logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Mengenal Krisis Paruh Baya yang Bisa Terjadi pada Lansia

open-summary

Krisis paruh baya adalah kondisi di mana seseorang yang menginjak rentang usia 40-an merasa muda kembali dan ingin menikmati hidup. Akan tetapi, kondisi ini juga bisa berujung pada depresi jika tak dikelola dengan baik.


close-summary

5

(7)

14 Jun 2020

| Dina Rahmawati

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Krisis paruh baya umumnya terjadi pada rentang usia 40-50 tahun

Krisis paruh baya bisa membuat seseorang berperilaku seperti anak muda

Table of Content

  • Apa itu krisis paruh baya?
  • Krisis paruh baya bisa disalahartikan
  • Benarkah krisis paruh baya dapat menyebabkan depresi?

Ketika memasuki usia paruh baya atau sekitar 40 tahun, Anda mungkin mulai merasa khawatir karena sudah tak muda lagi. Bahkan pada usia ini, kekuatan tubuh pun dirasa menurun dan menganggap semakin dekat dengan kematian.

Advertisement

Hal ini bisa menyebabkan berbagai perubahan dalam perilaku dan emosi Anda. Meski menyadari jika diri Anda semakin menua, namun di sisi lain Anda juga ingin bersenang-senang selayaknya anak muda. Inilah yang dinamakan dengan krisis paruh baya.

Apa itu krisis paruh baya?

Krisis paruh baya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keresahan seseorang yang menginjak usia paruh baya, namun merasa muda kembali sehingga ingin bersenang-senang dan menikmati hidup. Tak heran, jika orang yang mengalaminya akan berdandan seperti anak muda, berhenti bekerja secara mendadak, ingin berkuliah lagi, atau membeli mobil sport.

Pada usia paruh baya, orang-orang kerap dihantui kecemasan dan ketakutan akan kematian. Krisis paruh baya pun dapat membantu seseorang merasa muda lagi ketika harus berjuang menerima kenyataan bahwa ia semakin menua. Akan tetapi, tidak semua orang mengalami krisis paruh baya.

Penelitian menunjukkan bahwa krisis paruh baya bahkan bukanlah masalah bagi kebanyakan orang di dunia. Sebuah survei nasional krisis paruh baya di Amerika Serikat melaporkan bahwa sekitar 26% peserta mengalami kondisi tersebut. Namun, sebagian besar peserta melaporkan mengalami krisis paruh baya sebelum usia 40 atau setelah 50 tahun.

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah krisis tersebut benar-benar berkaitan dengan usia paruh baya karena usia paruh baya umumnya berkisar 45 tahun. Para peserta pun mengatakan jika krisis yang dialaminya bukanlah disebabkan oleh usia, namun peristiwa besar. 

Faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya krisis paruh baya tersebut, yaitu perceraian, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan orang yang dicintai. Dengan begitu, usia di mana krisis paruh baya menyerang bisa bervariasi antarindividu. Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. 

Krisis paruh baya bisa disalahartikan

Beberapa orang mungkin keliru mengartikan demensia sebagai krisis paruh baya karena masalah kesehatan tersebut ditandai pula dengan pergeseran perilaku atau perubahan kepribadian. Meski demensia cenderung terjadi pada lansia, namun Alzheimer society melaporkan bahwa 5% kasus dimulai sebelum usia 65 tahun. Orang yang mengalami demensia dini pun akan kesulitan dalam merencanakan, mengatur, atau berpikir ke depan.

Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Development menemukan sisi positif dari krisis paruh baya, yaitu keingintahuan. Orang yang terkena kondisi tersebut mengalami peningkatan rasa ingin tahu mengenai dirinya sendiri maupun dunia yang lebih luas di sekitarnya. Keresahan yang dialami para peserta dalam studi tersebut membawa keterbukaan terhadap ide-ide baru yang lebih berwawasan dan kreatif.

Baca Juga

  • Penyebab Depresi pada Lansia dan Penanganannya
  • Serba-serbi Proses Penuaan yang Wajib Anda Tahu!
  • Mengenal Post Power Syndrome yang Kerap Dialami Lansia

Benarkah krisis paruh baya dapat menyebabkan depresi?

Krisis paruh baya dapat berkembang menjadi depresi atau peluang untuk tumbuh yang bergantung pada sejumlah faktor, termasuk dukungan dari orang terdekat. Akan tetapi, jika krisis paruh baya Anda menunjukkan tanda-tanda depresi berikut, sebaiknya berkonsultasilah pada psikolog atau psikiater:

  • Tekanan emosional merusak kemampuan tidur atau memengaruhi selera makan Anda
  • Tak dapat berkonsentrasi atau merasa kesusahan
  • Suasana hati buruk dan stres sehingga meningkatkan pertengkaran dengan orang terdekat
  • Kehilangan minat terhadap hobi atau kegiatan yang disukai
  • Merasa pesimis dan hilang harapan
  • Gelisah dan mudah tersinggung
  • Merasa bersalah dan tak berharga
  • Merasakan nyeri fisik, seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan yang tak merespons pengobatan

Agar tetap positif dalam menghadapi krisis paruh baya, sebaiknya dekatkanlah diri pada Tuhan dan mengikuti berbagai kegiatan yang baik, seperti halnya bakti sosial. Hal tersebut dapat membantu Anda untuk berpikiran positif dan tak terlalu mengkhawatirkan usia yang semakin bertambah.

Advertisement

gangguan lansialansiadepresi pada lansia

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved