Mengenal Obat Bebas Terbatas, Jenis, dan Pedoman Penggunaannya

(0)
04 Nov 2019|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Meski bisa dibeli dengan mudah, penggunaan obat bebas terbatas tidak boleh sembaranganKonsumsi obat bebas terbatas tidak boleh sembarangan
Apakah Anda pernah memperhatikan bahwa pada kemasan obat tertentu terdapat logo lingkaran berwarna biru dengan tepi hitam? Ya, logo itu menandakan bahwa obat tersebut merupakan golongan obat bebas terbatas.Obat bebas terbatas (dahulu disebut obat golongan W) sebetulnya merupakan golongan obat keras, namun jenis obat ini masih bisa dijual bebas di apotek atau toko obat, dan dapat Anda beli tanpa resep dokter. Hanya saja, pemakaian obat ini harus sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan agar tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh Anda.Obat bebas terbatas hanyalah satu dari empat penggolongan obat yang terdapat di Indonesia. Ada pula golongan obat bebas dengan tanda lingkaran hijau tepi hitam, obat keras dan psikotropika (huruf K dalam lingkaran merah tepi hitam), serta narkotika (tanda silang merah dalam lingkaran putih tepi merah).

Jenis obat bebas terbatas sesuai jenisnya

Selain lingkaran warna biru tepi hitam, Anda juga akan menemukan tanda peringatan berbentuk persegi panjang berukuran 5x2 cm berwarna hitam. Seperti namanya, tanda peringatan ini memuat peringatan yang harus Anda perhatikan sebelum mengonsumsi obat bebas terbatas.Terdapat enam jenis peringatan obat bebas terbatas ini. Berikut peringatan tersebut dan golongan obat yang termasuk di dalamnya:
  • P1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan memakainya.
Contoh obat bebas terbatas: tablet Decolgen, Neozep. Paramex.
  • P2: Awas! Obat keras. Hanya untuk kumur, Jangan ditelan.
Contoh obat bebas terbatas: obat kumur Listerine dan Betadine.
  • P3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar badan.
Contoh bebas terbatas: Kalpanax, Betadine solution.
  • P4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
Contoh bebas terbatas: rokok antiasma.
  • P5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
Contoh bebas terbatas: Rivanol kompres.
  • P6: Awas! Obat keras. Obat wasir. Jangan ditelan.
Contoh bebas terbatas: Anusol supositoria.Untuk memastikan penggunaan obat bebas terbatas yang aman, Kementerian Kesehatan RI melalui Permenkes nomor 919/Menkes/Per/X/1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  • Tidak untuk diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun atau orang tua yang berusia di atas 65 tahun.
  • Pengobatan sendiri yang tidak mengandung risiko kelanjutan penyakit.
  • Penggunaannya tidak memerlukan cara dan alat khusus yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis.
  • Obat bebas terbatas digunakan untuk mengatasi penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
  • Obat tersebut berkhasiat dan aman bila digunakan untuk pengobatan sendiri.

Cara aman menggunakan obat bebas terbatas

Obat yang dijual bebas di apotek atau toko obat seperti golongan obat bebas terbatas ini biasanya hanya digunakan untuk mengatasi penyakit ringan, misalnya gatal-gatal, luka luar, maupun sakit gigi. Anda juga dapat bertanya ke apoteker mengenai obat bebas terbatas untuk mengatasi sakit kepala maupun alergi.Akan tetapi, apabila kondisi penyakit semakin parah maka sebaiknya ke dokter, dan tidak dianjurkan untuk mencoba menggabungkan beberapa obat secara sembarang walaupun berlabel biru.Meski demikian, karena ini merupakan obat keras yang dijual bebas, penting bagi Anda untuk membaca sifat dan cara pemakaian obat pada etiket, brosur, atau kemasan obat agar penggunaannya tepat dan aman. Pastikan juga obat tersebut sudah memiliki izin edar yang sah dan belum kadaluarsa.Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan agar aman dalam menggunakan obat bebas terbatas:
  • Selalu ikuti instruksi penggunaan yang tertera pada kemasan, etiket, atau brosur obat.

  • Ketahui kandungan yang terdapat dalam obat, apalagi jika Anda memiliki alergi terhadap obat tertentu.

  • Berikan obat yang benar dengan dosis yang tepat karena merek obat yang sama bisa memiliki kandungan obat berbeda (misalnya obat untuk bayi, balita, dan dewasa).

  • Tanyakan kepada apoteker atau dokter mengenai makanan atau obat yang boleh dikonsumsi berbarengan dengan obat bebas terbatas yang Anda gunakan.

  • Gunakan alat yang disertakan bersamaan dengan obat. Jangan gunakan sendok dapur untuk memberi obat minum.

  • Simpan di tempat yang tepat. Tanyakan kepada apoteker mengenai penyimpanan obat sisa sesuai jenisnya, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Jika Anda sedang hamil, sebaiknya jangan mengonsumsi obat bebas terbatas karena banyak jenis obat ini yang tidak aman bagi janin. Begitu pula jika Anda menderita penyakit tertentu, misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi.Anda juga berpotensi overdosis saat mengonsumsi obat bebas terbatas. Oleh karena itu, Jika penyakit yang dialami tidak kunjung sembuh beberapa hari setelah penggunaan obat bebas terbatas ini, hentikan pemakaian dan segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter.
minum obatobat bebas terbatas
Academia. https://www.academia.edu/32140699/PEDOMAN_PENGGUNAAN_OBAT_BEBAS_DAN_BEBAS_TERBATAS
Diakses pada 2 November 2019
Academia. https://www.academia.edu/15627196/Obat_dan_Penggolongannya
Diakses pada 2 November 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/overthecountermedicines.html
Diakses pada 2 November 2019
FDA. https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/ten-tips-prevent-accidental-overdose
Diakses pada 2 November 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait