu terapi yang diberikan untuk masalah autisme
Terapi wicara menjadi salah satu terapi yang diberikan untuk masalah autisme
 Terapi okupasi biasanya akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan individu tersebut. Artinya, Anda membutuhkan konsultasi dengan dokter untuk menentukan jenis terapi yang tepat untuk Anda atau orang terdekat Anda.Melansir dari situs National Health Service milik Inggris Raya, berikut ini beberapa contoh terapi okupasi yang dilakukan di rumah sakit:
  • Penilaian aktivitas kehidupan sehari-hari (Activity of Daily Living/ADL)
  • Rehabilitasi fisik
  • Terapi kognitif
  • Penyediaan peralatan keberlanjutan yang dapat membantu menunjang kemandirian pasien setelah keluar dari rumah sakit
  • Pelatihan teknik alternatif dan penggunaan alat untuk mencapai kemandirian
  • Kunjungan rumah dan adaptasi lingkungan rumah
  • Promosi kesehatan dan strategi koping
  • Mobilisasi sendi, membangun kekuatan, ketangkasan, dan toleransi kerja
  • Pelatihan kembali gerakan dan keterampilan tertentu
  • Pengkajian ketersediaan alat bantu dan kebutuhan jangka panjang.

Mungkinkah melakukan terapi okupasi di rumah?

Terapi okupasi membutuhkan terapis yang memiliki pendidikan dan keterampilan khusus untuk melakukan berbagai perawatan sebagai bagian dari terapi okupasi. Untuk itu, terapi okupasi tidak bisa dilakukan seorang diri tanpa panduan dan pengawasan ahli.Mendatangkan terapis dapat menjadi cara terapi okupasi di rumah yang aman. Selain itu, cara ini juga memastikan bahwa terapi berjalan sesuai dengan rencana dan perkembangan bisa lebih terukur.Mendatangkan terapis ke rumah juga bisa menjadi solusi di masa pandemi Covid-19 seperti ini. Terlebih, jika tempat terapi yang biasa Anda layani bergabung dengan fasilitas layanan kesehatan umum. Jika Anda ingin bertanya lebih jauh tentang terapi okupasi atau membutuhkan saran layanan terapi okupasi, Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter secara online melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
penyakitstroketerapi wicarahidup sehat
American Occupational Therapy Association. https://www.aota.org/Conference-Events/OTMonth/what-is-OT.aspx
Diakses pada 16 Juni 2021
National Health Service. https://www.nbt.nhs.uk/our-services/a-z-services/occupational-therapy/what-occupational-therapy
Diakses pada 16 Juni 2021
Disability and Rehabilitation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4673542/
Diakses pada 16 Juni 2021
Web MD. https://www.webmd.com/pain-management/occupational-rehab
Diakses pada 16 Juni 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/occupational-therapy-vs-physical-therapy#about-occupational-therapy
Diakses pada 16 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait