Bila seseorang telah memasuki tahapan tidur REM (Rapid Eye Movement), ia akan mulai masuk ke alam mimpi
Saat seseorang tidur, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum benar-benar terlelap

Saat seseorang terlelap, ada begitu banyak hal yang terjadi. Tahapan tidur manusia pun bukan hanya sekadar terlelap dan kembali terbangun, tapi jauh lebih rumit lagi. Ada siklus yang terjadi antara fase Rapid Eye Movement (REM) dan non-REM.

Salah satu ciri yang membedakan fase REM dan non-REM adalah ketika fase REM, mata bergerak dengan cepat ke segala arah. Sementara saat fase non-REM, hal itu tidak terjadi.

Jika bagi banyak orang tidur menjadi saat beristirahat dengan tenang, tidak demikian halnya dengan penderita Congenital Central Hypoventilation Syndrome (CCHS). Mereka bisa saja tidak bangun lagi ketika ‘lupa’ bernapas saat terlelap.

Tahapan tidur non-REM

Tentu banyak yang penasaran dengan apa saja tahapan tidur yang terjadi. Sebelum mencapai fase REM, ada fase non-REM. Setelah kedua fase ini dilewati, fasenya akan terus berulang.

Berikut adalah tahapan tidur seorang manusia di fase non-REM:

  • Tahap 1

Pada tahap pertama ini, mata seseorang akan terpejam namun masih mudah untuk terjaga. Biasanya tahapan tidur pertama ini berlangsung selama 5 hingga 10 menit.

  • Tahap 2

Setelah melewati tahap pertama, masuklah ke tahapan tidur ringan. Detak jantung mulai melambat dan temperatur tubuh ikut menurun. Tubuh siap untuk masuk ke fase deep sleep.

  • Tahap 3

Tahap ketiga adalah saat deep sleep terjadi. Pada tahap ini, tubuh memperbaiki jaringan, membentuk tulang dan otot, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Pada fase ini pula, seseorang lebih sulit dibangunkan. Ketika terbangun tiba-tiba pun, akan terasa disorientasi selama beberapa menit.

Bagaimana dengan fase REM? 

Fase REM biasanya akan terjadi 90 menit setelah seseorang terlelap. Pada fase inilah napas seseorang menjadi lebih cepat dan tidak teratur, hingga detak jantung serta tekanan darah berada di level seperti akan kembali terjaga.

Fase pertama REM biasanya terjadi selama 10 menit. Setiap tahapan akan menjadi lebih lama hingga mencapai 1 jam. 

Sebagian besar mimpi terjadi di fase ini, ketika tubuh menjadi ‘lumpuh’ sehingga tidak bergerak ketika bermimpi. 

Menariknya, ada perbedaan kontras antara orang dewasa dan bayi. Pada orang dewasa, tahapan REM saat tidur ini hanya terjadi selama 20 persen. Sementara pada bayi, 50% waktu tidur mereka adalah fase REM.

Tidur bagi penderita CCHS

Tidur bisa jadi momok bagi penderita Congenital Central Hypoventilation Syndrome (CCHS). Penderitanya hanya bisa bernapas pendek-pendek dan bisa memburuk saat tidur. Akibatnya tubuh pun kekurangan oksigen dan terjadi penumpukan karbon dioksida dalam darah.

Kasus langka yang disebut juga dengan Ondine’s Curse ini bisa menyebabkan seseorang benar-benar berhenti bernapas ketika terlelap. Mereka harus bergantung pada alat bantu demi memastikan tetap bernapas saat tidur.

Ondine’s Curse alias Kutukan Ondine diambil dari nama seorang peri dalam mitologi Jerman. Ondine memiliki pasangan bernama Lawrence. Karena sikap Lawrence yang tidak setia, Ondine pun mengutuknya mati saat tertidur.

Gangguan CCHS bisa muncul sejak usia yang sangat dini. Bayi yang menderita CCHS akan mengalami sianosis atau kulit dan bibir yang membiru akibat kekurangan oksigen saat tidur. 

Secara umum, pernapasan yang semakin pelan terjadi pada tahapan tidur non-REM. Meski demikian, sistem pernapasan mereka juga bisa menjadi tidak normal saat tahapan tidur REM hingga saat terjaga sekalipun.

Penderita CCHS tidak bisa merasakan adanya oksigen atau karbon dioksida di tubuh mereka. Itulah sebabnya sangat penting untuk memastikan suplai oksigen tetap tercukupi.

Gangguan CCHS tidak dapat disembuhkan dan bersifat permanen. Oleh sebab itu, penderita CCHS harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengatasi kondisi ini.

Dokter akan memberikan cara yang tepat menangani gejala-gejala yang mengganggu terkait CCHS, misalnya sesak napas. Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada komplikasi penyakit lain yang muncul akibat CCHS. 

National Institute of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/patient-caregiver-education/understanding-sleep
Diakses pada 20 Juni 2019

National Organization of Rare Disorders. https://rarediseases.org/rare-diseases/congenital-central-hypoventilation-syndrome/
Diakses pada 20 Juni 2019

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/sleep-101
Diakses pada 20 Juni 2019

Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/what-is-ondines-curse-and-how-can-it-be-treated-3014797
Diakses pada 20 Juni 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed