Eklampsia pada ibu hamil merupakan kondisi serius yang dapat mengancam keselamatan ibu hamil
Eklampsia pada ibu hamil membutuhkan penanganan segera

Eklampsia pada ibu hamil adalah salah satu masalah kehamilan yang jarang terjadi. Tapi, kondisi ini merupakan hal yang serius karena dapat mengancam keselamatan ibu dan janin.

Eklampsia biasanya diawali dengan preeklampsia, namun bisa juga tidak. Terdapat beberapa ciri dari eklampsia pada ibu hamil yang harus Anda ketahui.

Ciri-ciri eklampsia pada ibu hamil

Eklampsia merupakan komplikasi parah dari preeklampsia. Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah ibu hamil menjadi tinggi. Tekanan darah yang tinggi dapat merusak arteri dan pembuluh darah lainnya. Kerusakan pada arteri pun bisa membatasi aliran darah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan pada pembuluh darah di otak Anda dan bayi yang sedang tumbuh.

Hal tersebut bisa mengganggu kemampuan fungsi otak sehingga terjadilah kejang (eklampsia). Dengan kata lain, eklampsia adalah kejang pada masa kehamilan. Sebagian besar kasus eklampsia terjadi pada trimester tiga kehamilan. Berikut ciri-ciri eklampsia pada ibu hamil yang umum terjadi:

  • Kejang

Kejang menjadi ciri utama dari eklampsia. Sekitar 80 persen kejang eklampsia terjadi saat melahirkan atau dalam 48 jam pertama setelah melahirkan. Kejang pada eklampsia bisa terjadi satu kali atau bahkan lebih.

Kejang tersebut dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama berlangsung selama 15-20 detik yang ditandai dengan wajah berkedut, tubuh menjadi kaku, dan seluruh otot berkontraksi.

Lalu, fase kedua berlangsung selama 60 detik yang dimulai dari rahang, otot-otot wajah, dan kelopak mata kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

  • Hilang kesadaran

Kejang pada eklampsia dapat membuat ibu hamil hilang kesadaran. Hal ini disebabkan karena otak tidak mendapat cukup oksigen. Hilang kesadaran dapat berlangsung selama beberapa menit atau bahkan berujung pada kematian.

  • Gelisah berat

Ketika ibu hamil tersadar setelah mengalami hilang kesadaran, ia akan merasa sangat gelisah dan tidak ingat telah mengalami kejang. Namun, otot-otot masih bisa terasa nyeri akibat kejang yang dialami.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia sehingga bisa jadi Anda juga mengalami kedua ciri atau gejalanya. Adapun ciri umum dari preeklampsia, yaitu:

  • Tekanan darah tinggi
  • Bengkak di wajah atau tangan
  • Sakit kepala
  • Berat badan naik secara berlebih
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan hilang atau kabur
  • Susah buang air kecil
  • Sakit perut, terutama pada perut kanan atas

Sebagian besar kasus preeklampsia dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi eklampsia, namun hal tersebut juga bisa tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, perawatan preeklampsia sedini mungkin diperlukan sebelum menjadi eklampsia. Meskipun tidak ada obatnya, dokter akan meresepkan obat penurun tekanan darah dan obat antikonvulsan untuk mencegah terjadinya kejang.

Faktor risiko dan akibat eklampsia pada ibu hamil

Jika Anda mengalami atau pernah mengalami preeklampsia, maka Anda juga berisiko mengembangkan eklampsia. Berikut adalah faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadi eklampsia:

  • Hipertensi gestasional (tekanan darah di atas 140/90 mmhg setelah kehamilan di atas 20 minggu)
  • Hipertensi kronis (tekanan darah di atas 140/90 mmhg setelah kehamilan di bawah 20 minggu)
  • Berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 20 tahun saat hamil
  • Kehamilan kembar
  • Kehamilan pertama
  • Diabetes atau kondisi lain yang memengaruhi pembuluh darah
  • Penyakit ginjal

Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut, maka Anda harus berhati-hati dan konsultasikan pada dokter.

Eklampsia dapat menyebabkan berbagai kondisi tertentu pada ibu hamil. Sebagian besar dari kondisi tersebut sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan segera. Eklampsia pada ibu hamil dapat menyebab plasenta (organ yang menyalurkan oksigen dan nutrisi ke janin) tidak berfungsi dengan baik hingga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah, memiliki masalah kesehatan lain, ataupun lahir mati.

Bukan hanya itu, komplikasi eklampsia pada ibu hamil juga bisa mengakibatkan stroke, kerusakan hati, kerusakan ginjal, henti jantung, atau bahkan kematian. Secara global, eklampsia menyumbang sekitar 14% dari kematian ibu. Kejang pada eklampsia juga dapat menyebabkan ibu hamil mengalami trauma kepala dan patah tulang.

Jika Anda mengalami eklampsia, dokter mungkin akan melahirkan bayi Anda lebih awal. Hal ini dilakukan untuk mengatasi eklampsia yang Anda alami. Pada sebagian kasus, diperlukan operasi caesar untuk mencegah kenaikan tekanan darah saat melahirkan.

Apabila kehamilan dibiarkan berlanjut tanpa penanganan ketika ibu mengalami eklampsia, komplikasi yang berujung pada kematian bisa terjadi. Biasanya, dalam jangka waktu 6 minggu setelah melahirkan gejala eklampsia akan sembuh sendiri.

Namun, beberapa wanita bisa terus mengalami masalah dengan tekanan darah yang tinggi setelah melahirkan sehingga harus selalu dipantau. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda terus melakukan pemeriksaan setelah melahirkan jika memang memiliki eklampsia maupun preeklampsia.

Healthline. https://www.healthline.com/health/eclampsia#risk-factors
Diakses pada 01 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/316255.php
Diakses pada 01 Agustus 2019

Emedicine health. https://www.emedicinehealth.com/eclampsia/article_em.htm#what_is_the_prognosis_for_a_woman_with_eclampsia
Diakses pada 01 Agustus 2019

Emedicine Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/253960-overview#a19
Diakses pada 01 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed