Mengenal Obat Penghilang Rasa Sakit dan Cara Kerjanya

Obat penghilang rasa sakit harus dikonsumsi sesuai aturan dan tidak boleh melebihi dosis anjuran
Obat penghilang rasa sakit ada yang ringan, namun ada juga yang membuat kecanduan

Obat penghilang rasa sakit, memang bisa jadi solusi praktis dan cepat untuk meredakan berbagai keluhan mulai dari sakit gigi, pusing, hingga pegal-pegal. Namun ingat, obat penghilang rasa sakit bukanlah obat sapu jagad yang bisa menyembuhkan segala.

Penggunaan obat penghilang rasa sakit harus disesuaikan dengan kondisi Anda. Belum lagi, beberapa obat tersebut juga dapat menimbulkan serangkaian efek samping apabila digunakan sembarangan.

Anda perlu mengenal lebih jauh tentang obat penghilang rasa sakit. Mulai dari jenis, cara kerja, hingga efek samping, agar dapat menggunakannya secara tepat.

Obat penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di apotek

Obat penghilang rasa sakit, bisa juga disebut sebagai analgesik dan umumnya berguna sebagai pereda gejala. Sering kali, penyakit yang dialami tidak dapat benar-benar sembuh dengan penggunaan analgesik, sebelum penyebabnya benar-benar diketahui.

Penggunaan obat penghilang rasa sakit yang bisa dibeli bebas, tentu diperbolehkan. Namun, apabila konsumsi obat ini tidak juga meredakan gangguan kesehatan yang Anda alami, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Secara garis besar, ada dua jenis analgesik utama, yaitu:

1. Paracetamol

Paracetamol merupakan obat penghilang rasa sakit yang paling sering digunakan. Obat ini bekerja langsung di bagian otak, yang bertugas menerima pesan impuls rasa sakit. Bagian otak yang sama, juga bekerja untuk mengatur suhu tubuh dan menurunkan demam.

Meski mengurangi rasa sakit, paracetamol tidak dapat meredakan peradangan atau inflamasi yang terjadi di tubuh. Sehingga, untuk beberapa jenis nyeri yang disertai inflamasi, jaringan seperti sakit gigi, obat ini mungkin kurang ideal.

Keunggulan paracetamol adalah pada efek sampingnya yang lebih sedikit. Sehingga, obat ini aman untuk dikonsumsi anak-anak maupun untuk penggunaan jangka panjang.

2. Obat golongan anti-inflamasi non-steroidal (AINS)

Obat penghilang rasa sakit dari golongan AINS, juga dapat meredakan inflamasi atau peradangan jaringan. Obat dari golongan ini, dapat menjadi solusi untuk beberapa kondisi, seperti:

  • Demam
  • Kram menstruasi
  • Nyeri otot dan nyeri sendi
  • Pembengkakan akibat cedera atau sakit gigi

Beberapa obat golongan AINS yang bisa Anda dapatkan di apotek, di antaranya:

Obat penghilang rasa sakit yang perlu resep dokter

Ada beberapa jenis obat penghilang rasa sakit, yang penggunaannya memerlukan resep dari dokter. Obat tersebut bisa masuk dalam golongan opioid, bisa juga tidak. Obat jenis AINS pun ada jenis tertentu yang harus diberikan dengan resep.

Penggunaan obat opioid benar-benar perlu diperhatikan. Opioid adalah golongan obat yang sangat kuat, dan dapat menyebabkan kecanduan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Jenis-jenis obat penghilang rasa sakit yang masuk ke dalam golongan obat opioid di antaranya:

• Morfin

Morfin umumnya digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit, sebelum dan sesudah prosedur operasi besar.

• Oksikodon

Obat ini cukup sering diresepkan untuk mengatasi rasa sakit tingkat sedang hingga berat.

• Kodein

Kodein sering digunakan sebagai obat yang dicampurkan bersama paracetamol atau obat penghilang rasa sakit non-opioid lainnya. Kodein dapat diresepkan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang.

• Hidrokodon

Sama seperti kodein, hidrokodon juga seringkali digunakan sebagai obat yang dicampurkan bersama paracetamol atau obat non-opioid lainnya. Obat ini digunakan untuk mengatasi rasa sakit tingkat sedang hingga berat.

Obat golongan opioid dijual dengan peraturan yang sangat ketat. Resep asli dalam bentuk fisik, harus disertakan dalam pembelian obat ini. Pembelian dengan salinan resep atau foto resep, tidak diizinkan.

Cara kerja obat penghilang rasa sakit

Cara kerja obat penghilang rasa sakit, akan berbeda-beda, tergantung dari jenis dan golongannya.

1. Paracetamol

Seperti yang telah disebutkan di atas, paracetamol bekerja langsung di bagian otak, yang mengatur persepsi nyeri serta suhu tubuh. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenasi atau COX di otak dan tulang belakang.
COX adalah enzim yang membantu tubuh memproduksi senyawa kimia yang dinamakan prostaglandin.

Prostaglandin, berperan dalam pembentukan rasa nyeri peradangan pada jaringan yang rusak akibat cedera atau penyakit tertentu.

Sehingga, jika produksi prostaglandin terganggu, maka rasa nyeri yang ada di tubuh pun akan berkurang. Namun, paracetamol hanya bisa meredakan nyeri dan tidak dapat meredakan inflamasi.

2. Golongan AINS

Obat golongan AINS juga bekerja dengan cara menghambat enzi COX di otak, sehingga produksi prostaglandin bisa terganggu. Cakupan efek obat golongan AINS lebih luas dibandingkan parasetamiol, sehingga dapat mengatasi nyeri sekaligus inflamasi jaringan.

3. Obat golongan opioid

Opioid bekerja dengan cara mengikat reseptor tertentu di sistem saraf pusat, usus, dan bagian lain di tubuh. Selain meredakan nyeri, opioid juga akan mengubah reaksi terhadap rasa sakit, dan bahkan meningkatkan toleransi Anda terhadap rasa sakit.

Peringatan, risiko dan efek samping obat penghilang rasa sakit

Obat penghilang rasa sakit harus digunakan sesuai instruksi dari kemasan, maupun rekomendasi langsung dari dokter. Jangan mengubah dosis konsumsi obat tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Selain itu, obat pereda rasa sakit dengan resep dokter, tidak boleh digunakan oleh orang lain yang tidak menerima pemeriksaan dokter. Meski gejala dirasa mirip, kondisi maupun diagnosis penyakit Anda, belum tentu sama dengan orang yang menerima obat resep tersebut.

Berikut ini peringatan, risiko dan efek samping yang mungkin terjadi pada obat penghilang rasa sakit.

1. Paracetamol

  • Mengonsumsi dosis lebih tinggi dari yang dianjurkan, tidak akan mempercepat penyembuhan dan berisiko berbahaya bagi kesehatan.

  • Terlalu banyak mengonsumsi paracetamol, dapat menyebabkan kerusakan hati dan kematian. Risiko kerusakan hati akan meningkat pada orang yang minum alkohol, dua hingga tiga gelas per hari.

  • Berhati-hatilah saat memberikan paracetamol pada anak. Pastikan dosis yang diberikan, sudah sesuai untuk anak-anak.

2. AINS

  • Terlalu banyak mengonsumsi obat penghilang rasa sakit golongan AINS, bisa menyebabkan perdarahan di lambung. Risiko akan meningkat pada lansia berusia 60 tahun ke atas, orang yang mengonsumsi obat pengecer darah serta steroid, dan yang memiliki riwayat perdarahan lainnya.

  • Penggunaan AINS yang tidak sesuai juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Risiko akan semakin tinggi pada orang yang berusia 60 tahun ke atas, mengonsumsi diuretik, dan memiliki riwayat darah tinggi.

3. Opioid

  • Penggunaan opioid dapat menyebabkan kantuk. Jangan menggunakan opioid di luar dosis yang diresepkan, karena dapat menyebabkan kecanduan, bahkan overdosis, hingga kematian.

  • Opioid dosis tinggi juga bisa menyebabkan gangguan fisik lain seperti mulut menjadi kering, konstipasi, tekanan darah rendah, halusinasi, dan pingsan.

Mengonsumsi obat penghilang rasa sakit perlu dilakukan secara tepat, agar hasilnya pun efektif dan manjur. Jangan menyepelekan aturan pakai, meski obat dapat dibeli dengan bebas di apotek.

Segera hentikan pemakaian, apabila terjadi reaksi alergi seperti gatal dan sesak napas. Anda juga perlu ingat, bahwa pemeriksaan ke dokter, tetap merupakan langkah paling aman dan efektif, untuk menyembuhkan penyakit.

Family Doctor. https://familydoctor.org/pain-relievers-understanding-your-otc-options/?adfree=true
Diakses pada 27 September 2019

U.S Food & Drug Administration. https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/guide-safe-use-pain-medicine
Diakses pada 27 September 2019

Patient. https://patient.info/treatment-medication/painkillers
Diakses pada 27 September 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed