logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Wanita

4 Fase dalam Siklus Menstruasi yang Penting Diketahui

open-summary

Empat fase menstruasi adalah fase menstruasi, fase folikuler, fase ovulasi, dan fase luteal. Hormon yang berperan dalam fase tersebut antara lain estrogen, progesteron, FSH, dan LH.


close-summary

3.58

(26)

30 Okt 2019

| Dina Rahmawati

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Empat fase menstruasi adalah fase menstruasi, fase folikuler, fase ovulasi, dan fase luteal

Ada 4 fase yang terjadi dalam siklus menstruasi wanita

Table of Content

  • Apa itu siklus menstruasi?
  • 4 fase menstruasi dalam siklus menstruasi
  • Siklus menstruasi abnormal

Siklus menstruasi seorang perempuan normalnya terjadi selama 21-35 hari. Dalam satu siklus tersebut, ada empat fase yang akan dilalui, yaitu fase menstruasi, fase folikular, fase ovulasi, dan fase luteal. Pada masing-masing fase tersebut ada hormon khusus yang berperan.

Advertisement

Keempat fase ini berperan penting dalam proses reproduksi. Sehingga, apabila sampai ada gangguan yang terjadi, bisa saja berpengaruh pada kesuburan.

Karena itu penting bagi Anda untuk memahami lebih lanjut setia fase dalam siklus menstruasi yang dilalui.

Apa itu siklus menstruasi?

Siklus menstruasi terbagi dalam empat fase
Siklus menstruasi terbagi dalam empat fase

Siklus menstruasi adalah serangkaian perubahan pada tubuh dan organ reproduksinya karena didorong oleh hormon dengan tujuan untuk mempersiapkan kehamilan.

Pada setiap siklus menstruasi yang normal, sel telur akan berkembang dan dilepaskan dari ovarium. Di saat yang sama, lapisan rahim pun akan menebal untuk mempersiapkan kehamilan.

Akan tetapi, jika sel telur yang lepas tak juga dibuahi, maka lapisan tersebut akan luruh bersama darah dan keluar melalui vagina. Kondisi inilah yang disebut dengan menstruasi. Sementara itu, bila sel telur tersebut berhasil dibuahi maka kehamilan bisa terjadi.

Hari pertama dalam satu siklus menstruasi adalah hari pertama haid dan hari terakhirnya adalah satu hari sebelum haid bulan berikutnya. Rata-rata durasi siklus menstruasi adalah 28 hari, namun tidak setiap perempuan memiliki durasi yang sama karena rentang siklus yang normal cukup luas, yaitu 21-35 hari.

Siklus menstruasi wanita dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:

  • Fase menstruasi
  • Fase folikuler
  • Fase ovulasi
  • Fase luteal.

Penting bagi wanita untuk mengenali setiap fase tersebut, sebab ini dapat membantu memprediksi waktu menstruasi yang akan datang, serta mengetahui masa subur untuk merencanakan kehamilan.

Lantas, apa saja yang terjadi dalam keempat fase menstruasi tersebut?

Baca Juga: Cara Mempercepat Haid yang Alami dan Aman

4 fase menstruasi dalam siklus menstruasi

Fase menstruasi dalam siklus menstruasi wanita
Siklus haid dimulai dengan fase menstruasi

Berikut penjelasan komprehensif tentang 4 fase menstruasi dalam satu siklus mensturasi normal pada wanita:

1. Fase menstruasi

Fase menstruasi adalah tahap pertama dari siklus menstruasi. Hormon yang berperan dalam fase ini adalah hormon estrogen dan progesteron.

Fase menstruasi dimulai ketika sel telur yang dilepas oleh ovarium dari siklus sebelumnya tidak dibuahi. Tidak terjadinya kehamilan membuat kadar hormon estrogen dan progesteron yang dimiliki wanita menurun.

Lapisan rahim yang menebal untuk mempersiapkan kehamilan pun tak lagi dibutuhkan. Ini menyebabkan lapisan tersebut meluruh, lalu keluar lewat vagina sebagai kombinasi darah, lendir, dan jaringan dari rahim.

Ketika sedang dalam fase menstruasi, wanita dapat merasakan gejala-gejala, seperti:

  • Kram perut
  • Payudara terasa kencang
  • Kembung
  • Perubahan suasana hati
  • Mudah marah
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri punggung bawah.

Rata-rata wanita mengalami fase ini selama 3-7 hari. Namun, sebagian lainnya bisa saja memiliki periode yang lebih lama.

2. Fase folikuler

Fase folikuler dimulai pada hari pertama haid (terjadi tumpang tindih dengan fase menstruasi), dan berakhir ketika Anda berovulasi. Hormon yang berperan dalam fase folikuler adalah follicle stimulating hormone (FSH).

Pada awal fase ini, hipotalamus mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari untuk melepaskan FSH.

Hormon ini dapat merangsang indung telur untuk menghasilkan 5-20 kantong kecil yang disebut dengan folikel. Setiap folikel ini mengandung sel telur yang belum matang. Namun, hanya sel telur paling sehatlah yang pada akhirnya akan matang.

Akan tetapi, dalam kasus yang lebih jarang, seorang wanita bisa saja memiliki dua sel telur yang matang. Selanjutnya, sisa folikel yang tidak matang akan diserap kembali ke dalam tubuh.

Adanya folikel yang matang dapat memicu lonjakan estrogen untuk menebalkan lapisan rahim sehingga tercipta lingkungan yang kaya nutrisi bagi embrio untuk tumbuh. Fase folikel ini rata-rata berlangsung selama 16 hari, namun dapat pula berdurasi antara 11-27 hari.

3. Fase ovulasi

Fase ovulasi adalah waktu pelepasan sel telur matang oleh ovarium atau indung telur. Proses ovulasi ini dipengaruhi oleh luteinizing hormone (LH).

Meningkatnya kadar estrogen selama fase folikel memicu kelenjar pituitari melepas hormon luteinizing (LH). Inilah awal terjadinya proses ovulasi.

Sel telur yang sudah dilepaskan oleh ovarium pun bergerak ke tuba falopi menuju rahim untuk dibuahi oleh sperma. Fase ovulasi merupakan satu-satunya waktu dalam siklus menstruasi yang memungkinkan Anda untuk hamil. Ketika mengalami ovulasi, Anda dapat merasakan gejala-gejala berikut:

  • Terjadi sedikit peningkatan suhu basal tubuh (suhu rendah tubuh selama istirahat berkisar antara (35-36°C).
  • Vagina mengeluarkan cairan yang lebih tebal dan bertekstur seperti putih telur.

Ovulasi terjadi pada hari ke-14 jika Anda memiliki siklus haid 28 hari (tepat di tengah siklus menstruasi Anda). Fase ini berlangsung sekitar 24 jam. Setelah sehari, sel telur pun akan mati atau larut jika tidak dibuahi.

Untuk Anda yang sedang menjalani program untuk memiliki momongan, mengetahui waktu datangnya fase ovulasi bisa sangat membantu meningkatkan kemungkinan hamil.

4. Fase luteal

Fase luteal adalah fase terakhir dalam siklus menstruasi dan merupakan tahap tubuh bersiap menghadapi kehamilan.

Setelah folikel melepaskan sel telurnya pada fase ovulasi, zat ini berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum dapat melepaskan hormon, terutama progesteron dan beberapa estrogen.

Peningkatan hormon progesterone dan estrogen ini membuat lapisan rahim menebal, dan siap untuk ditanami sel telur yang telah dibuahi.

Jika Anda hamil, tubuh akan menghasilkan human chorionic gonadotropin (HCG) yang dapat membantu menjaga korpus luteum maupun lapisan rahim tetap tebal. Sementara, jika Anda tidak hamil, maka korpus luteum akan menyusut dan diserap.

Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan kadar estrogen dan progesteron yang memicu menstruasi. Pada fase luteal, wanita yang tidak hamil akan mengalami gejala sindrom premenstruasi (PMS), seperti:

  • Kembung
  • Payudara terasa nyeri atau bengkak
  • Suasana hati berubah
  • Sakit kepala
  • Berat badan bertambah
  • Hasrat seks berubah
  • Mengidam makanan
  • Susah tidur.

Fase luteal berlangsung selama 11-17 hari, namun umumnya terjadi selama 14 hari. Itulah 4 fase yang terjadi pada siklus menstruasi wanita.

Baca Juga

  • Pilihan Obat Nyeri Haid yang Bisa Dibeli Bebas di Apotek
  • Badan Meriang dan Demam Saat Haid, Ini Sebab dan Cara Mengatasinya
  • Kalender Masa Subur Ternyata Mudah Dibuat, Ini Caranya

Siklus menstruasi abnormal

Sebagian wanita dapat mengalami gangguan pada tiap fase di siklus menstruasinya. Ciri gangguan siklus menstruasi antara lain:

  • Siklus menstruasi jadi tidak menentu padahal sebelumnya teratur.
  • Haid berhenti selama lebih dari 90 hari padahal tidak hamil.
  • Mengalami pendarahan lebih dari 7 hari.
  • Mengalami pendarahan yang lebih berat dari biasanya (menghabiskan satu pembalut setiap 2 jam).
  • Siklus menstruasi kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari.
  • Mengalami pendarahan di antara periode menstruasi.
  • Tiba-tiba demam dan merasa sakit saat menstruasi.

Kondisi ini dapat terjadi karena gangguan makan, penurunan berat badan yang ekstrim, olahraga berlebihan, PCOS, hilangnya fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun, penyakit radang panggul, dan fibroid rahim.

Pada sebagian wanita, penggunaan pil KB juga dapat membantu mengatur siklus menstruasi. Selalu bicarakan pada dokter jika Anda merasa siklus menstruasi yang tak biasa. Dokter akan mencari tahu penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Advertisement

menstruasi

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved