Trauma healing terdiri dari beberapa metode untuk menangani penderita PTSD
Ilustrasi sesi trauma healing penderita PTSD

Trauma dapat disebabkan oleh kejadian-kejadian negatif yang berdampak buruk dan berlanjut pada stabilitas mental dan emosional korbannya. Beberapa kejadian yang dapat menimbulkan trauma, di antaranya:

  • Perkosaan
  • Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
  • Bencana alam
  • Penyakit atau cedera parah
  • Kematian orang yang disayangi
  • Menyaksikan kejadian kekerasan.

Trauma dapat menyebabkan post-traumatic stress disorder (PTSD) pada korbannya. PTSD adalah gangguan kesehatan mental yang muncul setelah seseorang mengalami kejadian yang menyebabkan trauma, contohnya seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Umumnya korban kerap merasa seakan mengalami kembali kejadian tersebut, terus teringat hingga mengalami mimpi buruk, dan menghindari hal yang berhubungan dengan kejadian traumatis tersebut. 

PTSD perlu diatasi dengan segera dan tepat, agar kondisi ini tidak semakin parah hingga mengganggu kelangsungan kehidupan korban. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menanganinya adalah dengan trauma healing.

Trauma healing adalah proses penyembuhan pascatrauma yang dilakukan agar seseorang dapat terus melanjutkan hidupnya tanpa bayang-bayang kejadian tersebut.

Setidaknya terdapat dua jenis trauma healing, yaitu yang berfokus pada trauma dan yang berfokus pada trauma. Berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai ragam proses trauma healing berdasarkan jenisnya.

Trauma healing yang berfokus pada kejadian

Proses penyembuhan trauma ini akan memusatkan ingatan korban kepada peristiwa traumatis tersebut. Misalnya saja dengan melakukan terapi pemaparan (exposure therapy) atau terapi pemrosesan kognitif (cognitive processing therapy). Berikut penjelasannya lengkapnya.

1. Exposure therapy

Exposure therapy atau terapi pemaparan adalah trauma healing yang sangat direkomendasikan untuk seseorang dengan PTSD.

Proses trauma healing yang satu ini berfokus pada mengubah struktur ketakutan yang ada di dalam pikiran sehingga korban tidak lagi bermasalah ketika melihat hal yang mengingatkan pada momen tersebut.

Pertama, korban akan diajak untuk mengakses ingatan terhadap hal yang membuatnya trauma. Baru kemudian korban perlahan akan diajarkan bahwa apa yang terjadi pada saat itu tidak ada kaitannya dengan apa yang ia lihat sekarang.

Proses ini akan mengajarkan korban untuk belajar menerima apa yang terjadi sehingga ia dapat melanjutkan hidupnya.

2. Cognitive behavioural therapy (CBT)

Cognitive behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif adalah jenis trauma healing yang bertujuan untuk membantu korban menghadapi trauma dengan mengubah cara mereka berpikir atau bertindak.

Proses ini akan menggunakan berbagai teknik psikologis yang dapat membantu korban dalam memahami apa yang telah terjadi. CBT umumnya akan berlangsung selama 8-12 pertemuan dan setiap sesi akan memakan waktu sekitar satu jam.

Saat pertemuan pertama dengan terapis, korban akan diajak untuk membicarakan mengenai kejadian traumatis yang menimpanya dengan detail. Sambil mendengarkan, terapis akan mencatat hal apa saja yang membuat korban sulit untuk keluar dari bayangan masa lalu.

Misalnya, korban menyalahkan dirinya karena pada saat terjadi bencana ia tidak sempat menolong ibunya. Terapis akan membantu korban untuk menerima dan memahami bahwa ada hal-hal yang di luar kuasanya sebagai manusia.

Trauma healing yang tidak berfokus pada kejadian

Proses penyembuhan yang satu ini bertujuan meredakan gejala PTSD dengan tanpa berfokus pada segala hal yang berkaitan dengan peristiwa traumatis yang dialaminya.

1. Eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR)

Meski tergolong baru, eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR) dipercaya mampu meredakan gejala yang dialami penderita PTSD.

Proses EMDR akan dilakukan dengan meminta korban untuk menceritakan kembali kejadian traumatis yang dialaminya sambil memerhatikan hal lain. Misalnya dengan memerhatikan gerak jari terapis atau hal lainnya.

Tujuannya adalah agar korban mampu memikirkan hal yang positif saat mengingat kejadian traumatis tersebut. Adapun lama prosesnya bisa memakan waktu hingga sekitar tiga bulan..

2. Stress inoculation training (SIT)

Trauma healing yang satu ini akan mengajarkan korban beberapa cara untuk menghilangkan stres dan menjadi lebih rileks. Misalnya dengan belajar teknik pernapasan, pijat, dan sebagainya.

Setelah mengikuti SIT atau stress inoculation training setelah sekitar tiga bulan, korban diharapkan lebih mampu menghadapi stres di kemudian hari.

Selain beberapa metode trauma healing di atas, dokter mungkin juga akan memberikan obat antidepresan kepada pasien PTSD dewasa. Obat dapat membantu korban untuk lebih tenang dan berhenti memikirkan kejadian tersebut.

Meski begitu, obat hanya diberikan pada pasien dengan kondisi tertentu. Misalnya saja, pasien tidak ingin melakukan perawatan psikologis yang berfokus pada trauma, pasien memiliki kondisi medis seperti depresi berat.

Obat juga mungkin menjadi pilihan jika pasien tidak merasakan manfaat dari perawatan atau proses tersebut dianggap tidak efektif karena adanya peristiwa traumatis yang masih terjadi.

Kecelakaan, bencana alam, dan peristiwa traumatis lainnya tentu dapat meninggalkan trauma mendalam bagi korban hingga mengakibatkan PTSD. Oleh karena itu, penting untuk segera membantu korban melalui fase tersebut dengan melakukan ragam trauma healing seperti di atas.

NCBI
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6224348/
Diakses 11 April 2020

Webmd
https://www.webmd.com/mental-health/what-are-treatments-for-posttraumatic-stress-disorder#2-5
Diakses 11 April 2020

Webmd
https://www.webmd.com/mental-health/emotional-trauma-18/emotional-trauma-ptsd
Diakses 11 april 2020

NHS
https://www.nhs.uk/conditions/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/treatment/
Diakses 11 April 2020

Artikel Terkait