Mengenal Gula Rafinasi dan Bahayanya untuk Kesehatan

Salah satu bentuk gula rafinasi adalah gula pasir
Gula pasir termasuk salah satu bentuk gula rafinasi

Jika Anda ingin menerapkan pola makan sehat, salah satu kuncinya adalah dengan membatasi asupan gula. Apa alasannya?

Beberapa jenis gula, khususnya gula rafinasi, dapat meningkatkan gula darah secara cepat. Hal ini kemudian bisa meningkatkan risiko diabetes serta masalah kesehatan lainnya. 

Apa itu gula rafinasi?

Gula rafinasi adalah gula yang berasal dari gula bit dan gula tebu. Biasanya, gula ini digunakan sebagai bahan baku oleh industri makanan dan minuman. 

Hampir semua makanan yang ada di rak-rak supermarket mengandung gula rafinasi, misalnya es krim, kue, cokelat, permen, yoghurt rasa buah, sereal, soda, dan jus buah. Bahkan gula ini bisa saja ditemukan dalam protein bar, yang sering diklaim sebagai camilan sehat. 

Terdapat dua jenis gula rafinasi yang paling umum, yakni gula meja (sukrosa) dan sirop jagung tinggi fruktosa (high-fructose corn syrup/HFCS)

Selain sebagai penambah rasa, gula rafinasi juga sering digunakan sebagai pengawet. Contohnya pada selai dan jeli. 

Apa bahaya gula rafinasi jika terlalu banyak dikonsumsi?

Gula rafinasi dapat disebut sebagai kalori kosong. Artinya, jenis gula ini tidak mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh, seperti vitamin, mineral, protein, lemak, serat, dan lainnya. 

Selain rendah nutrisi, makanan yang mengandung gula rafinasi pun umumnya memiliki garam serta lemak tambahan. Keduanya dapat membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Karena itu, Anda perlu lebih berhati-hati saat membeli produk makanan dan minuman. Bisa saja produk-produk tersebut mengandung gula rafinasi dalam jumlah tinggi.

Gula rafinasi yang dikonsumsi terlalu banyak dapat memicu beragam efek yang buruk bagi kesehatan di bawah ini:

  • Obesitas

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara mengonsumsi minuman manis yang mengandung gula rafinasi secara berlebih dengan timbulnya obesitas. Apa alasannya?

Makanan yang mengandung HFCS disebut dapat membuat Anda resistan terhadap hormon leptin. Padahal, leptin bertugas mengirim sinyal pada tubuh untuk memberi tahu kapan Anda harus makan dan harus berhenti. 

Sebagai akibatnya, Anda mungkin saja terus makan meski sudah kenyang. Kondisi ini kemudian berujung pada kelebihan berat badan hingga obesitas.

  • Depresi dan gangguan mental lainnya

Menurut sebuah studi, terlalu banyak mengonsumsi gula dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan mental lain.

Sementara penelitian lain mengungkap bahwa konsumsi makanan olahan, makanan yang digoreng, serta makanan dengan pemanis tambahan secara rutin dapat menambah kemungkinan depresi di kemudian hari. Mengerikan, bukan?

  • Penuaan dini

Gula sering dikaitkan sebagai salah satu penyebab penuaan dini. Dalam studi tertentu yang dipublikasikan di American Journal of Public Health, para peneliti melihat bahwa konsumsi minuman dengan gula rafinasi berperan dalam terjadinya percepatan penuaan sel-sel. 

  • Kolesterol tinggi

Jika Anda telah mengidap kolesterol tinggi, perhatikan asupan gula sehari-hari dengan lebih cermat. Para peneliti menemukan adanya kaitan antara terlalu banyak konsumsi gula dengan tingginya kadar trigliserida dan rendahnya kadar HDL atau kolesterol baik. 

Harap diingat bahwa kadar kolesterol HDL yang rendah termasuk salah satu faktor risiko di balik penyakit jantung

Untuk menghindari beragam gangguan kesehatan tersebut, cermati pilihan makanan dan gula yang Anda gunakan.

Adakah jenis gula yang lebih baik?

Banyak orang memilih untuk mengganti gula rafinasi dengan pemanis yang lebih alami dan sehat. Misalnya, madu, molase, dan sirup maple.

Ternyata pemanis-pemanis tersebut tidak lebih sehat dari gula biasa. Pasalnya, mereka tetap mengandung gula yang tidak baik bila dikonsumsi secara berlebihan. 

Lalu, bagaimana dengan pemanis buatan sebagai pengganti gula biasa? Pemanis buatan ini biasanya ditambahkan dalam produk makanan dan minuman yang berlabel ‘sugar-free’. 

Meski terbilang aman dan bisa menjadi penolong saat diet, Anda tetap harus waspada. Pasalnya, pemanis buatan dapat membuat Anda tergoda untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak.

Ingat, walau pemanis buatan termasuk rendah kalori, tetap saja akan merugikan bagi tubuh jika dikonsumsi terlalu banyak.

Intinya, apapun yang dikonsumsi secara berlebihan tidaklah baik. Ungkapan ini juga berlaku bagi gula rafinasi, gula alami, maupun pemanis buatan.

Cara terbaik untuk menekan bahaya gula rafinasi adalah dengan membatasi konsumsinya. The American Heart Association merekomendasikan batasan harian asupan gula hingga enam sendok teh per hari untuk wanita dan sembilan sendok teh untuk pria. 

Sebagai atlernatif, Anda bisa memanfaatkan buah untuk menambah rasa manis dalam makanan maupun minuman. Namun ingatlah juga bahwa konsumsinya tetap harus dalam batas wajar.

Ada banyak sekali produk makanan dan minuman yang mengandung gula rafinasi. Oleh sebab itu, Anda perlu jeli dalam membaca label komposisi yang tertera pada kemasan.

Dengan lebih cermat, Anda akan terhindar dari berbagai dampak buruk konsumsi gula bagi kesehatan. Agar lebih aman, Anda bisa mendiskusikan dengan dokter mengenai takaran konsumsi gula yang cocok untuk kondisi Anda.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/refined-sugar
Diakses pada 17 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/food-recipes/features/health-effects-of-sugar#1
Diakses pada 17 Februari 2020

Live Strong. https://www.livestrong.com/article/349009-what-foods-are-high-in-refined-sugars/
Diakses pada 17 Februari 2020

Artikel Terkait