Mengenal Pengertian Maskulin dan Toxic Masculinity

(0)
12 Jan 2021|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Salah satu karakteristik sifat maskulin adalah bertenaga kuatSeseorang dianggap maskulin jika memiliki otot dan kuat
Secara harfiah, maskulin adalah kualitas atau penampilan yang secara tradisional dikaitkan dengan laki-laki. Maskulin juga dianggap sebagai konsep abstrak yang dinilai melalui sejumlah karakteristik berdasarkan gender.Misalnya, beberapa karakteristik sifat yang dianggap sebagai maskulin adalah bertenaga kuat, mandiri, berani, agresif, hingga kompetitif. Sebaliknya, sifat lemah lembut, sensitif, penyayang, dan sebagainya, dianggap berlawanan dengan karakteristik maskulin.

Ciri-ciri laki-laki maskulin

Seorang laki-laki akan dianggap maskulin jika memiliki sejumlah karakteristik sifat yang memenuhi ‘standar’ kelaki-lakian. Berikut adalah sejumlah hal yang dipercaya merepresentasikan maskulinitas pada laki-laki:
  • Kekuatan
  • Kekuasaan
  • Agresif
  • Aksi
  • Kendali
  • Kemandirian
  • Kepuasan diri
  • Kesetiakawanan.
Akan tetapi, karakteristik sifat di atas dianggap usang karena kenyataannya tidak semua laki-laki memilikinya. Seorang laki-laki juga bisa memiliki sifat yang dianggap sebagai feminim, seperti lemah lembut atau sensitif. Begitu pula pada wanita, yang bisa memiliki sejumlah karakteristik yang dianggap sebagai maskulin.

Toxic masculinity

Akhir-akhir ini, istilah toxic masculinity sering digaungkan di media sosial. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan aspek negatif dari terlalu mengagung-agungkan maskulinitas di tengah masyarakat dan bertindak dengan cara yang ekstrem.Dalam toxic masculinity, laki-laki yang dituntut harus memiliki dan menunjukkan maskulinitas. Seseorang akan dianggap ‘kurang jantan’ jika tidak memperlihatkan aspek-aspek yang dianggap maskulin, seperti kekuatan, kurangnya emosi, mementingkan kepuasan diri sendiri, dominan, dan kejantanan secara seksual.Bahaya dari toxic masculinity adalah dorongan untuk memenuhi aspek-aspek tersebut sehingga pelakunya berpotensi melakukan sesuatu yang membahayakan. Hal tersebut mungkin dilakukan untuk menghindari penghakiman dari kegagalan memenuhi tuntutan memiliki sifat maskulin.Pada akhirnya, seorang laki-laki dapat menunjukkan perilaku yang berpotensi merugikan orang lain atau dirinya sendiri, seperti:
  • Agresif
  • Tidak menunjukkan emosi atau menekan emosi yang dirasakan
  • Sangat kompetitif
  • Merasa perlu mendominasi atau mengontrol orang lain
  • Kecenderungan pada kekerasan atau mengagungkan kekerasan
  • Isolasi
  • Tidak memiliki empati
  • Merasa berhak atas sesuatu
  • Tangguh
  • Chauvinisme dan seksisme.

Contoh toxic masculinity

Beberapa contoh dari toxic masculinity yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa:
  • Mengejek laki-laki yang menangis atau menyukai warna merah jambu dengan sebutan banci.
  • Pembenaran pada perbuatan negatif, seperti berselingkuh atau mata keranjang, sebagai hal yang wajar dari seorang laki-laki.
Contoh di atas memperlihatkan bagaimana budaya dan masyarakat secara tradisional memandang standar maskulinitas seorang laki-laki. Hal ini dianggap berbahaya karena mendorong sikap dan perilaku negatif. Toxic masculinity akan membuat seseorang memelihara sikap negatif atas nama maskulinitas.Tidak hanya terbatas pada sifat tertentu saja, toxic masculinity juga mengembangkan stereotip mengenai profesi atau kebiasaan yang dianggap maskulin, seperti tentara, pebisnis, atlet, pekerja lapangan, dan sebagainya.Sementara itu, beberapa contoh profesi yang sering dianggap tidak maskulin adalah penari, pekerja salon, sekretaris, perawat, dan sebagainya. Sebuah studi menunjukkan bahwa sejak lama, laki-laki yang menjalani profesi sebagai perawat, menghadapi sikap negatif dari orang-orang di sekitarnya.Hal tersebut karena profesi perawat lebih identik dengan empati, kasih sayang, perhatian, ketelatenan, serta sifat lemah lembut yang dianggap berlawanan dengan maskulinitas. Sama halnya dengan profesi penari tradisional yang lebih identik dengan keanggunan dan keindahan sehingga tidak dianggap maskulin.  

Bahaya toxic masculinity

Toxic masculinity dianggap berbahaya karena dapat membatasi perkembangan seseorang dan definisi tentang bagaimana menjadi laki-laki yang sebenarnya. Hal ini dapat menimbulkan konflik pada diri seorang laki-laki dan lingkungan di sekitarnya.Ancaman gangguan kesehatan mental juga bisa terjadi karena toxic masculinity. Tepatnya pada laki-laki yang tidak dapat memenuhi standar maskulinitas tradisional, tapi merasa memiliki keharusan atau bahkan dituntut untuk memenuhi karakteristik tersebut.Beberapa gangguan kesehatan mental yang bisa terjadi pada anak laki-laki atau laki-laki dewasa yang dipaksa untuk memiliki sifat maskulin adalah depresi, stres, gangguan citra tubuh, penyalahgunaan zat terlarang, hingga fungsi sosial yang buruk.Lebih jauh lagi, stereotip tentang laki-laki tidak boleh terlihat lemah dan emosional dapat membuat seseorang yang mengalami tekanan mental lebih memilih memendam masalah ketimbang mencari bantuan. Sehingga, gangguan mental yang dialaminya bisa jadi semakin parah.Jika Anda punya pertanyaan seputar masalah kesehatan pria, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
kesehatan pria
Cambridge Dictionary. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/masculine
Diakses 30 Desember 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-masculinity
Diakses 30 Desember 2020
Sage Pub Journals. https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/1557988311404925
Diakses 30 Desember 2020
https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-masculinity-5075107
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait