Social Bubble, Lingkaran Interaksi Terdekat Saat Pandemi COVID-19


Social bubble adalah kelompok orang yang sepakat untuk membatasi interaksi sosial hanya untuk bertemu satu sama lain. Di dalamnya, bisa terdiri dari anggota keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja.

(0)
21 Jun 2021|Azelia Trifiana
Social bubble bermanfaat pada masa pandemiSocial bubble bermanfaat pada masa pandemi
Mungkin dulu ketika pandemi global COVID-19 masih jauh dari bayangan, konsep social bubble masih belum familiar. Namun kini, di tengah ketidakpastian pandemi COVID-19, adanya lingkaran sosial ini bisa jadi penyelamat kesehatan mental seseorang agar tak merasa terisolasi dan kesepian.Tentu perlu konsistensi dan perencanaan matang untuk membentuk lingkaran sosial ini. Idealnya, jumlah orang yang termasuk dalam lingkaran juga tidak terlalu banyak.

Apa itu social bubble?

Social bubble adalah kelompok orang yang sepakat untuk membatasi interaksi sosial hanya untuk bertemu satu sama lain. Istilah lain untuk fenomena ini adalah quaranteams atau pods. Di dalamnya, bisa terdiri dari anggota keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja.Dari kacamata kesehatan mental, social bubble adalah cara seseorang agar tetap waras di tengah pandemi yang mengharuskan membatasi interaksi dengan orang lain.Sebab, manusia sebagai makhluk sosial tentu masih membutuhkan interaksi yang aman di masa pandemi.Di saat bersamaan, tentu egois namanya jika seseorang memaksakan bertemu setelah berkelana dan berinteraksi dengan banyak orang sebelumnya. Dalam konsep social bubble, itu tidak akan terjadi.Alasannya karena setiap individu dalam lingkaran sosial itu telah sepakat untuk hanya berinteraksi dengan orang-orang dalam lingkaran yang sama, tidak lebih. Dengan demikian, risiko menjadi carrier dan menularkan virus COVID-19 pun bisa ditekan.Terlepas dari berapa anggota dalam sebuah lingkaran, satu hal yang pasti yaitu kesepakatan. Ada peraturan tentang apa saja yang harus dilakukan dan dihindari.Contohnya semua harus sudah mendapatkan vaksinasi, memakai masker, dan membatasi mobilitas serta interaksi. Selain itu, tentu faktor lain seperti kondisi medis dan perilaku masing-masing individu juga menjadi pertimbangan sebelum membentuk social bubble.

Manfaat social bubble secara mental

social bubble
Memiliki social bubble baik bagi kesehatan mental
Selama bisa konsisten menjaga protokol kesehatan dan membatasi jumlah orang dalam lingkaran sosial, ada banyak manfaat konsep ini terhadap kesehatan mental. Beberapa di antaranya adalah:

1. Mengusir kesepian

Berbeda dengan sengaja menyendiri, rasa kesepian bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Terlebih ketika pertama kali pandemi COVID-19 terjadi, semua orang diminta karantina di rumah. Semua terjadi begitu mendadak. Tanpa persiapan, tanpa tanda-tanda.Situasi yang serba mengagetkan itu tentu rentan membuat seseorang merasa kesepian. Hidupnya yang semula begitu meriah dengan interaksi langsung, tiba-tiba harus terkurung di rumah demi keselamatan masing-masing.Dengan adanya social bubble, seseorang bisa mulai merasakan hangat dan nyamannya interaksi sosial. Ini tak ternilai harganya bagi orang yang merasa kesepian. Berbeda dengan interaksi secara virtual, kontak langsung bisa membangun koneksi lebih mendalam.

2. Merasakan sentuhan fisik

Sentuhan fisik rupanya merupakan salah satu faktor krusial bagi kesehatan mental. Ketika terjadi interaksi bersentuhan dengan orang lain, rasa stres, cemas berlebih, depresi, atau menderita bisa berkurang. Fakta ini terekam jelas dalam penelitian "Touch in Times of COVID-19: Touch Hunger Hurts" pada tahun 2020 lalu.Selain itu, berada di tempat yang sama dengan orang terdekat menjadi hal langka di masa pandemi ini. Namun dengan adanya lingkaran sosial, interaksi dengan sentuhan fisik seperti berpelukan, tertawa, atau bermain bersama bisa dilakukan dengan aman.

3. Stimulasi sensori anak

Bukan hanya untuk orang dewasa, memiliki social bubble juga bisa bermanfaat untuk anak-anak. Ketika memiliki teman sebaya yang berada di lingkaran sosial sama dan bisa berinteraksi bersama, ini akan memberikan stimulasi pada sensori mereka.Terlebih anak memang memerlukan interaksi secara langsung demi pengalaman yang lebih menyenangkan. Semua ini tentu tidak bisa tergantikan oleh interaksi virtual lewat layar belaka.

Cara membentuk social bubble

Jika ingin membentuk social bubble sendiri, pertama-tama tentukan siapa saja yang ada di dalamnya. Idealnya, ini dilakukan orang yang tinggal satu atap. Jadi, batasi jumlah orang yang keluar rumah dan hanya untuk keperluan penting saja.Kemudian, orang yang sudah tergabung dalam social bubble juga perlu konsisten membatasi interaksi dengan orang di luar lingkaran sosial. Contohnya dengan tidak makan bersama, hadir ke pernikahan, berlibur, atau aktivitas lain. Tujuannya demi melindungi seluruh anggota dalam social bubble yang tetap berada di rumah.Pastikan orang-orang yang ada di dalam lingkaran sosial adalah mereka yang benar-benar Anda percaya. Jangan sembarangan memasukkan teman, tetangga, atau rekan kerja yang Anda tidak tahu ke mana mereka pergi sehari-hari.Ada rasa percaya dan saling bergantung antara semua pihak yang ada dalam lingkaran sosial. Jadi, semuanya harus bisa mengemban amanah dengan baik. Lihat bagaimana track record saat berada di luar, apakah menjaga jarak dan selalu mengenakan masker, dan sebagainya.Luruskan pula konsep tentang “aman”. Sebab, ada orang yang menganggap makan bersama di luar bukan masalah. Di sisi lain, ada yang sangat anti karena ketika makan artinya orang tidak mengenakan masker dan bisa menjadi media penularan terbesar.

Catatan dari SehatQ

Membentuk social bubble sangatlah ideal bagi mereka yang merasa kesepian dan benar-benar butuh interaksi secara langsung. Artinya, mungkin saja orang lain masih bisa bertahan dengan interaksi secara virtual atau cara lain untuk menghibur diri di masa pandemi.Tak kalah penting, siapkan langkah mitigasi apabila salah satu orang dalam lingkaran sosial Anda jatuh sakit. Terlebih, seseorang bisa jatuh sakit bukan pada hari pertama terinfeksi, namun hingga beberapa minggu kemudian.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang kapan seseorang sudah harus melakukan interaksi langsung demi kesehatan mentalnya, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjalin hubunganpola hidup sehatcoronavirus
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/how-a-social-bubble-benefits-your-mental-health-5113492
Diakses pada 8 Juni 2021
Journal of Clinical Nursing. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jocn.15488
Diakses pada 8 Juni 2021
Cigna Report. https://www.cigna.com/static/www-cigna-com/docs/about-us/newsroom/studies-and-reports/combatting-loneliness/cigna-2020-loneliness-infographic.pdf
Diakses pada 8 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait