Mengenal Marasmus, Malnutrisi pada Anak yang Mengancam Nyawa

Gejala marasmus yang paling mudah tampak adalah kondisi kurus hingga tulang rusuk terlihat
Kondisi sangat kurus hingga tulang rusuk terlihat bisa menjadi salah satu gejala marasmus

Tubuh manusia membutuhkan protein, kalori, dan nutrisi untuk dapat berfungsi dengan baik. Kalori diperlukan sebagai sumber energi, sedangkan protein juga dibutuhkan dalam jumlah besar untuk regenerasi sel-sel tubuh yang rusak.

Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, kekurangan gizi atau malnutrisi dapat terjadi. Salah satunya adalah malnutrisi energi protein atau kurang energi protein (KEP).

Apa itu KEP?

KEP terjadi ketika tubuh kekurangan kalori dan protein dalam jangka waktu lama. Kondisi kurang energi protein ini lebih sering dialami oleh anak-anak di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Salah satu jenis KEP yang berat adalah marasmus. Tanpa kalori dan protein yang cukup, energi dalam tubuh akan berada dalam kadar yang sangat rendah dan fungsi vital tubuh terganggu.

Apabila dibiarkan, marasmus bisa mengancam nyawa. Oleh karena itu, deteksi cepat dan penanganan yang tepat diperlukan bagi pasien.

Marasmus sebagai salah satu KEP

Marasmus adalah salah satu jenis keadaan malnutrisi berat yang ditandai dengan hilangnya massa lemak tubuh dan jaringan otot.  Akibatnya, indeks massa tubuh menjadi sangat rendah. Anak dengan marasmus akan mengalami tanda-tanda sebagai berikut:

  • Tampak sangat kurus hingga tulang rusuk terlihat
  • ehilangan lapisan lemak subkutan yang terdapat di bawah kulit, sehingga tulangnya akan lebih tampak menonjol
  • Kulit kering
  • Rambut yang rapuh
  • Diare kronis
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Disabilitas intelektual
  • Pertumbuhan yang terhambat
  • Kelihatan lebih tua dari anak seusianya
  • Lemas atau kurang bertenaga

Apakah marasmus berbahaya?

Marasmus merupakan suatu keadaan medis darurat yang bisa berujung fatal. Penderitanya perlu mendapatkan perawatan segera.

Kondisi marasmus dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan infeksi berulang. Penyakit infeksi seperti diare, campak, dan infeksi saluran pernapasan dapat menjadi komplikasi marasmus yang berbahaya.

Bagaimana cara menangani marasmus?

Penanganan yang cepat penting untuk pemulihan anak dengan kondisi ini. Bila pengobatan terlambat diberikan, anak dapat mengalami cacat fisik dan mental di masa depan.

Akan tetapi, anak dengan marasmus dapat pulih melalui terapi medis dan nutrisi yang baik. Berat badan mereka dapat ditingkatkan hingga mencapai angka normal.

Proses pertumbuhan penderita juga akan kembali berjalan dengan baik setelah anak mengonsumsi kalori, protein, karbohidrat, dan nutrisi lainnya.

Penanganan kondisi malnutrisi berat meliputi fase stabilisasi, transisi, rehabilitasi, dan tindak lanjut. Dokter akan mencegah dan mengobati kondisi medis di bawah ini yang berkaitan dengan malnutrisi:

  • Hipoglikemia, yakni kadar gula darah rendah di bawah normal
  • Hipotermia, yaitu kondisi suhu tubuh rendah di bawah normal
  • Dehidrasi atau kekurangan cairan
  • Gangguan keseimbangan elektrolit
  • Infeksi
  • Kekurangan zat gizi mikro

Dokter kemudian memberikan makanan untuk stabilisasi, transisi, dan tumbuh kejar, memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang, dan mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah.

Fase-fase di atas umumnya dilakukan di rumah sakit secara intensif. Setelah itu, fase tindak lanjut dapat dilakukan di rumah.

Anak akan berobat jalan ke puskesmas atau rumah sakit secara berkala, biasanya satu minggu sekali. Ketika anak sudah mulai pulih, pola makan dengan nutrisi seimbang perlu diterapkan untuk mencapai kebutuhan gizi yang diperlukan.

Jangan salah mengenali marasmus dan kwashiorkor

Selain marasmus, terdapat jenis kondisi malnutrisi energi protein berat lainnya, yakni kwashiorkor. Di Indonesia, kondisi ini lebih dikenal dengan istilah busung lapar.

Anak yang menderita kwashiorkor biasanya berusia lebih tua daripada anak dengan marasmus. Berbeda pula dengan marasmus, gejala yang tampak pada pasien kwashiorkor meliputi:

  • Tubuh yang nampak bengkak karena penumpukan cairan dalam tubuh
  • Perut yang membesar
  • Pertumbuhan terhambat
  • Berat badan yang tidak kunjung naik
  • Adanya flag’s sign atau rambut seperti warna bendera, yaitu terdapat batas tegas warna terang dan gelap pada rambut.

Busung lapar terutama disebabkan oleh kurangnya jumlah protein di dalam tubuh. Anak dengan pola makan rendah protein berisiko mengalami kwashiorkor. Anak yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) saat bayi dan tidak mengonsumsi makanan kaya protein juga dapat mengalaminya.

Sama seperti marasmus, anak dengan kwashiorkor dapat pulih bila penanganan dilakukan dengan cepat. Penanganan bisa meliputi pemberian makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi.

Jika terus dibiarkan, kwashiorkor dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan pasien dapat mengalami stunting (kerdil) seumur hidupnya.

Komplikasi serius seperti koma, syok, disabilitas mental dan fisik juga dapat terjadi apabila penanganan terlambat dilakukan. Sementara komplikasi kwashiorkor yang berat adalah gagal organ yang menyebabkan kematian.

Untuk mencegah gangguan nutrisi yang parah seperti marasmus dan kwashiokor, orang tua maupun anggota keluarga lain perlu memperhatikan kondisi perkembangan anak dengan saksama. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter konsultan nutrisi dan metabolik mengenai grafik perkembangan ideal untuk anak Anda. Dengan ini, masalah gizi dapat segera diatasi bila terjadi.

Healthline. https://www.healthline.com/health/marasmus
Diakses pada 9 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/kwashiorkor
Diakses pada 9 Maret 2020

https://www.healthline.com/health/kwashiorkor-and-marasmus
Diakses pada 9 Maret 2020

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/984496
Diakses pada 9 Maret 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/313185#treatment
Diakses pada 9 Maret 2020

Artikel Terkait