logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Mengenal Apa Itu Electra Complex, Kebalikan dari Oedipus Complex

open-summary

Jika anak laki-laki bisa mengalami oedipus complex yaitu ketertarikan berlebih kepada ibunya, istilah untuk anak perempuan yang mengalami hal serupa adalah electra complex. Ini adalah konsep ketika anak perempuan berusia 3-6 tahun tanpa sadar memiliki ketertarikan berlebih – termasuk secara seksual – kepada ayahnya.


close-summary

5

(2)

30 Jun 2020

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Electra complex terjadi pada anak usia 3-6 tahun

Electra complex terjadi saat anak perempuan tertarik kepada ayahnya

Table of Content

  • Teori seputar electra complex
  • Kontroversi seputar electra complex
  • Bagaimana jika anak perempuan tertarik pada ayah?

Jika anak laki-laki bisa mengalami oedipus complex yaitu ketertarikan berlebih kepada ibunya, istilah untuk anak perempuan yang mengalami hal serupa adalah electra complex. Ini adalah konsep ketika anak perempuan berusia 3-6 tahun tanpa sadar memiliki ketertarikan berlebih – termasuk secara seksual – kepada ayahnya.

Advertisement

Lebih jauh lagi, anak yang mengalami electra complex juga bisa berlaku kasar kepada ibunya. Teori ini pertama kali ditemukan seorang psikiater asal Swiss bernama Carl Jung pada tahun 1913.

Teori seputar electra complex

Sama seperti oedipus complex yang berasal dari bahasa Yunani, electra complex pun berasal dari akar budaya yang sama. Menurut mitologi Yunani, Electra adalah nama putri Agamemnon dan Clytemnestra. Ketika Clytemnestra dan pacarnya Aegisthus membunuh sang suami Agamemnon, Electra mengajak saudaranya Orestes untuk membunuh ibu dan pacarnya.

Dalam teori baik oedipus complex maupun electra complex, semua orang akan melewati fase psikoseksual saat masih anak-anak. Tahap terpenting ini terjadi pada usia 3-6 tahun, disebut phallic stage.

Pada periode ini, anak laki-laki dan perempuan punya ketertarikan pada penis. Khususnya pada fase pertumbuhan anak perempuan, rasa tidak suka kepada ibunya bisa terjadi ketika menyadari bahwa dirinya tidak memiliki penis dan merasa hal itu terjadi karena sang ibu. Menurut Sigmund Freud, hal ini disebut “penis envy”.

Ketidaksukaan kepada sang ibu membuat anak perempuan memilih dekat pada sang ayah. Semakin lama, muncul rasa ketakutan kehilangan rasa cinta dan kasih sayang dari sayang ayah. Dibandingkan dengan oedipus complex, electra complex bisa terjadi lebih intens.

Baca Juga

  • Berberine, Zat Bioaktif yang Bantu Turunkan Kadar Gula Darah dan Kolesterol
  • Kalori Naik Turun Tangga dan Manfaat Naik Turun Tangga untuk Kesehatan
  • Family Therapy, Solusi Konflik Keluarga yang Dianggap Efektif

Kontroversi seputar electra complex

Di dunia psikologi, sebenarnya konsep electra complex tidak sepenuhnya diterima. Sama seperti ketika Sigmund Freud menolak konsep electra complex karena hanya berupa analogi oedipus complex pada gender yang berbeda. Hingga kini pun, masih banyak teori yang menentang konsep “penis envy” dan electra complex.

Belum lagi, tidak banyak data yang mendukung konsep electra complex benar-benar terjadi. Tak pelak pula, konsep oedipus complex dan electra complex menuai kritik karena ada kecenderungan bersifat seksisme.

Menurut paham psikolog yang berkembang dan menentang electra complex, memang wajar ketika anak perempuan merasa lebih tertarik kepada ayahnya, bahkan secara seksual. Hanya saja, tidak bisa ditarik kesimpulan universal bahwa anak perempuan itu mengalami electra complex seperti konsep Carl Jung.

Begitu tidak diterimanya konsep electra complex, bahkan banyak yang menjadikannya bahan lelucon di dunia psikologi. Seiring dengan perkembangannya, lebih banyak yang merasa bahwa teori electra complex tidak benar-benar terjadi.

Bagaimana jika anak perempuan tertarik pada ayah?

Namun wajar jika ada kekhawatiran orangtua ketika anak perempuan mereka lebih tertarik pada ayah. Jika ketertarikan ini sudah mengarah ke aspek perilaku seksual, tak ada salahnya berkonsultasi dengan pakar mental profesional. Nantinya, akan ada penilaian perilaku dan rekomendasi perawatan tertentu jika memang diperlukan.

Sebenarnya, ketika anak perempuan lebih mencari perhatian atau kasih sayang dari sang ayah ketimbang ibunya, itu hanya fase sesaat. Bahkan ketika anak berkata ingin menikah dengan ayahnya, bukan serta merta berarti hal yang buruk atau mengindikasikan ada yang tidak beres.

Ayah akan selalu menjadi sosok role model terdekat bagi anak perempuan. nantinya, ketika sosialisasi dengan anak seusianya lebih mendominasi, tendensi untuk lebih tertarik kepada sang ayah akan berangsur normal.

Ketika anak berada di fase psikoseksual, mereka belajar hal-hal seputar seksualitas tak hanya dari satu sisi saja. Kedua orangtua baik ayah maupun ibu sama-sama berperan dalam memperkenalkan hal seputar seksual sejak dini kepada anak perempuan.

Advertisement

kesehatan mentalhidup sehatmenjalin hubungan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved