Mengenal Fungsi Cairan Serebrospinal yang Penting untuk Kesehatan

(0)
02 Jul 2020|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Cairan serebrospinal penting untuk lindungi otak dan tulang belakangCairan serebrospinal dapat bertindak sebagai bantalan pelindung otak
Sebagai salah satu organ vital yang perannya begitu penting untuk tubuh, otak memiliki berbagai pelindung untuk menjaganya dari kerusakan. Selain tulang tengkorak, otak juga dikelilingi oleh cairan serebrospinal.Cairan serebrospinal adalah cairan bening yang berada di bawah tulang tengkorak dan mengelilingi otak. Cairan ini juga terdapat di tulang belakang. Sehingga saat ada gangguan yang menyerang kedua organ tersebut, dokter dapat mengambil sampel dari cairan ini untuk memastikan diagnosis.

Fungsi cairan serebrospinal

Fungsi cairan serebrospinal yang utama adalah sebagai bantalan yang melindungi otak maupun tulang belakang saat benturan terjadi. Selain itu, cairan ini jugalah yang membantu menjaga kestabilan tekanan di dalam tulang tengkorak yang dinamakan tekanan intrakranial. Jika tekanan intrakranial tidak stabil, maka kepala bisa terasa sakit. Tidak berhenti sampai di situ, cairan serebrospinal juga memilki fungsi lain, yaitu untuk:
  • Mengambil zat-zat yang diperlukan otak dari darah
  • Menyingkirkan zat yang sudah tidak dibutuhkan dari sel otak
  • Menyingkirkan virus atau bakteri yang bisa menyerang otak
Karena cairan ini bisa “menangkap” virus dan bakteri yang melewatinya, maka dokter juga terkadang mengambil sampelnya untuk menentukan diagnosis suatu penyakit. Jumlah cairan di otak dan tulang belakang tidak terlalu banyak. Total, volume cairan ini hanya berjumlah sekitar 150 ml.

Penyakit yang bisa dideteksi lewat sampel cairan serebrospinal

Prosedur pemeriksaan sampel cairan ini disebut sebagai analisis cairan serebrospinal. Sementara itu, pengambilannya dilakukan dengan metode lumbar puncture. Sampel cairan ini umumnya tidak diambil dari kepala, melainkan diambil dari area tulang belakang, di punggung bagian bawah. Dokter biasanya akan menginstruksikan pengambilan sampel cairan serebrospinal pada orang yang memiliki beberapa gejala di bawah ini.
  • Sakit kepala yang sangat parah dan tak kunjung sembuh
  • Leher kaku
  • Sering mengalami halusinasi, atau kebingungan dan demensia
  • Kejang
  • Mual yang parah
  • Demam
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Tiba-tiba sulit bicara
  • Tidak bisa berjalan atau koordinasi tubuh tidak baik
Gejala tersebut ditambah pemeriksaan fisik dan analisis cairan serebrospinal, dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit seperti:
  • Multiple sclerosis: kondisi yang terjadi saat imun tubuh justru menyerang sel saraf di tubuh.
  • Myelitis: peradangan atau inflamasi pada tulang belakang
  • Encephalitis: peradangan pada sel-sel otak
  • Meningitis: radang selaput otak
  • Stroke: gangguan pembuluh darah otak
  • Leukima: kanker darah

Gangguan cairan serebrospinal

Cairan serebrospinal juga bisa mengalami gangguan tersendiri, seperti bocor ke luar selaput otak dan tertumpuk di bawah tulang tengkorak. Berikut ini jenis penyakit yang bisa menyerang cairan tersebut.

1. Kebocoran cairan serebrospinal

Kebocoran cairan serebrospinal bisa terjadi saat lapisan otak yang dinamakan dura mater, berlubang atau sobek. Padahal, lapisan ini berfungsi sebagai penahan agar cairan ini bisa mengelilingi otak dan tulang belakang.Keluarnya cairan serebrospinal ini membuat otak tidak lagi memiliki bantalan yang baik. Sehingga, penderitanya akan sering merasa sakit kepala. Berkurangnya jumlah cairan ini juga akan mengurangi tekanan intrakranial. Penurunan tekanan ini dapat disebut sebagai hipotensi intrakranial.Kebocoran ini bisa terjadi karena beberapa hal, yaitu:
  • Benturan atau cedera di kepala dan tulang belakang
  • Sebagai efek samping atau risiko operasi kepala
  • Kelainan bentuk tulang tengkorak

2. Hidrosefalus atau kondisi kepala membesar

Hidrosefalus adalah kondisi menumpuknya cairan serebrospinal di kepala, yang mengakibatkan ukuran kepala membesar jauh di atas normal.Penumpukan ini bisa terjadi saat ada ketidakseimbangan antara volume produksi cairan serebrospinal dan penyerapannya oleh pembuluh darah. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja. Namun, bayi dan lansia berusia di atas 60 tahun paling sering mengalaminya.
Gejala yang muncul akibat penumpukan cairan serbrospinal ini antara lain:
  • Ukuran kepala yang membesar drastis
  • Sering muntah
  • Sering menangis (pada bayi)
  • Kejang
  • Mata tidak bisa bergerak normal dan posisinya berhenti seperti sedang melihat ke atas terus-menerus
  • Tubuh lemas dan kekuatan otot berkurang
Penyakit ini dapat disembuhkan dengan jalan operasi. Selama operasi, dokter akan mengeluarkan cairan serebrospinal yang menumpuk sehingga keseimbangan cairan tersebut bisa kembali normal.Selain itu dokter akan melakukan pemasangan shunt dengan menempatkan tabung panjang dan fleksibel di otak kemudian disalurkan ke bagian tubuh lain sehingga kelebihan cairan serebrospinal dapat lebih mudah diserap seperti di perut.Setelah mengetahui lebih jauh soal cairan serebrospinal, Anda diharapkan mulai memupuk kesadaran dan kewaspadaan apabila ada gejala gangguan yang dialami. Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda merasakan gangguan tertentu yang dirasa terkait dengan cairan ini.
kesehatan otakpenyakit otaksaraf tulang belakangfungsi organ
WebMD. https://www.webmd.com/brain/cerebrospinal-fluid-facts#1
Diakses pada 18 Juni 2020
Encyclopedia Brittanica. https://www.britannica.com/science/cerebrospinal-fluid
Diakses pada 18 Juni 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/csf-analysis
Diakses pada 18 Juni 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hydrocephalus/symptoms-causes/syc-20373604
Diakses pada 18 Juni 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16854-cerebrospinal-fluid-csf-leak
Diakses pada 18 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait