Mengenal Metamizole Sodium, Obat Nyeri yang Sempat Dilarang Beredar


Metamizole adalah obat golongan NSAID yang dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan demam. Efek samping obat ini dianggap berbahaya, sehingga di beberapa negara, penggunaannya dilarang.

0,0
04 Dec 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Metamizole bisa meredakan nyeri dan demam, namun efek sampingnya berbahayaMetamizole adalah obat pereda nyeri dan demam
Metamizole atau yang bisa juga disebut sebagai dypirone adalah obat antinyeri dan antiradang yang dapat digunakan untuk meredakan sakit kepala, sakit gigi, hingga demam.Di beberapa negara, obat ini sudah dilarang beredar karena efek sampingnya dinilai terlalu berat. Namun masih ada juga negara yang menggunakan obat ini sebagai pilihan karena kemampuannya untuk mengilangkan nyeri dan menurunkan panas dianggap baik.

Kegunaan obat metamizole

Metamizole adalah obat yang masuk ke dalam golongan antiinflamasi non-steroid (AINS) dan dapat digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga parah, seperti:
  • Sakit kepala
  • Migrain
  • Sakit gigi
  • Nyeri pascaoperasi
  • Nyeri pada penderita kanker
  • Rasa sakit di sendi dan otot
Obat ini juga bisa digunakan untuk mengatasi demam. Namun, metamizole biasanya menjadi pilihan terakhir setelah obat yang lain benar-benar tidak bisa menurunkan suhu tubuh.Beberapa negara melarang peredaran obat ini. Namun tetap ada sejumlah negara termasuk Indonesia yang masih menggunakan metamizole. Di sini, metamizole bisa didapatkan melalui resep dokter maupun obat bebas.Menurut sebuah jurnal kefarmasian, saat ini di Indonesia tersedia 66 jenis obat metamizole berbagai merek dan sediaan. Sebanyak 29 di antaranya adalah obat tunggal, sementara 37 lainnya adalah sediaan kombinasi dengan bahan lainnya.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi metamizole

Tidak semua orang bisa mengonsumsi metamizole. Jadi jika dokter meresepkannya, pastikan Anda telah menceritakan dengan lengkap riwayat kesehatan Anda. Berikut ini peringatan yang harus Anda perhatikan sebelum mengonsumsi metamizole.

1. Jangan konsumsi metamizole jika memiliki kondisi ini

Perlu diketahui, metamizole tidak disarankan untuk orang dengan
  • Riwayat alergi terhadap obat golongan AINS, seperti ibuprofen dan diclofenac
  • Riwayat alergi saat mengonsumsi paracetamol
  • Riwayat kelainan darah, seperti berkurangnya sel darah merah maupun sel darah putih di tubuh
  • Riwayat porfiria
  • Usia kurang dari 3 bulan dan memiliki berat badan di bawah 5 kg (kecuali jika memang diresepkan oleh dokter)
  • Sedang hamil atau berencana hamil
  • Sedang menyusui
Apabila Anda baru sadar sedang hamil ketika menjalani pengobatan menggunakan metamizole, segera hubungi dokter untuk mendapatkan obat alternatif yang lebih aman.

2. Hati-hati jika mengonsumsi metamizole dengan obat lain

Mengonsumsi metamizole bersamaan dengan obat lain berisiko menimbulkan interaksi obat. Artinya, kandungan yang ada di dalam obat-obatan tersebut bisa menyebabkan efek obat berkurang atau peningkatan risiko munculnya efek samping.Beritahukan kepada dokter yang meresepkan metamizole apabila saat ini Anda sedang mengonsumsi obat-obatan di bawah ini.
  • Obat-obatan NSAID lainnya seperti aspirin dan phenylbutazone
  • Obat pengencer darah, seperti warfarin
  • Obat-obatan untuk mengatasi gangguan mood, seperti chlorpromazine, moclobemide, dan selegiline
  • Pil KB
  • Obat asam urat seperti allopurinol
  • Obat kejang seperti fenitoin
  • Obat tidur seperti glutethimide
Jenis obat yang disebutkan di atas belum mencakup semua obat yang bisa berinteraksi dengan metamizole. Oleh karena itu apabila saat ini Anda sedang mengonsumsi obat apapun, termasuk yang tidak disebutkan di atas, tetap lah memberitahukannya kepada dokter.Baca Juga: Jenis-jenis Obat Pereda Nyeri yang Ampuh dan Aman Dikonsumsi

Kontroversi efek samping obat metamizole

Penggunaan metamizole sudah dilarang di Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan sekitar 30 negara lainnya. Sebab, efek samping obat ini dinilai lebih besar dari manfaat yang bisa didapatkan.Penggunaan metamizole sejauh ini sudah dikaitkan dengan munculnya beberapa efek samping berbahaya, seperti:
  • Penurunan jumlah sel darah putih granulosit, yang berperan dalam kerja sistem imun (agranulocytosis)
  • Anemia aplastik
  • Anafilaksis
  • Reaksi kulit parah yang ditandai dengan pengelupasan, ruam, nyeri, hingga bengkak, yang disebut sebagai toxic epidermal nekrolisis (TEN)
  • Gagal ginjal
  • Perdarahan saluran cerna atas
  • Porfiria akut atau kelebihan kadar porfirin di tubuh yang dapat menyebabkan gangguan di saraf.
Metamizole yang dikonsumsi oleh ibu hamil juga dinilai berpotensi meningkatkan risiko bayi yang dikandungnya mengalami leukimia di kemudian hari.

Efek samping paling berbahaya dari metamizole

Di antara semua efek samping tersebut, anemia aplastik serta agranulocytosis lah yang dianggap paling berbahaya. Agranulocytosis memang salah satu efek samping yang paling sering muncul.

1. Anemia aplastik

Anemia aplastik adalah kelainan darah berbahaya yang terjadi saat sumsum tulang kita tidak bisa memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup. Kondisi ini bisa memicu gejala ringan seperti pusing dan lemas, hingga yang parah seperti gagal jantung.

2. Agranylocytosis

Sementara itu, agranylocytosis terjadi akibat kurangnya jumlah granulosit atau yang sering juga disebut sebagai neutrofil dalam tubuh.Granulosit adalah bagian dari sel darah putih yang berperan penting untuk sistem imun, sehingga jika jumlahnya kurang, Anda akan jadi lebih mudah terkena infeksi maupun penyakit kronis berbahaya.

Catatan dari SehatQ

Perlu diketahui, tidak semua orang yang pernah mengonsumsi metamizole akan mengalami efek samping di atas. Namun tentu kemungkinan efek samping itu tidak dapat dikesampingkan.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang penggunaan obat metamizole di Indonesia, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
antiinflamasi nonsteroid (nsaid)minum obatobat bebas terbatas
Columbian Journal of Anethesiology. https://journals.lww.com/rca/fulltext/2019/06000/is_it_time_to_restrict_the_clinical_use_of.1.aspx?
Diakses pada 23 November 2020
Hospital Pharmacology Journal. https://www.hophonline.org/wp-content/uploads/2019/01/HOPH-2018_53694-704-4.pdf
Diakses pada 23 November 2020
MIMS. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/metamizole/patientmedicine/Metamizole%2B-%2BOral
Diakses pada 23 November 2020
Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/236230925_Metamizole_A_Review_Profile_of_a_Well-Known_Forgotten_Drug_Part_II_Clinical_Profile
Diakses pada 23 November 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15262-agranulocytosis
Diakses pada 23 November 2020
Mayo Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15262-agranulocytosis
Diakses pada 23 November 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/porphyria/symptoms-causes/syc-20356066
Diakses pada 23 November 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/aplasticanemia.html
Diakses pada 23 November 2020
Jurnal Universitas Gadjah Mada. https://jurnal.ugm.ac.id/jmpf/article/view/29379/17537
Diakses pada 23 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait