Arti Kasus Suspek, Probable, dan Konfirmasi Istilah Pengganti ODP, PDP, dan OTG Kasus Corona

Istilah ODP, PDP, dan OTG kasus virus corona kini diganti suspek, probable, dan konfirmasi
Kasus suspek, probable, dan konfirmasi adalah pengganti istilah ODP, PDP, dan OTG

Istilah ODP, PDP, dan OTG tentu sudah akrab di telinga Anda sejak merebaknya kasus virus corona baru atau Covid-19 di Indonesia. Namun, baru-baru ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto mengganti ketiga istilah tersebut. Apa istilah baru yang digunakan? 

Istilah ODP, PDP, dan OTG resmi diganti Menteri Kesehatan

Istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) resmi dihapus oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. 

Sebagai gantinya, muncul berbagai istilah baru, yakni kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi. 

Penggantian istilah ini terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang diteken oleh Terawan pada Senin, 13 Juli 2020. 

Meski diganti, beberapa istilah baru yang dibuat tetap menunjukkan kelompok risiko serta penampakan gejala dari orang-orang yang mungkin atau sudah terpapar oleh virus SARS-Cov-2.

Perbedaan kasus suspek, probable, dan konfirmasi

Kasus suspek, kasus probable, dan konfirmasi merupakan istilah baru pengganti ODP, PDP, dan OTG kasus virus corona, yang sebelumnya dikenal. 

Selain kasus suspek, probable, dan konfirmasi, ada pula istilah baru lainnya yang berkaitan dengan penamaan orang yang terinfeksi virus corona di Indonesia, yaitu kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian. 

Agar tidak bingung dan salah penyebutan, berikut perbedaan kasus suspek, probable, konfirmasi, dan istilah baru lainnya terkait kasus virus corona yang ditetapkan oleh Menkes Terawan. 

1. Kasus suspek

Kasus suspek adalah pengganti istilah ODP dan PDP. 

Seseorang dikatakan memiliki kasus suspek apabila mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam (≥38 derajat Celsius) atau riwayat demam; dan disertai salah satu gejala atau tanda penyakit pernapasan, seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, pilek, serta pneumonia ringan hingga berat. 

Selain itu, pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala penyakit memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang terdapat kasus konfirmasi Covid-19, dan atau memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau kasus konfirmasi Covid-19. 

Anda juga dikatakan berstatus kasus suspek apabila mengalami ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan pengobatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain yang mendasari timbulnya gejala Covid-19. 

2. Kasus probable

Kasus probable adalah kasus suspek dengan ISPA berat atau Acute Respiratory Disease System (ARDS) atau meninggal dunia dengan diagnosis yang diyakini sebagai Covid-19. Namun, belum ada hasil pemeriksaan laboratorium rapid test (RT) dan Polymerase Chain Reaction (PCR) swab test

3. Kasus konfirmasi 

Seseorang dapat dikategorikan dalam kasus konfirmasi apabila ia positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium rapid test dan PCR. 

Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua jenis, yakni kasus konfirmasi dengan gejala (simtomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik). 

4. Kontak erat

Kontak erat adalah istilah yang diberikan bagi orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain:

  • Kontak tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
  • Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi. Misalnya, bersalaman, berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan lain-lain.
  • Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap seseorang dengan kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.
  • Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.

Untuk menemukan seseorang yang berstatus kontak erat pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simtomatik), periode kontak dapat dihitung dari 2 hari sebelum timbul gejala hingga 14 hari setelah muncul gejala penyakit. 

Sedangkan, untuk menemukan seseorang yang berstatus kontak erat pada kasus probable atau konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), periode kontak dapat dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi. 

5. Pelaku perjalanan

Pelaku perjalanan adalah seseorang yang melakukan perjalan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri dalam kurun waktu 14 hari terakhir. 

6. Discarded

Seseorang dikatakan discarded apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut: 

  • Orang dengan status kasus suspek yang hasil pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu >24 jam. 
  • Orang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari. 

7. Selesai isolasi

Istilah selesai isolasi diberikan kepada seseorang apabila ia memenuhi salah satu kriteria di bawah ini:

  • Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dengan penambahan 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. 
  • Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simtomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan lanjutan RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dan penambahan minimal 3 hari isolasi diri, baik di rumah sakit atau di rumah, setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.  
  • Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simtomatik) yang mendapatkan hasil pemeriksaan lanjutan RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari isolasi diri, baik di rumah sakit atau di rumah, setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan. 

Cara melindungi diri dari penularan Covid-19

Covid-19 merupakan jenis penyakit baru yang tingkat penularannya cukup tinggi. Tingkat penularan virus corona sendiri dapat dipengaruhi oleh adanya pergerakan orang, interaksi antarmanusia, dan berkumpulnya banyak orang. 

Maka dari itu, perlu dilakukan upaya perlindungan kesehatan dengan tepat. Upaya melindungi diri bertujuan untuk mencegah terjadinya penularan antarmanusia dalam skala luas. Beberapa cara melindungi diri dan orang lain dari penularan Covid-19 yang paling mudah dan tepat, yaitu: 

  • Selalu menggunakan masker saat berada di ruangan dan di luar rumah
  • Jaga jarak aman dengan orang lain sejauh 1 meter 
  • Sering cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir minimal selama 20 detik. Jika tidak menemukan akses air mengalir, gunakan cairan pembersih berbasis alkohol 60%
  • Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, yakni dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau siku bagian dalam. 

informasi seputar virus corona

Catatan dari SehatQ

Istilah ODP, PDP, dan suspect kini telah diganti menjadi kasus suspek, probable, dan konfirmasi. Umumnya istilah tersebut akan didapatkan ketika pemerintah terus melakukan pelacakan (tracking) di setiap wilayah. Namun, pastikan Anda juga selalu senantiasa aktif memeriksakan diri dan melaporkan apabila mengalami gejala coronavirus

Covid 19. https://covid19.go.id/storage/app/media/Regulasi/KMK%20No.%20HK.01.07-MENKES-413-2020%20ttg%20Pedoman%20Pencegahan%20dan%20Pengendalian%20COVID-19.pdf
Diakses pada 14 Juli 2020

CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200714081912-20-524309/menkes-terawan-hapus-istilah-pdp-odp-dan-otg-kasus-corona
Diakses pada 14 Juli 2020

Artikel Terkait