Mengenal Sikap Defensif, Penting Atau Justru Bisa Jadi Bumerang?


Sikap defensif bisa membuat seseorang merasa tak cocok dengan siapapun dan justru menutup diri.

0,0
09 May 2021|Azelia Trifiana
Sikaf defensif cenderung membuat seseorang menutup diriSikaf defensif cenderung membuat seseorang menutup diri
Sikap defensif adalah perilaku dan pikiran ketika mendapatkan kritik dari orang lain. Kerap kali, hal ini akan memunculkan rasa malu, marah, dan sedih. Bukan tidak mungkin, orang dengan sikap semacam ini akan mengadopsi sikap sarkasme.Sikap semacam ini juga bisa mengancam relasi dengan orang lain karena potensi konfliknya cukup besar. Bisa saja orang akan memberikan silent treatment atau justru mengkritik lebih pedas lagi.

Sikap defensif dan siklus tak sehat

Perilaku defensif bertujuan untuk melindungi perasaan agar tidak merasa malu atau takut. Tujuannya adalah mengalihkan perhatian pada kesalahan orang lain. Dengan demikian, orang yang defensif akan merasa lebih baik tentang dirinya pada saat itu.Dalam jangka pendek, memang benar sikap ini bisa membuat seseorang merasa lebih baik. Namun dalam jangka panjang, ini bisa memunculkan rasa tidak enak yang lebih dominan lagi.Ketika seseorang menuding kesalahan orang lain demi melindungi dirinya, ini bisa memunculkan sikap defensif serupa. Artinya, ada lingkaran setan yang tak kunjung habis terkait sikap defensif.Lebih parahnya lagi, ketika siklus ini terjadi, bisa saja setiap orang yang terlibat di dalamnya sama sekali tidak paham apa yang terjadi.

Tanda-tanda sikap defensif

Terkadang sukar untuk mengenali sikap defensif dari dalam diri seseorang. Penilaian harus objektif lewat perspektif orang lain.Apabila masih ragu apakah yang Anda lakukan adalah sikap defensif atau hanya pembelaan diri biasa, berikut ini beberapa tanda-tandanya:
  • Berhenti mendengarkan pendapat orang yang mengkritik
  • Membuat alasan tentang apapun yang jadi bahan kritik
  • Menyalahkan orang lain
  • Menuding orang lain melakukan hal yang sama
  • Berusaha membenarkan apa yang dilakukan
  • Mengungkit kesalahan orang lain di masa lalu
  • Menghindari bicara tentang topik yang tengah dihadapi
  • Mengajari orang lain bahwa seharusnya mereka tidak merasakan itu

Apa penyebabnya?

Apabila Anda mendeteksi diri kerap melakukan sikap defensif, berikut ini beberapa hal yang bisa jadi pemicunya:
  • Rasa takut

Orang yang memiliki trauma masa lalu seperti kerap mengalami perundungan saat kecil bisa tumbuh menjadi sosok yang suka menindas orang lain. Tujuannya agar merasa lebih kuat pada detik itu juga dengan membentuk ilusi rasa aman.
  • Kecemasan sosial

Apabila seseorang kurang piawai dalam berkomunikasi dengan percaya diri atau punya kecemasan sosial, sangat mungkin muncul sikap defensif
  • Malu atau rasa bersalah

Ketika seseorang merasa bersalah dan orang lain membahas tentang topik itu, akan ada kecenderungan merespons dengan cara defensif
  • Menyembunyikan hal yang sebenarnya

Orang juga bisa bersikap defensif ketika menyembunyikan hal yang sebenarnya. Ini terjadi pada orang yang sedang berbohong atau tidak jujur.
  • Serangan terhadap perilaku

Seseorang perlu pembenaran ketika perilaku atau karakternya diserang. Mereka akan mencari celah untuk membela diri terkait hal itu.
  • Tidak bisa berubah

Apabila seseorang merasa tidak lagi bisa berubah terkait salah satu aspek kehidupannya, sangat mungkin muncul sikap defensif ketika orang lain membahasnya
  • Gejala gangguan mental

Sikap defensif ini juga bisa jadi tanda-tanda gangguan kesehatan mental seperti eating disorder atau gangguan perilaku lainnya. Mereka merasa perlu bersikap defensif agar apa yang dilakukannya tidak dianggap sebagai kesalahan.Selain itu, perilaku defensif juga bisa terjadi karena seseorang mengobservasi perilaku orang di sekitarnya. Contohnya lewat pengamatan terhadap apa yang dilakukan orangtua, pasangan, saudara kandung, dan sebagainya.Secara umum, sikap defensif biasanya merupakan buah dari penyebab psikososial, bukan biologis. Jadi, sangat erat kaitannya dengan pengalaman hidup atau konteks sosial.

Jenis sikap defensif

Ada beberapa jenis sikap defensif yang kerap muncul, berikut di antaranya:
  • Ad hominem atau menyerang orang tertuju pada karakternya
  • Mengungkit masa lalu
  • Silent treatment
  • Gaslighting atau membuat orang lain mempertanyakan kewarasan atau ingatannya, serta menudingnya tidak rasional
  • Menyalahkan orang lain
  • Membenarkan diri sendiri (righteous indignation)
  • Menyalahkan diri sendiri untuk membuat orang lain merasa bersalah dan merasa simpati (innocent victim)

Dampak bahaya dari sikap defensif

Hal yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa sikap defensif ini sangat mungkin berdampak negatif pada hidup seseorang. Enggan menerima kritik dari orang lain berarti kemungkinan besar akan tetap berada di lingkaran perilaku negatif yang sama.Lebih jauh lagi, beberapa dampak negatif dari sikap defensif ini adalah:
  • Berperilaku tidak sesuai dengan tujuan hidup
  • Relasi dengan orang lain menjadi buruk
  • Situasi menjadi lebih rentan konflik
  • Merasa tidak cocok dengan siapapun
  • Masalah tidak akan terselesaikan
  • Rasa empati terhadap orang lain hilang
  • Orang lain di sekitar juga bersikap defensif
  • Kerap berpikir negatif
  • Tidak bisa melihat sisi positif dalam hidup

Bagaimana mengatasinya?

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghindari sikap defensif. Langkah pertama adalah menyadari tentang sikap ini. Anda bisa menuliskan di jurnal tentang perasaan yang muncul setiap malam serta melihat situasi apa yang memicunya.Jangan lupa validasi perasaan ketika mendapatkan kritik. Mulai dari merasa sakit hati, takut, malu, dan semacamnya. Tidak masalah merasakan hal itu karena wajar. Tak perlu merasa menjadi orang buruk karenanya.Dengan demikian, seseorang bisa lebih jujur dan tidak menutupi perasaannya. Ini bisa mengasah empati terhadap orang lain sehingga mengakui tentang apa yang dikritik orang lain.

Tak kalah penting, jika ada aspek kehidupan yang kerap membuat Anda bersikap defensif, coba perbaiki itu. Ketika self-esteem meningkat, dengan sendirinya Anda akan menjadi lebih percaya diri.Untuk berdiskusi lebih lanjut kapan sikap defensif ini perlu terapi khusus, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjalin hubunganpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-defensiveness-5115075
Diakses pada 24 April 2021
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-your-team-work/201403/are-you-being-defensive
Diakses pada 24 April 2021
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-cycles-fear-cycles/201805/why-do-people-get-so-defensive
Diakses pada 24 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait