Mengenal Penyebab Autisme dan Pilihan Terapi yang Dapat Dilakukan

(0)
08 Aug 2019|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Salah satu penyebab autisme adalah faktor genetikAnak autis memiliki kesulitan dalam berkomunikasi.
Tidak mudah untuk memahami perilaku anak yang menderita gangguan spektrum autisme (ASD) atau biasa dikenal dengan autis. Namun, orangtua bisa mencari tahu penyebab autis dan gejala yang menyertainya agar dapat mencari terapi yang tepat bagi anak.Autisme adalah kelainan dalam tumbuh kembang anak yang memengaruhi kemampuannya berkomunikasi dan berperilaku. Dokter bisa mendiagnosis anak menderita ASD dalam usia berapa pun, tapi gejala autisme sudah bisa terlihat dalam 2 tahun pertama usianya.

Apa saja gejala anak dengan gangguan spektrum autisme?

Gejala autisme yang muncul pada anak dapat beragam. Namun, aspek yang paling terdampak biasanya adalah kemampuannya berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, misalnya:
  • Tidak mengoceh (babbling) atau menggumam (cooing) saat ia masih bayi
  • Tidak merespons ketika namanya dipanggil
  • Berbicara dengan nada suara yang tidak biasa, misalnya suara mirip robot
  • Menghindari kontak mata
  • Mengalami keterlambatan berbicara
  • Kesulitan menjaga pembicaraan dengan orang lain
  • Sering mengulang frase tertentu
  • Kesulitan memahami perasaan orang lain dan tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri. 
Karena anak autisme menderita kelainan pola komunikasi, mereka juga akan menunjukkan pola perilaku yang tergolong aneh secara berulang, seperti:
  • Memiliki ketertarikan yang berlebihan terhadap topik tertentu. Misalnya, anak yang tertarik dengan topik mobil akan membicarakan topik itu dengan intens dan terus-menerus.
  • Kerap disibukkan dengan suatu objek tertentu, misalnya mainan atau peralatan rumah tangga. 
  • Melakukan suatu gerakan berulang-ulang, misalnya mengayunkan badan ke depan dan ke belakang atau menyala-matikan tombol saklar.
  • Menyusun atau merapikan barang-barang dengan pola tertentu. Misalnya, membariskan mobil-mobilan berdasarkan gradasi warnanya.
Anak dengan autisme tidak tahan ketika menjalani rutinitas yang membuatnya kelimpungan. Hal itu bisa membuatnya marah, frustrasi, stres, atau sedih.Di sisi lain, sekitar 1 dari 10 anak yang menderita autisme juga memperlihatkan adanya sindrom savant. Sindrom ini terjadi ketika seseorang memperlihatkan kemampuan luar biasa di bidang tertentu, misalnya memainkan musik dengan sempurna, mampu menyelesaikan masalah matematika yang sangat kompleks, maupun memiliki pencapaian akademis yang sempurna.Gejala autisme ini biasanya muncul dalam 3 tahun pertama usia anak, bahkan sejak lahir. Namun, tidak jarang juga anak memperlihatkan fase tumbuh kembang normal di awal, namun gejala autisme baru terlihat saat usianya menginjak 18-36 bulan.

Apa penyebab autisme pada anak?

Penyebab autis pada anak tidak diketahui secara pasti. Hingga saat ini, para peneliti menduga bahwa pada anak dengan autisme, ada kerusakan di bagian otak yang menginterpretasikan masalah dan memproses bahasa.Terdapat beberapa faktor risiko yang diduga menyebabkan autisme, yaitu:

1. Genetik

Menurut riset yang ada, autisme dapat menurun dalam keluarga. Artinya, faktor genetik bisa menjadi penyebab autis. Adanya mutasi pada gen tertentu dan kelainan genetik seperti sindrom fragile x dikaitkan kepada peningkatan risiko seorang anak mempunyai autisme.

2. Faktor lingkungan

Sebagian riset menunjukkan adanya hubungan antara autisme dengan paparan terhadap logam berat atau pestisida.

3. Usia orangtua saat kehamilan

Ibu hamil di usia yang tidak lagi muda, apalagi jika sang ayah juga sudah berusia lanjut.

4. Konsumsi obat atau zat kimia saat ibu hamil

Ibu hamil yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, misalnya obat antikejang, obat jenis asam valproat (Depakene) atau thalidomide (Thalomid), dan mengonsumsi alkohol.

5. Komplikasi pada kehamilan

Risiko autisme juga lebih tinggi pada ibu hamil dengan diabetes dan obesitas, bayi yang lahir dengan penyakit bawaan yang tidak segera ditangani, misalnya kelainan metabolisme yang disebut phenylketonuria (PKU) dan rubella alias campak Jerman, serta bayi yang lahir prematur atau berat lahir yang rendah.Beberapa pihak juga mengklaim vaksin, seperti MMR (untuk mengatasi virus campak, gondok, dan rubella), merupakan penyebab autis. Klaim ini adalah hoaks. Sejak dugaan ini muncul, telah banyak riset mendalam yang dilakukan dan semuanya jelas menyimpulkan bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme.Anggapan lain yang juga keliru adalah soal pola asuh. Beredar kabar bahwa kesalahan pola asuh bisa menjadi penyebab autis, tapi hal ini juga tidak terbukti kebenarannya.

Apakah autisme bisa diobati?

Ketika Anda mencurigai anak menderita autisme, jangan takut untuk memeriksakannya ke dokter. Penanganan dini sangat diperlukan untuk mengurangi kesulitan komunikasi yang dideritanya, serta mempelajari kemampuan baru dan menggunakan kelebihan yang dimilikinya dengan positif.Tumbuh kembang anak autis harus selalu dipantau oleh dokter atau tenaga medis yang kompeten. Anak dengan autis mungkin akan dirujuk ke dokter yang khusus menangani masalah perilaku, psikologis, pendidikan, maupun pembangunan kemampuan. Program ini biasanya dirancang secara struktural dan intensif, yang juga melibatkan orangtua, kakak/adik, dan anggota keluarga lainnya.Program terapi untuk anak autis, di antaranya:
  • Mempelajari berbagai kemampuan dasar yang bertujuan membuatnya mampu mandiri
  • Mengurangi perilaku memberontak
  • Meningkatkan atau mengoptimalkan kemampuan fisiknya
  • Membantunya mempelajari skill sosial, komunikasi, dan bahasa.
Selain terapi, dokter juga akan meresepkan obat untuk mengurangi masalah mental, seperti sering marah, agresif, perilaku berulang, hiperaktif, masalah pada fokus, serta rasa cemas dan depresi. Yang terpenting, setiap anak mungkin membutuhkan metode penyembuhan yang berbeda ketimbang anak lainnya.
gejala autisautisme
National Institute of Mental Health. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/autism-spectrum-disorders-asd/index.shtml
Diakses pada 8 Agustus 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323758.php
Diakses pada 8 Agustus 2019
Autism speaks. https://www.autismspeaks.org/what-causes-autism
Diakses pada 31 Maret 2020
WebMD. https://www.webmd.com/brain/autism/understanding-autism-basics#1
Diakses pada 31 Maret 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/autism#causes
Diakses pada 31 Maret 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait