logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Mengenal Tahap Perkembangan Emosi Remaja 11-21 Tahun

3.5

(14)

30 Apr 2021

| Fadli Adzani

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Perkembangan emosi remaja juga perlu dipahami oleh orangtua.

Perkembangan emosi remaja memiliki peran penting untuk masa depan mereka kelak.

Table of Content

  • Tahap perkembangan emosi remaja
  • Catatan dari SehatQ

Penting bagi orangtua untuk memahami perkembangan emosi remaja. Sebab, perkembangan emosi yang optimal dapat membantu mereka memiliki tingkat kesadaran diri dan sosial yang tinggi.

Advertisement

Selain itu, perkembangan emosi pada remaja yang berjalan dengan baik bisa membuat mereka belajar mengontrol perasaan dan mengasah kemampuan dalam mengambil keputusan.

Untuk membantu mengoptimalkan perkembangan ini, mari kita pahami lebih lanjut mengenai berbagai tahapan perkembangan emosi pada remaja berusia 10-21 tahun.

Tahap perkembangan emosi remaja

Masa remaja adalah fase yang menantang dan unik bagi anak-anak. Mereka akan mengalami perkembangan emosional yang intens sdan menjalani proses pendewasaan diri.

Terkadang, anak remaja mungkin akan bertanya pada dirinya, "Apakah aku normal?", "Apakah aku bisa berbaur dengan orang lain?", atau "Siapakah diriku sebenarnya?".

Ditambah lagi, perubahan fisik yang disebabkan pubertas juga dapat membuat anak remaja insecure. Inilah alasan mengapa Anda perlu memahami perkembangan emosi remaja supaya bisa menemani dan membimbing mereka dalam menghadapinya.

1. Perkembangan emosi remaja 11-12 tahun

Pada usia 11-12 tahun, anak remaja biasanya akan menghadapi perubahan fisik di awal masa pubertas. Perubahan fisik ini dapat membuat sebagian dari mereka merasa canggung dan insecure.

Kondisi ini bisa membuat anak remaja hanya memikirkan dirinya sendiri dan cenderung membanding-bandingkan dirinya dengan teman sebaya. Tidak hanya itu, perkembangan emosi remaja di usia ini dapat membuat mereka tidak memikirkan konsekuensi jangka panjang dari perilakunya.

Sebagai orangtua, Anda perlu tahu bahwa anak remaja berusia 11-12 tahun dapat mengkhawatirkan penampilan fisik mereka dan merasa khawatir tidak diterima di dalam lingkungan teman sebayanya.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Anda dapat membantu anak remaja untuk meningkatkan kesadaran diri mereka. Yakinkan pada mereka bahwa semua teman-teman sebayanya juga merasa minder dan emosional terkait perubahan tubuhnya.

Anda juga boleh bercerita tentang pengalaman pribadi saat masih menjalani masa pubertas dulu. Dengan begitu, diharapkan anak Anda tidak merasa sendirian.

Jika ia masih terus merasa khawatir, tidak ada salahnya untuk mengajak anak ke psikolog supaya mendapatkan bantuan yang tepat.

2. Perkembangan emosi remaja 13-14 tahun

Anak remaja pada usia 13-14 tahun umumnya cenderung lebih merasa sensitif terhadap masalah sosial, seperti sedang dikucilkan oleh teman-teman sebayanya di sekolah.

Pada fase ini, emosi di dalam dirinya sedang bergejolak. Bisa jadi ia meluapkan rasa kesalnya dengan menutup pintu kencang-kencang, berteriak, ingin menyendiri, dan menjaga jarak dengan orangtuanya.

Namun, Anda perlu ingat, berbagai masalah sosial yang ditemui oleh anak di luar rumah adalah proses pembelajaran anak untuk menjadi individu yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Habiskan waktu dengan anak-anak, dengarkan segala gundah gulananya. Anda juga perlu mengerti bahwa terkadang mereka membutuhkan waktu sendiri atau bersama temannya.

Dukung anak untuk memahami interaksi sosial dan ajari mereka tentang hubungan yang sehat. Pada masa ini, dukungan keluarga memiliki peran penting untuk perkembangan emosional anak.

3. Perkembangan emosi remaja 15-16 tahun

Anak remaja berusia 15-16 tahun dapat mulai mencari sensasi dengan melakukan hal-hal negatif, seperti minum alkohol, mencoba obat-obatan terlarang, atau terlibat dalam seks bebas. Penting bagi orangtua untuk memantau mereka agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal negatif tersebut.

Selain itu, anak remaja berusia 15-16 tahun mungkin juga bisa merasa stres tentang nilai ujiannya di sekolah dan hubungannya dengan teman atau pacar. Ditambah lagi, mereka dapat menetapkan ekspektasi tinggi untuk diri sendiri.

Pada masa ini, anak remaja menjadi cukup labil. Mereka bisa bersikap sok tahu dan membangkang pada hari ini, tapi jangan kaget ketika esok harinya mereka tiba-tiba merasa tidak yakin dan tidak percaya diri secara.

Tidak hanya itu, anak-anak remaja 15-16 tahun juga dapat mulai mencoba memahami konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Ini adalah masa yang penting bagi orangtua untuk berkomunikasi secara terbuka dengan anak. Selain itu, jangan lupa untuk mengenal teman-teman dari anak Anda di luar rumah.

Menurut sebuah riset, anak remaja berusia 15-16 tahun bisa terhindar dari perilaku berisiko jika dekat dengan orangtuanya.

Bersiaplah untuk membuat peraturan dan menetapkan batasan tegas bagi anak agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal negatif.

4. Perkembangan emosi remaja 17-21 tahun

Pada usia ini, fisik anak remaja sudah berkembang sepenuhnya. Mereka juga dianggap sudah bisa mengontrol diri agar tidak melakukan hal-hal yang berisiko.

Anak Anda pun sudah dewasa. Mereka bisa membuat rencana strategis ke depan dengan kreatif dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Prioritas anak remaja di usia ini biasanya tertuju pada masa depan, seperti masuk ke perguruan tinggi favorit hingga bekerja.

Meski begitu, otak anak remaja masih akan terus berkembang hingga pertengahan usia 20-an. Maka dari itu, teruslah bimbing mereka agar tidak salah jalan.

Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Saat anak remaja menginjak usia 17-21 tahun, Anda harus terus membimbing mereka untuk menjauhi perilaku berisiko. Selain itu, bantu mereka untuk belajar mengambil keputusan yang baik.

Minta anak untuk belajar dari kesalahannya. Tegaskan pada anak bahwa Anda siap untuk membantu jika mereka mengalami kesulitan.

Catatan dari SehatQ

Dalam menjalani berbagai tahap perkembangan emosi remaja di atas, anak biasanya akan menemukan banyak rintangan. Oleh karena itu, Anda harus terus menemani dan membimbing anak remaja agar tidak salah jalan.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan remaja, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

tips parentingparenting stressgaya parenting

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved