Mengenal Gejala Penyakit Scleroderma yang Membuat Kulit Mengeras


Scleroderma adalah penyakit autoimun dengan ciri produksi kolagen berlebih. Kondisi yang menyerang jaringan ikat ini menyebabkan perubahan pada kulit, pembuluh darah, hingga organ dalam. Gejala scleroderma pada satu orang dan lainnya bisa berbeda.

(0)
24 Apr 2021|Azelia Trifiana
Scleroderma membuat area kulit yang terdampak mengerasScleroderma membuat area kulit yang terdampak mengeras
Scleroderma adalah penyakit autoimun dengan ciri produksi kolagen berlebih. Kondisi yang menyerang jaringan ikat ini menyebabkan perubahan pada kulit, pembuluh darah, hingga organ dalam. Gejala scleroderma pada satu orang dan lainnya bisa berbeda.Belum ada obat khusus untuk mengobati penyakit ini. Hanya saja, perpaduan terapi dengan konsumsi obat dan perawatan tubuh bisa meredakan gejala sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.

Gejala penyakit scleroderma

Ada dua jenis utama penyakit scleroderma, yaitu lokal dan sistemik. Pada jenis scleroderma lokal, gejala yang muncul adalah pengerasan kulit. Sementara jenis scleroderma sistemik juga berdampak pada pembuluh darah dan organ dalam seperti paru-paru, ginjal, jantung, hingga saluran cerna.Lebih jauh lagi, berikut ini gejala scleroderma lokal:
  • Plak berwarna gelap di tengkuk, tangan, dan kaki (morphea)
  • Kulit berubah warna menjadi abnormal terutama di bagian tangan, kaki, dan dahi (linear)
Sementara gejala pada scleroderma sistemik dibedakan menjadi dua subtipe, yaitu terbatas dan diffuse. Gejala dari scleroderma sistemik terbatas adalah:
  • Pengerasan kulit hanya di area tertentu terutama tangan dan wajah
  • Deposit kalsium di bawah kulit
  • Terjadi fenomena Raynaud dengan ciri jari tangan dan kaki menjadi kebiruan saat terkena dingin atau stres
  • Esofagus yang membatasi mulut dan perut bergerak abnormal
  • Kulit tebal dan mengkilat di jari tangan dan kaki karena produksi kolagen berlebih
  • Pembuluh darah membesar sehingga ada bercak kemerahan di tangan dan wajah
Lebih lanjut, berikut adalah gejala scleroderma sistemik diffuse, yaitu:
  • Pengerasan kulit lebih banyak, termasuk sepanjang lengan hingga pergelangan tangan
  • Organ dalam (paru-paru, ginjal, jantung, saluran cerna, dan fungsi otot, tulang, hingga sendi) juga terdampak
  • Nyeri otot dan sendi
  • Tangan membengkak
  • Tekanan darah tinggi
  • Gagal ginjal
  • Gagal jantung kongestif
Mengingat kondisi scleroderma sistemik diffuse ini lebih kompleks, gejala yang muncul bisa berkaitan dengan organ dalam mana yang terdampak.

Apa penyebabnya?

Penyakit scleroderma terjadi karena ada kondisi tidak normal antara 3 sistem atau jaringan dalam tubuh, yaitu:
  • Sistem imun
  • Pembuluh darah
  • Jaringan ikat
Tidak jelas betul apa yang menjadi penyebab utama mengapa ketiga sistem itu mengalami kondisi abnormal. Menurut para ahli, ada kombinasi antara faktor genetik dan paparan lingkungan.Contoh paparan dari lingkungan seperti zat beracun (benzena, silika, polyvinyl chloride) dan infeksi virus atau parasit.Lebih jauh lagi, sebanyak 75% kondisi scleroderma sistemik diderita perempuan berusia 30-50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan anak-anak dan laki-laki juga bisa mengalaminya. Kondisi ini bisa terjadi dalam rentang usia antara 25-55 tahun.

Diagnosis dan cara penanganan

Tidak ada pemeriksaan tunggal yang bisa menjadi landasan diagnosis definitif untuk skleroderma. Perlu ada perpaduan beberapa pemeriksaan seperti:
  • Pemeriksaan riwayat medis dan fisik

Banyak gejala scleroderma yang terdeteksi dengan mudah saat pemeriksaan. Contohnya perubahan fisik di wajah karena ada penebalan kulit. Selain itu, tangan juga bisa tampak bengkak lengkap dengan bekas garukan karena rasa gatal yang menyertai peradangan.Lebih jauh lagi, pasien dengan scleroderma sistemik juga akan mengalami persendian kaku, pembuluh darah melebar di wajah dan tangan (telangiectasias), serta deposit kalsium di jari serta tendon.Fenomena Raynaud adalah salah satu gejala yang paling awal muncul pada scleroderma sistemik. Jari-jari bisa tampak kemerahan, kebiruan, atau menjadi putih. Namun, bisa juga fenomena ini terjadi tanpa ada hubungan dengan penyakit ini.Lebih jauh lagi, pasien juga kerap mengeluhkan masalah sistem pencernaan seperti acid reflux dan masalah menelan.  
  • Pemeriksaan darah

Sebagian besar pasien scleroderma terdeteksi positif memiliki anti-nuclear antibody (ANA) dari sampel darahnya. Mengingat scleroderma juga bisa berpengaruh terhadap fungsi ginjal, dokter mungkin juga akan meminta pemeriksaan sampel urine dan tes darah panel metabolisme dasar.
  • Pemeriksaan imaging

Sebagai dasar menegakkan diagnosis, dokter juga bisa meminta pemeriksaan imaging untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap organ dalam. Contohnya mulai dari biopsi kulit, x-ray dada, CT scan, dan ECG.Hingga kini, belum ada obat untuk scleroderma. Artinya, belum ada obat spesifik yang bisa menghentikan atau menunda mengerasnya kulit. Namun dengan perawatan khusus serta konsumsi obat, gejalanya bisa mereda. Ini sekaligus merupakan upaya mencegah terjadinya komplikasi dan memburuknya kondisi kulit.Penanganan akan bergantung pada gejala atau komplikasi yang muncul, sebagai contoh:
  • Fenomena Raynaud: Menjaga tubuh tetap hangat
  • Masalah pencernaan: Mengubah pola makan, pemberian obat sejenis proton pump inhibitor
  • Penyakit ginjal: Konsumsi obat angiotensin-converting enzyme atau ACE inihibitor
  • Penyakit paru-paru: Konsumsi obat Cytoxan atau CellCept
  • Nyeri sendi dan otot: Kombinasi terapi okupasi, terapi fisik, dan konsumsi obat anti-peradangan nonsteroid.

Catatan dari SehatQ

Selain keluhan fisik dan masalah pada fungsi organ dalam, pasien scleroderma juga kerap menghadapi masalah pola tidur dan kehidupan seksual. Belum lagi masalah yang berkaitan dengan emosi seperti tidak percaya diri pada penampilan hingga depresi.Tak kalah penting, sangat mungkin ada tantangan dari lingkungan sosial karena rendahnya pengetahuan seputar scleroderma. Hal ini bisa menyebabkan munculnya stigma negatif atau lebih parah lagi mengucilkan pasien.Kekhawatiran soal tingginya biaya yang diperlukan untuk berobat juga bisa menjadi tambahan tantangan.Artinya, sudah bukan hal baru bahwa pasien yang menderita penyakit kronis dan kompleks seperti scleroderma akan merasakan dampak luar biasa bagi kehidupannya. Namun, adanya dukungan dari support system perawatan rutin, kualitas hidup pun bisa meningkat.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar gejala hingga cara meredakan stres akibat scleroderma, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
penyakitautoimunpenyakit kulit
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/types-of-scleroderma-190373
Diakses pada 10 April 2021
Acta Medica Indonesiana. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18560030/
Diakses pada 10 April 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scleroderma/symptoms-causes/syc-20351952
Diakses pada 10 April 2021
Rheumatology Research Foundation. https://www.rheumatology.org/I-Am-A/Patient-Caregiver/Diseases-Conditions/Scleroderma
Diakses pada 10 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait