Mengenal Terapi Lintah, Apa Saja Manfaat dan Efek Sampingnya?

Terapi lintah dipercaya mampu mengobati sejumlah penyakit, termasuk wasir dan darah tinggi.
Salah satu manfaat terapi lintah ialah memperlancar sirkulasi darah dan mencegah pembekuan darah.

Sejak zaman Mesir Kuno, binatang lintah sudah sering digunakan dalam dunia medis, seperti untuk mengatasi kelainan sistem saraf, masalah gigi, penyakit kulit hingga infeksi pada tubuh.

Hingga kini, terapi lintah dengan memanfaatkan binatang bertubuh kecil yang sering ditemui di sawah ini, masih dipercaya untuk mengobati beberapa penyakit. Sebenarnya, seperti apa terapi lintah?

Terapi lintah untuk kesehatan

Sebagian orang mungkin merasa jijik, dan tidak mau kulitnya “dihinggapi” lintah, yang siap menyedot darah mereka. Namun, dalam operasi plastik dan bedah mikro lainnya, terapi lintah dipercaya memiliki manfaat. Sebab, lintah mampu memproduksi peptida dan protein, untuk mencegah pembekuan darah.

Hal itu kemudian membuat darah mengalir lebih lancar ke bagian luka pada tubuh, yang membuatnya sembuh. Sekresi ini disebut juga sebagai antikoagulan.

Karena prosedurnya yang sederhana dan harganya yang dianggap murah, terapi lintah kini menjadi opsi yang dicari orang-orang, untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Bagaimana cara kerja terapi lintah?

Lintah yang digunakan dalam dunia medis untuk terapi lintah, memiliki tiga rahang dengan deretan gigi kecil. Dengan gigi-giginya yang tajam itu, lintah menusuk kulit pasien, dan memasukkan antikoagulan melalui air liurnya.

Kemudian, lintah akan mengisap darah pasien, sekitar 20-45 menit. Biasanya, setiap lintah mampu menyedot 15 ml darah.

Bagi Anda yang penasaran, lintah yang sering digunakan dalam dunia medis, bernama Hirudo medicinalis.
Dalam sebuah sesi terapi lintah, protein dan peptida yang diproduksi lintah, akhirnya masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan sirkulasi darah serta mencegah pembekuan darah.

Setelah selesai, lintah akan meninggalkan luka berbentuk Y kecil pada kulit pasiennya. Jangan khawatir, luka ini akan hilang dengan cepat.

Terapi ini menjadi simbiosis mutualisme antara lintah dan manusia. Sebab, di saat lintah menyedot darah pasien, maka mereka mampu memproduksi senyawa aktif, yang bermanfaat untuk tubuh Anda, seperti:

  • Anestesi lokal
  • Vasodilator lokal atau melebarkan pembuluh darah
  • Zat hirudin, untuk mencegah pembekuan darah
  • Enzim calin, untuk menghindari trombosit menempel saat proses penyembuhan luka. Trombosit adalah sel darah yang berperan dalam pembekuan darah.

Lantas, apa saja penyakit yang dipercaya bisa ditangani dengan terapi lintah?

Penyakit yang bisa ditangani terapi lintah

Tidak semua orang diperbolehkan menjalani terapi lintah, terutama mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun dan wanita hamil.

Akan tetapi, mereka yang berisiko menjalani amputasi karena diabetes hingga pengidap penyakit jantung, malah disarankan menjalani sesi terapi lintah. Selain itu, orang yang rentan terhadap pembekuan darah dan varises, juga bisa mencoba terapi lintah.

Bahan kimia yang dikandung air liur lintah, sering digunakan untuk bahan obat farmasi. Beberapa penyakit di bawah ini, dipercaya bisa ditangani dengan terapi lintah:

  • Hipertensi
  • Wasir
  • Masalah kulit
  • Radang sendi atau artritis
  • Varises

Terdapat uji klinis yang menyarankan terapi lintah sebagai pengobatan untuk osteoartritis. Sifat anti-inflamasi dan anestesi dalam air liur lintah, dipercaya bisa mengurangi rasa sakit di lokasi sendi yang terdampak dari osteoartritis.

Selain itu, terapi lintah dipercaya mampu menangani penyakit jantung, karena bisa mencegah peradangan dan meningkatkan aliran darah.

Begitu pula dengan penyakit kanker. Lintah mampu memproduksi enzim melalui air liurnya, yang bisa memperlambat efek samping kanker paru-paru. Penelitian pada tikus, membuktikan bahwa terapi lintah, bisa menghentikan penyebaran sel kanker. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hal ini.
Walau begitu, para pengidap beberapa tipe kanker darah, disarankan tidak menjalani terapi lintah.

Terapi lintah tidak cocok untuk vegan

Vegan dikenal tidak mengonsumsi atau menggunakan produk yang mengandung hewan. Maka dari itu, terapi lintah sepertinya tidak cocok dengan vegan.

Terlebih, setiap lintah yang digunakan untuk terapi lintah, akan langsung dimatikan setelah terapi selesai. Lintah untuk terapi juga tidak bisa dilepas ke alam liar, setelah digunakan untuk terapi.

Efek samping terapi lintah

Meski memiliki banyak manfaat untuk kesehatan Anda, bukan berarti terapi lintah tidak memiliki efek samping yang dapat ditimbulkan.

Jika menggunakan lintah yang belum diuji manfaat medisnya, bisa saja lintah-lintah itu malah meninggalkan bakteri, yang malah bisa berdampak buruk pada kesehatan Anda.

Selain itu, para pengidap penyakit immunocompromised yang disebabkan oleh autoimun atau faktor lingkungan, disarankan untuk tidak menjalani sesi terapi lintah.

Beberapa kemungkinan seperti pendarahan akibat gigitan lintah, luka gigitan yang tidak menutup, alergi terhadap air liur lintah hingga perpindahan tubuh lintah ke area yang seharusnya tidak digigit, bisa terjadi.

Maka dari itu, ada baiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter, untuk mengetahui kemampuan tubuh dalam menjalani terapi lintah, dan risiko efek samping yang mungkin timbul. 

Healthline. https://www.healthline.com/health/what-is-leech-therapy
Diakses pada 7 November 2019

Web MD. https://dictionary.webmd.com/leech-therapy
Diakses pada 7 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321336.php#3
Diakses pada 7 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed