Salah satu hormon terpenting untuk wanita adalah hormon estrogen yang mengatur siklus menstruasi
Hormon estrogen paling identik dengan wanita karena memiliki peranan dalam reproduksi dan seksual

“Blame the hormones” adalah justifikasi atau dalih yang kerap dilontarkan wanita ketika mereka mulai berperilaku sedikit aneh atau tidak rasional. Mulai dari cenderung emosional, mudah marah, hingga ratusan kali lipat lebih sensitif. Tentu saja, ini terkait erat dengan hormon wanita.

Namun, meski hormon wanita kerap membuat dongkol diri sendiri maupun orang lain yang terkena imbasnya, perannya sangatlah penting. Hormon wanita ini juga berperan dalam banyak tahap kehidupan wanita, terutama yang paling signifikan fase kehamilan hingga melahirkan.

Mengenal jenis hormon wanita

Pada tubuh seorang wanita, hormon diproduksi di ovarium dan kelenjar adrenal. Jika Anda belum familiar, kelenjar adrenal ini adalah kelenjar kecil seukuran separuh ibu jari yang terletak di atas ginjal. Meski ukurannya kecil, kelenjar ini menghasilkan banyak hormon wanita.

Untuk memudahkan kategorisasinya, hormon wanita terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Estrogen

Tak lain tak bukan, hormon wanita pertama yang paling identik dengan kaum hawa adalah estrogen. Tak hanya di ovarium, kelenjar adrenal dan sel-sel lemak juga tak ketinggalan menghasilkan estrogen.

Fungsi dari estrogen sangat dominan terutama dalam hal reproduksi dan seksual. Biasanya, hormon estrogen akan semakin dominan ketika seorang perempuan menginjak fase puber.

Ketika puber, seorang perempuan akan mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya. Mulai dari pembesaran payudara, pinggul yang lebih lebar, hingga tumbuhnya rambut di area vagina dan ketiak. Ini terjadi karena pengaruh hormon estrogen.

Tak hanya itu, hormon estrogen juga mengatur siklus menstruasi wanita. Apabila sel telur tidak dibuahi dalam periode masa subur, level estrogen akan turun drastis dan menstruasi terjadi.

Sebaliknya, apabila sel telur berhasil dibuahi, maka estrogen akan “berkolaborasi” dengan progesteron untuk menghentikan ovulasi selama kehamilan.

Dalam kaitannya dengan pembentukan tulang, estrogen juga tak ketinggalan. Hormon yang satu ini akan bekerja sama dengan vitamin D, kalsium, dan hormon lainnya untuk proses pembentukan tulang secara alami.

Tak berhenti sampai di situ, hormon estrogen juga berpengaruh terhadap cara kerja otak. Ada banyak riset – salah satunya dari National Library of Medicine – yang membuktikan bahwa level estrogen yang rendah menyebabkan mood seseorang berantakan.

2. Progesteron

Hormon wanita kedua yang juga tak kalah penting adalah progesteron. Ini adalah hormon yang meningkat ketika proses ovulasi dan akan terus naik hingga puncaknya selama proses kehamilan.

Hormon progesteron membantu mengendalikan siklus menstruasi dan mempersiapkan tubuh seorang wanita untuk hamil. Itulah mengapa hormon progesteron kerap berkaitan dengan kesuburan karena memengaruhi lancar tidaknya menstruasi, kehamilan, hingga risiko komplikasi saat hamil.

Progesteron ini pula yang mempersiapkan dinding uterus untuk siap “menerima” sel telur yang telah dibuahi agar bisa tumbuh. Tak hanya itu, hormon progesteron juga mencegah kontraksi otot rahim yang bisa menyebabkan dinding rahim seakan menolak sel telur.

Selama proses kehamilan pun, hormon progesteron juga menjadi stimulus berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara agar siap memproduksi air susu.

Masih soal hormon wanita progesteron, ketika proses persalinan, hormon ini akan bergabung dengan hormon relaxin untuk melunakkan ligamen dan otot. Dengan demikian, sang ibu akan semakin siap untuk mengeluarkan bayi.

3. Testosteron

Memang testosteron merupakan hormon yang identik dengan pria. Meski demikian, testosteron juga ada dalam tubuh wanita dalam jumlah lebih sedikit.

Meskipun sedikit, ada banyak hal yang berpengaruh karena keberadaan testosteron. Di antaranya kesuburan, gairah seksual, menstruasi, massa tulang, hingga produksi sel darah merah.

Idealnya, seorang wanita perlu memiliki 15-70 nanogram per deciliter (ng/dl) testosteron di darah mereka. Apabila terlalu rendah, bisa jadi seseorang akan merasa lemas, susah tidur, tidak bergairah, jadwal menstruasi tidak lancar, masalah kesuburan, hingga vagina terasa kering.

Hormon wanita dan fasenya

Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, hormon testosteron akan menurun dengan sendirinya. Hal yang sama juga terjadi pada hormon-hormon wanita lainnya. Ketika menopause, misalnya. Ovarium akan memproduksi lebih sedikit hormon wanita.

Menariknya, hormon wanita ternyata tak hanya muncul saat pubertas saja. Bahkan pada masa awal kelahiran seorang bayi. Biasanya, tanda-tandanya adalah pembesaran payudara.

Berdasarkan kesimpulan para peneliti, hal ini terjadi karena sang ibu menurunkan hormon estrogen melalui plasenta ketika proses kehamilan. Hipotesis lainnya adalah hormon estrogen yang menurun pada sang ibu menyebabkan otak bayi mengimbanginya dengan memproduksi hormon prolaktin yang juga bisa menyebabkan pembesaran payudara.

Meski demikian, kondisi ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa pekan.

Ketika hormon wanita berubah drastis

Salah satu fase yang bisa menyebabkan hormon wanita berubah drastis adalah saat kehamilan. Di momen ketika sel telur dibuahi dan seorang perempuan dinyatakan hamil, hormonnya tak lagi sama.

Ada hormon bernama HCG (human chorionic gonadotrophin) yang dihasilkan dari plasenta. HCG menjadi stimulus ovarium untuk memproduksi estrogen dan progesteron lebih banyak lagi demi kelancaran proses kehamilan.

Perubahan ini akan terus berlanjut selama kehamilan. Pada bulan keempat, misalnya. Plasenta akan mengambil alih peran ovarium sebagai penghasil utama hormon wanita.

Itulah mengapa muncul hormon yang bertugas untuk menebalkan rahim, meningkatkan sirkulasi darah, dan melemaskan otot rahim demi memberi ruang bagi bayi untuk terus bertumbuh.

Menakjubkan, bukan? Hormon wanita memegang peran penting dalam mengatur fungsi tubuh, terutama kaitannya dengan reproduksi dan aspek seksual. Jika terjadi ketidakseimbangan hormon, akan ada konsekuensinya bagi kesehatan seorang wanita.

Britannica. https://www.britannica.com/science/progesterone
Diakses 22 Agustus 2019

Live Science. https://www.livescience.com/38324-what-is-estrogen.html
Diakses 22 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322663.php
Diakses 22 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed