Mengenal Selective Mutism pada Anak dan Cara Mengatasinya

(0)
30 Mar 2021|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Jika tidak ditangani segera, selective mutism akan semakin sulit ditangani saat penderitanya semakin tua.Selective mutism dapat menyebabkan seorang anak menjadi pemalu.
Pernahkah Anda melihat Si Kecil diam seribu bahasa saat berada di luar rumah atau lingkungan sekolah? Jika hal ini sering terjadi, Anda harus mewaspadai adanya selective mutism pada anak.Selective mutism adalah gangguan kecemasan parah yang membuat seseorang menjadi ‘bisu’ pada situasi sosial tertentu, misalnya saat bermain dengan teman-temannya di sekolah atau saat berjumpa dengan saudara jauh yang jarang sekali bertemu.Kenali tanda-tanda, penyebab, beserta cara mengatasi selective mutism yang perlu diketahui orangtua.

Tanda-tanda selective mutism yang patut diperhatikan

Selective mutism dapat membuat anak menjadi pemalu
Selective mutism dapat membuat anak menjadi pemalu
Anak dengan selective mutism tetap bisa aktif berbicara di rumah, terutama saat dikelilingi oleh orang-orang yang dekat dengannya, seperti orangtua dan saudara kandung.Namun, ketika ia berhadapan dengan situasi sosial di luar rumah, anak dengan selective mutism akan langsung diam seribu bahasa.Selective mutism umumnya mulai terlihat saat anak menginjak usia 2-4 tahun. Anda mungkin akan menyadari tanda-tanda awal selective mutism saat anak sedang berinteraksi dengan orang di luar keluarganya.Gejala utama dari selective mutism dapat terlihat saat anak menjadi kaku secara tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang datar dan menghndari kontak mata ketika harus berbincang dengan orang asing.Selain itu, anak dengan selective mutism juga bisa merasakan hal-hal berikut ini:
  • Mampu berbicara aktif di rumah, tapi menjadi diam saat dihadapkan dengan situasi sosial
  • Sulit berbicara dengan orang terdekatnya ketika ada orang asing di sekelilingnya
  • Gugup dan canggung
  • Bersikap kasar
  • Menjadi malu dan pendiam
  • Tubuhnya menjadi kaku dan tegang
  • Keras kepala dan agresif, seperti mudah marah saat pulang sekolah.
Beberapa anak dengan selective mutism masih bisa berkomunikasi dengan orang asing menggunakan gerakan tubuh, seperti mengangguk saat ingin mengucapkan "ya" dan menggelengkan kepalanya saat ingin mengatakan "tidak".Namun, anak dengan selective mutism yang sudah parah akan menghindari berbagai macam komunikasi, baik dalam bentuk verbal, tulisan, bahkan gestur. Jika tidak segera ditangani, selective mutism dapat terbawa hingga sang anak beranjak dewasa.

Penyebab selective mutism

Masalah psikologis yang tidak diobati dapat menjadi penyebab selective mutism
Selective mutism dapat disebabkan oleh gangguan kecemasan
Tidak ada penyebab tunggal dari selective mutism. Para peneliti masih berusaha untuk mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan selective mutism pada seseorang, seperti:
  • Gangguan kecemasan
  • Hubungan keluarga yang buruk
  • Masalah psikologis yang tidak diobati
  • Masalah harga diri (self-esteem)
  • Masalah untuk memroses suara
  • Gangguan bicara atau masalah bahasa, seperti gagap
  • Memiliki anggota keluarga yang juga mengidap gangguan kecemasan
  • Memiliki pengalaman traumatis.
Perlu diketahui, selective mutism dipercaya juga bisa diturunkan dari orangtua.

Cara mengatasi selective mutism

Selective mutism dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Namun ingat, semakin tua usia pengidap selective mutism, semakin lama juga proses penanganannya. Inilah pentingnya membawa anak dengan selective mutism ke dokter sedini mungkin.Selain itu, efektivitas dari penanganan selective mutism akan ditentukan oleh faktor-faktor lain, di antaranya:
  • Berapa lama selective mutism sudah diderita
  • Kesulitan berkomunikasi, belajar, dan gangguan kecemasan lain yang menyertai selective mutism pada anak
  • Kerja sama antara keluarga dan pihak-pihak terkait seperti sekolah.
Pengobatan selective mutism akan fokus untuk meredakan rasa cemas yang dirasakan oleh anak saat ingin berbicara, bukan memperbaiki cara anak berbicara.Untuk menangani masalah ini, berikut adalah beberapa cara mengatasi selective mutism yang bisa dilakukan secara medis.

1. Menciptakan lingkungan yang positif

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar berperan penting bagi anak dengan selective mutism. Maka dari itu, ciptakanlah lingkungan yang positif dengan mengikuti tahap-tahap di bawah ini:
  • Sebisa mungkin tidak menunjukkan rasa cemas pada anak dengan selective mutism
  • Meyakinkan anak dengan selective mutism bahwa mereka akan bisa berbicara saat dirinya sudah siap
  • Fokus untuk bersenang-senang dengan anak pendiam
  • Memuji segala pencapaian anak pendiam, misalnya saat ia berani berbicara dan bermain dengan teman-temannya
  • Jangan terlihat terkejut saat anak sudah mau berbicara, responslah layaknya Anda berbicara dengan anak lainnya.

2. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif dapat membantu anak dengan selective mutism untuk fokus terhadap bagaimana mereka berpikir tentang diri sendiri, lingkungan sekitarnya, dan orang lain.Untuk anak-anak, terapi perilaku kognitif dapat membekali anak dengan cara ampuh untuk menghadapi selective mutism. Terapis juga akan membantu anak untuk mengerti tentang gangguan kecemasan dan dampaknya pada tubuh serta perilaku.

3. Terapi perilaku

Terapi perilaku didesain untuk membantu pasien agar bisa membiasakan diri melakukan perilaku yang diinginkannya. Nantinya, pasien akan dibantu untuk mengganti kebiasaan buruk dengan yang baik.Tidak hanya itu, terapis juga akan membantu pasien untuk mengalahkan rasa takutnya secara bertahap.

4. Stimulus fading

Stimulus fading dilakukan dengan membantu pasien selective mutism untuk berbicara dengan orangtuanya, tanpa ada orang lain di sekitar.Setelah itu, akan ada orang asing yang masuk ke dalam ruangan dan ikut berbicara dengan pasien selective mutism. Secara perlahan, orangtua akan pergi meninggalkan ruangan untuk membiarkan si anak berbicara dengan orang asing tersebut.

5. Desensitisasi

Desensitisasi adalah teknik yang bisa membantu penderita selective mutism mengurangi sensitivitasnya terhadap respons orang lain yang baru mendengarkan suaranya. Teknik ini dapat dilakukan dengan mengirimkan pesan suara dan video.Jika penderita selective mutism menunjukkan respons positif saat menggunakan pesan suara dan video, nantinya ia akan dibantu untuk menggunakan percakapan telepon atau video secara langsung.

6. Obat-obatan

Beberapa anak yang sudah dewasa atau remaja bisa mengalami depresi akibat gangguan kecemasan. Jika ini kasusnya, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan.Dokter umumnya akan memberikan obat antidepresan untuk meredakan rasa cemas di dalam diri penderita selective mutism, terutama jika berbagai terapi tidak menunjukkan hasil positif.Meski demikian, obat-obatan tidak boleh menggantikan peran terapi dalam mengatasi selective mutism. Berbagai macam terapi, seperti terapi perilaku dan terapi perilaku kognitif, juga tetap dibutuhkan.

Catatan dari SehatQ

Selective mutism adalah gangguan kecemasan parah yang dapat membuat anak tidak bisa berbicara pada situasi sosial tertentu. Jika tidak segera ditangani, maka dampak buruknya dapat terasa hingga dewasa.Jika anak Anda menunjukkan gejala-gejala selective mutism, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang
tips parentingkesehatan mentalkesehatan anakgangguan kecemasanparenting stress
NHS. https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/selective-mutism/
Diakses pada 16 Maret 2021
Child Mind. https://childmind.org/guide/parents-guide-to-sm/
Diakses pada 16 Maret 2021
Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions---pediatrics/s/selective-mutism.html
Diakses pada 16 Maret 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait