Mengenal Eklampsia pada Ibu Hamil yang Berbahaya


Eklampsia pada ibu hamil merupakan kondisi serius yang dapat mengancam keselamatan ibu. Hal ini ditandai dengan terjadinya kejang pada ibu hamil.

0,0
01 Aug 2019|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Eklampsia pada ibu hamil merupakan kondisi serius yang dapat mengancam keselamatan jiwaEklampsia pada ibu hamil membutuhkan penanganan segera
Eklampsia pada ibu hamil adalah salah satu masalah kehamilan yang jarang terjadi. Tapi, kondisi ini merupakan hal yang serius karena dapat mengancam keselamatan ibu dan janin.Eklampsia biasanya diawali dengan preeklampsia, namun bisa juga tidak. Terdapat beberapa ciri dari eklamsia pada ibu hamil yang harus Anda ketahui.

Penyebab eklampsia pada ibu hamil

Hingga saat ini, penyebab terjadinya eklamsia pada ibu hamil belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi adanya kelainan pada bentuk dan fungsi plasenta diduga menjadi salah satu faktor pemicunya. Selain itu, kondisi lainnya yang juga bisa menyebabkan eklampsia adalah preeklampsia pada ibu hamil.Eklampsia merupakan komplikasi parah dari preeklampsia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah ibu hamil yang menjadi tinggi. Tekanan darah yang tinggi dapat merusak arteri dan pembuluh darah lainnya.Kerusakan pada arteri pun bisa membatasi aliran darah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan pada pembuluh darah di otak Anda dan bayi yang sedang tumbuh.Hal tersebut bisa mengganggu kemampuan fungsi otak sehingga terjadilah kejang (eklampsia). Dengan kata lain, eklamsia pada ibu hamil adalah kejang pada masa kehamilan.Baca juga: Ketahui Penyebab Preeklamsia pada Ibu Hamil agar Lebih Waspada

Faktor risiko dan akibat eklampsia pada ibu hamil

Jika Anda mengalami atau pernah mengalami preeklampsia, maka Anda juga berisiko mengembangkan eklampsia. Berikut adalah faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadi eklampsia:
  • Hipertensi gestasional (tekanan darah di atas 140/90 mmhg setelah kehamilan di atas 20 minggu)
  • Hipertensi kronis (tekanan darah di atas 140/90 mmhg setelah kehamilan di bawah 20 minggu)
  • Berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 20 tahun saat hamil
  • Kehamilan kembar
  • Kehamilan pertama
  • Diabetes atau kondisi lain yang memengaruhi pembuluh darah
  • Penyakit ginjal
Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut, maka Anda harus berhati-hati dan konsultasikan pada dokter.Eklampsia dapat menyebabkan berbagai kondisi tertentu pada ibu hamil. Sebagian besar dari kondisi tersebut sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan segera.Dikutip dari penelitian yang dibuplikasikan oleh National Center for Biotechnology Information (NIH), eklampsia pada ibu hamil dapat menyebabkan plasenta (organ yang menyalurkan oksigen dan nutrisi ke janin) tidak berfungsi dengan baik hingga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah, memiliki masalah kesehatan lain, ataupun lahir mati.Bukan hanya itu, komplikasi eklamsia pada ibu hamil juga bisa mengakibatkan stroke, kerusakan hati, kerusakan ginjal, henti jantung, atau bahkan kematian. Secara global, eklampsia menyumbang sekitar 14% dari kematian ibu. Kejang pada eklampsia juga dapat menyebabkan ibu hamil mengalami trauma kepala dan patah tulang.Komplikasi kehamilan lainnya yang bisa terjadi akibat kondisi ini adalah gangguan pada kehamilan seperti pertumbuhan janin terhambat, solusio plasenta, oligohidramnion atau bayi lahir prematur.Kondisi ini juga meningkatkan risiko ibu hamil mengalami preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan berikutnya.Baca juga: Memahami Gejala Preeklampsia dan Eklampsia Semasa Hamil

Ciri-ciri eklampsia pada ibu hamil

Sebagian besar kasus eklampsia terjadi pada trimester tiga kehamilan. Berikut ciri-ciri eklampsia pada ibu hamil yang umum terjadi:

1. Kejang

Kejang menjadi ciri utama dari eklampsia. Sekitar 80 persen kejang eklampsia terjadi saat melahirkan atau dalam 48 jam pertama setelah melahirkan. Kejang pada eklampsia bisa terjadi satu kali atau bahkan lebih.Kejang tersebut dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama berlangsung selama 15-20 detik yang ditandai dengan wajah berkedut, tubuh menjadi kaku, dan seluruh otot berkontraksi.Lalu, fase kedua berlangsung selama 60 detik yang dimulai dari rahang, otot-otot wajah, dan kelopak mata kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

2. Hilang kesadaran

Kejang pada eklampsia dapat membuat ibu hamil hilang kesadaran. Hal ini disebabkan karena otak tidak mendapat cukup oksigen. Hilang kesadaran dapat berlangsung selama beberapa menit atau bahkan berujung pada kematian.

3. Gelisah berat

Ketika ibu hamil tersadar setelah mengalami hilang kesadaran, ia akan merasa sangat gelisah dan tidak ingat telah mengalami kejang. Namun, otot-otot masih bisa terasa nyeri akibat kejang yang dialami.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia sehingga bisa jadi Anda juga mengalami kedua ciri atau gejalanya. Adapun ciri umum dari preeklampsia, yaitu:
  • Tekanan darah tinggi
  • Bengkak di wajah atau tangan
  • Sakit kepala
  • Berat badan naik secara berlebih
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan hilang atau kabur
  • Susah buang air kecil
  • Sakit perut, terutama pada perut kanan atas
Sebagian besar kasus preeklampsia dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi eklampsia, namun hal tersebut juga bisa tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, perawatan preeklampsia sedini mungkin diperlukan sebelum menjadi eklampsia.Meskipun tidak ada obatnya, dokter akan meresepkan obat penurun tekanan darah dan obat antikonvulsan untuk mencegah terjadinya kejang.Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal Ibu Hamil? Ketahui Rentangnya Berikut Ini

Pengobatan eklampsia pada ibu hamil

Sebelum melakukan pengobatan eklampsia pada ibu hamil, dokter akan terlebih dahulu melakukan serangkaian tes seperti:
  • Tes darah
  • Tes urin
  • Tes fungsi hati
  • Tes fungsi ginjal
  • Ultrasonografi (USG)
Cara dalam menangani eklampsia yang terjadi pada ibu hamil hanyalah dengan melahirkan bayi yang dikandungnya.Namun, jika sudah terjadi eklampsia umumnya dokter akan memberikan beberapa penanganan berikut ini:
  • Memberikan obat untuk mengontrol tekanan darah seperti hydralazine, labelatol, dan nifedifine.
  • Memberikan suplemen vitamin
  • Merekomendasikan ibu hamil untuk istirahat total di rumah atau di rumah sakit dengan posisi tidur yang disarankan menyamping ke kiri.
  • Melakukan pemantauan kondisi janin dan ibu secara berkala.
  • Jika sampai terjadi kejang pada ibu hamil, dokter juga akan memberikan obat seperti magnesium sulfat, atau diazepam, phenytoin, dan natrium amobarbital jika kejang tetap berlanjut.
Jika Anda mengalami eklampsia, dokter mungkin akan melahirkan bayi Anda lebih awal. Hal ini dilakukan untuk mengatasi eklampsia yang Anda alami. Pada sebagian kasus, diperlukan operasi caesar untuk mencegah kenaikan tekanan darah saat melahirkan.Apabila kehamilan dibiarkan berlanjut tanpa penanganan ketika ibu mengalami eklampsia, komplikasi yang berujung pada kematian bisa terjadi. Biasanya, dalam jangka waktu 6 minggu setelah melahirkan gejala eklampsia akan sembuh sendiri.Namun, beberapa wanita bisa terus mengalami masalah dengan tekanan darah yang tinggi setelah melahirkan sehingga harus selalu dipantau. Oleh sebab itu, sebaiknya Anda terus melakukan pemeriksaan setelah melahirkan jika memang memiliki eklampsia maupun preeklampsia.

Cara mencegah eklampsia pada ibu hamil

Sebenarnya belum ada langkah pasti untuk mencegah preeklampsia dan eklampsia selama kehamilan. Namun, sejumlah langkah berikut dapat menurunkan risiko terjadinya pada ibu hamil:
  • Melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala
  • Mengonsumsi aspirin dosis rendah. Pemberian aspirin dimaksudkan untuk mencegah penggumpalan darah dan pengecilan pembuluh darah
  • Menerapkan gaya hidup sehat dengan menjaga berat badan tetap ideal selama hamil
  • Mengonsumsi suplemen tambahan seperti vitamin mulai dari usia kehamilan trimester kedua
Jika Anda ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
preeklampsiaeklampsia
Healthline. https://www.healthline.com/health/eclampsia#risk-factors
Diakses pada 01 Agustus 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/316255.php
Diakses pada 01 Agustus 2019
Emedicine health. https://www.emedicinehealth.com/eclampsia/article_em.htm#what_is_the_prognosis_for_a_woman_with_eclampsia
Diakses pada 01 Agustus 2019
Emedicine Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/253960-overview#a19
Diakses pada 01 Agustus 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait