Gangguan interaksi sosial seperti suka menyendiri termasuk salah satu ciri ciri anak autis
Anak lebih suka menyendiri merupakan salah satu tanda dari autisme

Berbicara mengenai autisme, menjadi hal yang membingungkan bagi sebagian orangtua karena banyaknya informasi simpang siur yang berkembang di masyarakat. Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan kemampuan komunikasi dan interaksinya menjadi terganggu.

Jika Anda diberi kepercayaan memiliki anak dengan kebutuhan khusus ini, maka Anda harus mengenal dan memahami autisme lebih dalam lagi. Berikut berbagai hal mengenai autisme yang sayang untuk Anda lewatkan.

Ciri-ciri anak autis

Berdasarkan data dari Center for Diseases Control tahun 2014, autisme terjadi pada 1 dari 59 anak. Umumnya, ciri-ciri anak autis terlihat ketika anak telah berusia 18 bulan. Terdapat tiga ciri-ciri yang menunjukkan seorang anak menyandang autisme, yaitu:

1. Gangguan komunikasi

Pada gejala ini, anak akan menunjukkan terlambat bicara, tidak menunjuk, bicaranya kurang jelas, menarik orangtua jika menunjukkan apa yang diinginkannya, dan sering mengulang-ulang kata.

2. Perilaku stereotip

Dalam ciri-ciri anak autis ini, anak akan menunjukkan keterbatasan minat, menyenangi benda yang berputar, menggerakan tangan berulang-ulang, dan memainkan benda berulang kali dengan cara yang sama.

3. Gangguan interaksi sosial

Anak akan menunjukkan kontak mata yang kurang, tak memberi respons ketika diajak bicara, lebih senang menyendiri, tidak menoleh ketika dipanggil, kurang berekspresi, dan tak bermain dengan anak lain.

Seringkali orangtua menunda-nunda untuk berkonsultasi pada dokter. Namun, ada juga beberapa tanda awas (red flag) autisme yang mengharuskan Anda untuk segera berkonsultasi pada dokter, di antaranya:

  • Jika pada usia 12 bulan, anak tidak menunjuk, tidak mengoceh ataupun tidak menunjukkan mimik wajah dengan baik.
  • Jika pada usia 16 bulan, anak tidak mengeluarkan satu kata yang berarti.
  • Jika pada usia 2 tahun, anak tidak mengeluarkan kalimat atau dua kata yang berarti.
  • Jika anak kehilangan kemampuan berbahasa atau sosial.

Konsultasikan segala pertanyaan Anda pada dokter mengenai autisme yang ada dalam benak Anda. Dokter akan memberi saran yang tepat dalam membesarkan anak yang menyandang autisme.

Penyebab autisme

Penyebab autisme secara pasti belum diketahui. Akan tetapi, bervariasinya tanda atau gejala menunjukkan bahwa ini berkaitan dengan faktor genetik dan lingkungan. Para ahli sepakat bahwa faktor genetik menjadi penyebab utama autisme karena dapat mengubah perkembangan otak, terutama fungsi hubungan sel saraf. Selain itu, kelainan konektivitas sel saraf atipikal juga berperan penting pada terjadinya autisme.

Terdapat anggapan yang berkembang bahwa vaksinasi bisa menyebabkan autisme. Hal ini tentu tidaklah benar, dan telah dibuktikan oleh penelitian. Justru vaksinasi adalah upaya yang aman dan efektif dalam mencegah penyakit menular. Di samping penyebab, ada beberapa faktor risiko autisme, di antaranya:

  • Paparan polusi
  • Kerusakan embrio
  • Gangguan perinatal
  • Infeksi perinatal
  • Prematuritas
  • Obesitas, diabetes, atau preeklampsia yang diderita ibu ketika hamil.

Autisme dan ADHD (gangguan pemusatan perhatian) juga seringkali disamakan. Padahal keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Berbeda dengan anak autisme yang kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi, anak dengan ADHD dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik. Namun, sangat aktif bergerak, sulit diam, impulsif, hiperaktif, dan suka mengganggu anak lain.

Bisakah autisme diobati?

Tak ada penelitian ataupun teori yang dapat memberi penjelasan tentang cara kerja anak autisme secara lengkap. Namun, hal yang diketahui adalah adanya disfungsi sinaps sel saraf pada anak autisme. Disfungsi sinaps tersebut menyebabkan gangguan perilaku dan keterlambatan bicara pada anak penyandang autisme.

Perlu Anda ketahui juga bahwa tingkat keparahan pada anak autisme berbeda-beda karena gejala dapat berkisar dari ringan hingga berat. Hal ini berpengaruh pula terhadap kebutuhan terapi, dan lamanya waktu yang diperlukan untuk melihat kemajuan pada anak.

Mengenai pertanyaan bisakah autisme diobati, ini bukanlah hal yang tepat karena autisme bukanlah suatu penyakit. Namun, terapi yang tepat dan dilakukan sedini mungkin bisa memperbaiki interaksi, komunikasi, dan mengurangi atau menghilangkan perilaku sterotipi penyandang autisme.

Bagi anak yang berusia 18-36 bulan, terapi dimulai dengan sensori integrasi (SI). Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki kontak mata, interaksi, dan mengurangi gangguan sensoris. Setelah memperlihatkan kemajuan, terapi selanjutnya yang direkomendasikan adalah terapi perilaku (behaviour therapy).

Orangtua jangan sampai keliru memasukkan anaknya yang menyandang autisme ke terapi wicara pada saat awal diagnosis karena terapi ini ditujukkan hanya untuk anak yang artikulasi bicaranya kurang jelas.

Seluruh terapi ini harus dilakukan secara bertahap karena penelitian menunjukkan bahwa jika dilakukan secara bersamaan maka terapi tidak memberi hasil yang baik. Anda dapat berkonsultasi pada dokter mengenai terapi anak autisme agar mendapat jawaban yang tepat.

Narasumber:
dr. Lies Dewi Nurmalias, Sp.A(K)
Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Neurologi
Eka Hospital Cibubur

Eka Hospital Cibubur

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed