Anti sosial adalah gangguan kepribadian yang memengaruhi sikap kepedulian seseorang terhadap lingkungan sosialnya
Penderita gangguan anti sosial tidak memiliki empati dan sering memanipulasi orang lain

Orang yang dianggap tidak ingin berteman dengan orang lain atau memilih untuk sendirian sering dikategorikan sebagai orang yang “ansos” alias anti sosial. Namun, istilah anti sosial dalam masyarakat tidaklah sama dengan gangguan anti sosial.

Gangguan anti sosial berbeda dengan sikap tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain. Jika demikian, apa sebenarnya gangguan anti sosial?

Memahami gangguan anti sosial

Gangguan anti sosial atau antisocial disorder merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan ketidakpedulian akan perasaan orang lain dan mengacuhkan perilaku yang benar dan yang tidak benar.

Penderita gangguan anti sosial tidak memiliki rasa empati dan cenderung memanipulasi orang di sekitarnya atau bahkan melanggar hukum. Penderita gangguan anti sosial dikaitkan dengan psikopat atau sosiopat, tetapi secara medis, tidak ada perbedaan antara psikopat maupun sosiopat.

Psikopat versus sosiopat

Meskipun secara medis tidak ada perbedaan dari keduanya, tetapi sebagian besar ahli menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara psikopat dan sosiopat. Psikopat umumnya tidak merasakan adanya beban moral dan dapat melakukan hal-hal yang tidak benar secara moral.

Terkadang seorang psikopat akan berpura-pura atau bertingkah seakan-akan dirinya mengikuti aturan moral secara benar agar tidak disadari oleh orang sekitarnya.

Namun, sosiopat mungkin dapat merasakan beban moral akibat perbuatannya dan dapat merasakan rasa bersalah, tetapi sosiopat akan tetap melakukan hal yang salah secara moral. Dalam hal ini, keduanya memiliki rasa empati yang kurang dengan sekitarnya.

Selain itu, sosiopat cenderung mudah cemas dan gelisah, serta rentan untuk mengalami ledakan-ledakan emosi.  Dalam masyarakat, sosiopat terlihat nyentrik dan memiliki kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Sementara itu, psikopat biasanya memiliki aura yang membuat orang lain tertarik dan mudah memanipulasi orang lain. Psikopat tidak dapat menjalin hubungan yang intim dengan orang lain serta dapat terlihat ‘normal’ di mata masyarakat.

Penyebab gangguan anti sosial

Penyebab gangguan anti sosial belum diketahui. Akan tetapi, gen-gen atau situasi tertentu dapat memicu gangguan anti sosial. Adanya perubahan dalam perkembangan otak juga dapat menjadi penyebab dari gangguan anti sosial.

Gangguan anti sosial umumnya dialami lebih banyak oleh pria daripada wanita. Aksi pembakaran dan menyiksa hewan saat masa kecil dikaitkan dengan kemungkinan anak mengalami gangguan anti sosial.

Gangguan anti sosial dan tindakan kekerasan

Individu yang mengalami gangguan anti sosial tidak selalu ingin melakukan kekerasan. Sebagian besar hanya memanipulasi orang sekitarnya atau melakukan perilaku yang riskan.

Individu yang mengalami gangguan anti sosial tidak merasa takut akan konsekuensi dari perbuatannya. Namun, perlu diingat bahwa hanya karena seseorang terlihat egois, tidak berarti orang tersebut mengalami gangguan anti sosial.

Penanganan gangguan anti sosial

Individu yang mengalami gangguan anti sosial dapat ditangani dengan psikoterapi. Dalam psikoterapi, individu dapat diberikan cara untuk menangani kemarahan dan agresivitas yang dirasakan.

Namun, psikoterapi hanya dapat efektif jika individu yang mengalami gangguan anti sosial bersedia untuk bekerja sama dengan psikolog atau terapis.

Belum ada medikasi yang dapat membantu menangani individu yang mengalami gangguan anti sosial. Dokter biasanya hanya memberikan obat yang dapat menangani gejala dari gangguan anti sosial, seperti rasa cemas, dan sebagainya.

Bagaimana jika Anda memiliki kerabat dengan gangguan anti sosial?

Menghadapi kerabat atau orang di sekitar yang mengalami gangguan anti sosial bukanlah hal yang mudah. Penderita gangguan anti sosial cenderung membuat orang lain merasa tertekan tanpa merasa bersalah sedikitpun. 

Oleh karenanya, dalam menangani penderita gangguan anti sosial, Anda juga perlu untuk berdiskusi atau berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Psikolog atau psikiater dapat membantu Anda untuk menjaga dan memberikan batasan dengan penderita gangguan anti sosial.

Psikolog dan psikiater juga bisa mengajarkan cara untuk melindungi diri dari agresi dan kemarahan penderita gangguan anti sosial, serta cara-cara untuk menghadapi stres dan tekanan yang dirasakan.

Selalu pastikan bahwa psikolog dan psikiater yang ditemui sudah berpengalaman dalam menangani penderita gangguan antisosial. Anda juga bisa mengikuti komunitas dengan orang-orang yang juga sedang menghadapi teman atau kerabat yang memiliki gangguan anti sosial untuk mendapatkan dukungan dan saran.

Artikel Terkait

Banner Telemed