Delusi merupakan suatu kepercayaan yang kuat akan sesuatu namun tidak sesuai dengan kenyataannya
Delusi dapat dialami oleh penderita skizofrenia, psikosis, dan bipolar serta memiliki jenis yang beragam

Delusi biasanya diasosiasikan dengan penderita skizofrenia. Hal ini tidaklah salah, tetapi kurang tepat jika Anda hanya berpikir bahwa delusi hanya dialami oleh penderita skizofrenia.

Delusi dapat dialami juga oleh penderita gangguan bipolar. Selain itu, delusi sebenarnya juga dapat dialami secara terpisah atau bersamaan dengan halusinasi. Kondisi tersebut biasanya dikenal dengan nama gangguan psikosis.

Delusi dapat merusak hubungan penderita dengan orang sekitarnya dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, jika orang-orang di sekitar Anda mengalami delusi atau psikosis, segera rujuk ke dokter dan ahli kesehatan mental.

Jenis-jenis delusi

Delusi yang dialami tiap penderita mungkin berbeda-beda. Umumnya, delusi yang sering dialami adalah delusi paranoia. Berikut adalah jenis-jenis delusi:

1. Delusi keagungan (grandiose delusion)

Penderita dengan delusi jenis ini umumnya memiliki rasa keberhargaan diri, kekuatan, identitas, dan pengetahuan yang berlebihan. Penderita dapat merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang luar biasa atau memiliki kemampuan yang unik.

Tidak hanya berupa kemampuan yang unik, penderita juga percaya bahwa dirinya memiliki benda unik tertentu yang tidak dimiliki siapapun ataupun memercayai bahwa dirinya memiliki koneksi dengan orang-orang penting.

Pada kasus tertentu, penderita delusi keagungan percaya bahwa ia adalah orang yang terkenal atau merupakan pemimpin dari suatu sekte agama tertentu.

2. Delusi somatik

Penderita delusi somatik percaya bahwa dirinya memiliki kecacatan pada bagian tubuhnya atau memiliki kondisi medis tertentu. Penderita juga terkadang dapat merasakan sensasi atau disfungsi fisik tertentu.

3. Delusi erotomanik (erotomanic delusion)

Penderita dengan gangguan delusi jenis ini percaya bahwa dirinya dicintai atau disukai oleh orang tertentu. Biasanya orang yang dianggap menyukai atau mencintai penderita adalah orang yang terkenal atau penting.

Penderita delusi erotomanik berusaha mendekati dan berinteraksi dengan orang yang ia anggap mencintai atau menyukainya, bahkan sampai menguntit orang tersebut secara diam-diam.

4. Delusi paranoia (paranoia/persecutory delusion)

Delusi paranoia menyebabkan penderita memercayai bahwa dirinya tidak diperlakukan dengan benar, meyakini bahwa dirinya sedang diintai atau diikuti, atau seseorang sedang berencana untuk melukainya.

Penderita menjadi tidak memercayai orang sekitarnya dan merasa cemas serta takut. Terkadang penderita akan mengisolasi dirinya atau sering mengajukan komplain ke pihak berwajib.

5. Delusi kecemburuan

Penderita delusi kecemburuan akan memercayai bahwa pasangannya selingkuh dan tidak jujur dengannya.

6. Delusi campuran

Jenis delusi yang dialami penderita bisa jadi tidak hanya satu jenis saja tetapi bercampur dengan jenis-jenis lainnya.

Delusi versus halusinasi

Delusi sering kali tertukar dengan halusinasi. Delusi merupakan suatu kepercayaan yang kuat akan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Sementara, halusinasi merujuk pada persepsi akan sesuatu yang tidak nyata, seperti mendengarkan, melihat, merasakan, mencium, atau mengecap sesuatu yang tidak nyata.

Pada psikosis, penderita bisa saja hanya mengalami delusi atau dapat mengalami halusinasi dan delusi. Hal yang serupa juga terjadi pada penderita skizofrenia.

Penyebab delusi

Penyebab pasti dari delusi belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor dapat berkontribusi dalam memicu kemunculan delusi, seperti:

  • Faktor lingkungan

    Faktor lingkungan seperti stres serta penyalahgunaan alkohol dan narkotika berpotensi mengakibatkan delusi. Orang-orang yang cenderung terisolasi, seperti orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran dan penglihatan, serta imigran lebih mungkin untuk mengalami gangguan delusi.

  • Faktor genetik

    Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor genetik berperan dalam menimbulkan gangguan delusi. Gangguan delusi diyakini dapat diturunkan dari orangtua kepada anak, serta lebih mungkin dialami oleh orang yang memiliki anggota keluarga yang juga mengalami gangguan delusi atau skizofrenia.

  • Faktor biologis

    Faktor biologis atau kondisi fisik seseorang juga dapat menentukan kemungkinan seseorang mengalami gangguan delusi. Gangguan delusi berpotensi muncul pada orang yang memiliki daerah otak yang tidak normal, khususnya pada bagian otak yang mengatur pemikiran dan persepsi.

Apa yang harus dilakukan?

Penderita harus segera dirujuk ke dokter dan ahli kesehatan mental untuk pemeriksaan secara menyeluruh dan diberikan penanganan khusus untuk mencegah gejala-gejala yang dialami semakin parah.

Selain mendapatkan obat dan psikoterapi, penderita akan sangat membutuhkan dukungan dan pengertian dari orang-orang sekitarnya.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9599-delusional-disorder
Diakses pada 18 April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/psychosis#false-realities
https://www.healthline.com/health/mental-health/delusions-of-grandeur
https://www.healthline.com/health/paranoia#symptoms
Diakses pada 18 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
Diakses pada 18 April 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/delusional-disorder
Diakses pada 18 April 2019

WebMD. https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/delusional-disorder#2
Diakses pada 29 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed