Mengenal Disonansi Kognitif, Konflik Batin yang Sering Terjadi Dalam Hidup

(0)
22 Sep 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Disonansi kognitif adalah kondisi perang batin saat seseorang dihadapkan dengan dua keyakinan yang berbedaTerpaksa melakukan sesuatu meski tidak sesuai dengan nilai yang dianut merupakan bentuk disonansi kognitif
Pada beberapa momen dalam hidup, kita sering dihadapkan dengan hal yang tidak sesuai dengan keyakinan yang kita percayai. Anda mungkin juga pernah terpaksa melakukan sesuatu walau sebenarnya ada pergolakan batin dalam menjalaninya. Kondisi ini disebut dengan disonansi kognitif – terjadi ketika adanya ketidaksesuaian (disonansi) antara dua kepercayaan atau nilai dan menimbulkan rasa tak nyaman. Bagaimana manusia menghadapi disonansi kognitif?

Apa itu disonansi kognitif?

Disonansi kognitif adalah istilah yang merujuk pada kondisi mental yang tidak nyaman saat menghadapi dua keyakinan atau nilai yang berbeda. Kondisi ini juga terjadi ketika seseorang melakukan hal yang tidak sesuai dengan nilai dan keyakinan yang dianut. Istilah disonansi kognitif diperkenalkan sebagai teori oleh ahli yang bernama Leon Festinger tahun 1957. Teori disonansi kognitif berpusat pada bagaimana seseorang berusaha untuk mendapatkan konsistensi dan kesesuaian dalam sikap dan perilaku mereka. Menurut Leon Festinger,  keyakinan yang berkonflik atau tidak sesuai dapat menghapus harmoni dalam diri – suatu kondisi yang berusaha dijauhi oleh orang-orang. Konflik nilai inilah yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Ketidaksesuaian saat mengalami disonansi kognitif membuat seseorang akan mencari cara untuk mengurangi ketidaknyaman tersebut.Konsep disonansi kognitif telah lama menjadi salah satu teori yang berpengaruh dalam keilmuan psikologi sosial. Teori ini juga menjadi subjek penelitian yang banyak dilakukan oleh para ahli.

Contoh kondisi disonansi kognitif dalam kehidupan sehari-hari

Tetap merokok meski tahu bahayanya bagi kesehatan merupakan contoh disonansi kognitif
Tetap merokok meski dapat membahayakan paru-paru merupakan contoh disonansi kognitif
Sebagai konsep yang terkenal dalam keilmuan psikologi, disonansi kognitif sering kita alami sehari-hari. Contoh disonansi kognitif termasuk:
  • Seseorang tetap merokok walau ia paham bahwa aktivitas tersebut dapat mengganggu kesehatannya
  • Seseorang mengatakan kebohongan namun ia meyakinkan dirinya bahwa ia sedang mengatakan hal yang baik
  • Seseorang memaparkan pentingnya olahraga walau ia sendiri tidak melakukannya. Perilaku ini dikenal dengan hipokrisi atau kemunafikan.
  • Seseorang mengonsumsi daging walau menyebut dirinya pencinta hewan yang tidak menyetujui sembelih hewan. Perilaku ini dikenal juga dengan istilah meat paradox.

Penyebab munculnya disonansi kognitif

Terdapat beberapa faktor yang menimbulkan konflik dan disonansi kognitif. Faktor tersebut termasuk:

1. Tekanan dari pihak lain

Disonansi kognitif seringkali muncul akibat paksaan atau tekanan yang sulit dihindari. Misalnya, seorang karyawan tetap pergi bekerja ke kantor di tengah pandemi Covid-19. Ia terpaksa berangkat ke kantor karena takut dipecat serta demi mempertahankan penghasilannya. Kasus lain yakni peer pressure dari orang terdekat. Misalnya, seorang karyawan yang tengah berhemat “terpaksa” ikut memesan makanan secara online agar bisa berbaur dengan teman-teman kantornya. 

2. Informasi baru

Terkadang, menerima suatu informasi baru dapat menimbulkan kondisi disonansi kognitif dan rasa tidak nyaman dalam dirinya. Misalnya, seorang pria memiliki teman laki-laki yang baru saja melela atau coming out sebagai pria homoseksual. Kondisi tersebut membuatnya dilema karena ia menganut kepercayaan bahwa homoseksual adalah suatu bentuk dosa. 

3. Keputusan yang diambil

Sebagai manusia, kita akan terus menciptakan beragam keputusan. Saat dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama kuat, kita akan mengalami kondisi disonansi. Misalnya, seseorang menerima dua tawaran pekerjaan, yakni satu pekerjaan di dekat rumah orangtuanya dan satu pekerjaan di luar kota namun dengan gaji lebih tinggi. Ia mungkin bingung dengan dua pilihan tersebut karena menurutnya faktor kedekatan dengan keluarga dan gaji sama pentingnya. 

Cara manusia menghadapi disonansi kognitif

Rasa tidak nyaman saat mengalami disonansi kognitif dapat dikurangi dengan beberapa metode, yaitu:

1. Menolak atau menghindari suatu informasi 

Kondisi disonansi kognitif seringkali dikurangi dengan menghindari suatu informasi baru yang berkonflik dengan keyakinannya. Misalnya, seorang perokok menemukan informasi riset bahwa rokok dapat meningkatkan risiko komplikasi kanker paru. Karena berat baginya untuk menghindari rokok, ia mungkin tetap memilih melupakan informasi tersebut, mengatakan bahwa riset tersebut belum tentu benar, dan tetap merokok. Kondisi ini dikenal dengan bias konfirmasi. 

2. Melakukan justifikasi

Saat mengalami disonansi kognitif, seseorang mungkin akan melakukan justifikasi dan meyakinkan diri dalam melakukan hal tertentu. Misalnya, seorang karyawan terpaksa menemani atasannya untuk mengonsumsi minuman alkohol di kelab malam. Walau sebenarnya ia khawatir dengan risiko kesehatan akibat konsumsi alkohol, si karyawan mungkin tetap memesan minuman tersebut dan melakukan justifikasi bahwa ia melakukannya demi kepentingan karier dan membuat atasannya terkesan.

3. Mengubah keyakinan lama

Cara lain manusia menyelesaikan disonansi kognitif adalah dengan mengubah keyakinan yang selama ini ia anut. Misalnya, seorang perokok menerima informasi riset bahwa penggunaan rokok meningkatkan risiko komplikasi kanker paru.  Setelah membaca atau mendengar informasi tersebut, ia mungkin berusaha untuk berhenti merokok.

Catatan dari SehatQ

Disonansi kognitif adalah kondisi perang batin saat seseorang dihadapkan dengan dua keyakinan yang berbeda. Kondisi ini tentu sering kita alami dalam kehidupan bermasyarakat. Teori disonansi kognitif juga menjadi konsep yang terkenal dan banyak dikaji dalam keilmuan psikologi sosial.
gangguan psikologisberpikir positif
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326738
Diakses pada 9 September 2020
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-cognitive-dissonance-2795012
Diakses pada 9 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait