Mengenal 3 Masa Inkubasi HIV, Kapan Harus ke Dokter?

Masa inkubasi HIV umumnya terbagi 3, yakni masa inkubasi HIV awal, masa inkubasi HIV kronis, dan masa inkubasi akhir atau AIDS
Masa inkubasi HIV umumnya terbagi 3, yakni masa inkubasi awal, kronis, dan akhir atau AIDS

Orang yang terjangkit human immunideficiency virus (HIV) kerap disamakan dengan penderita acquired immunodeficiendy syndrome (AIDS). Padahal, AIDS merupakan penyakit yang muncul pada tahap akhir masa inkubasi HIV sehingga orang yang terkena AIDS sudah pasti mengidap HIV, tapi pengidap HIV belum tentu terkena AIDS.

HIV adalah virus yang menyerang sistem imun tubuh dengan cara merusak atau menghancurkan fungsi dari imunitas tersebut. Namun, virus ini tidak menghilangkan fungsi sistem imun sekaligus, melainkan secara progresif yang disebut sebagai masa inkubasi HIV.

Terdapat tiga tahap inkubasi HIV ini. Penting bagi Anda mengenali gejala dari masing-masing tahapan tersebut agar Anda bisa langsung memeriksakan diri ke dokter dan mendapat perawatan, salah satunya agar HIV tidak mencapai tahap akhir inkubasi, yakni AIDS.

Berapa lama masa inkubasi HIV untuk berubah menjadi AIDS?

Waktu yang dibutuhkan oleh virus HIV untuk menjadi AIDS pada tubuh manusia bergantung dari kondisi masing-masing individu. Jika Anda sudah merasakan gejala awal masa inkubasi HIV, tapi tidak melakukan apa-apa, virus itu bisa menyebabkan AIDS dalam kurun 10-15 tahun setelah Anda pertama kali terjangkit.

Meski memiliki rentang yang cukup lama, jangan tunggu hingga HIV berubah menjadi AIDS untuk menjalani pengobatan. Sebaliknya, kenali gejala Anda terkena virus HIV sejak dini dan jalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter.

1. Masa inkubasi HIV tahap awal

Kebanyakan orang yang terkena HIV tidak menyadari bahwa mereka mengidap virus yang menyerang sistem imun ini. Gejala pada awal masa inkubasi HIV ini memang biasanya baru muncul 2-6 minggu setelah Anda terkena virus. Gejala tersebut meliputi:

  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Radang tenggorokan
  • Kelenjar getah bening membengkak
  • Bercak merah yang tidak gatal, biasanya di dada
  • Demam.

Gejala ini mirip dengan flu, bukan? Untuk memastikan bahwa Anda terkena HIV atau bukan, coba ingat apakah Anda melakukan kontak dengan penderita HIV dalam 2-6 minggu belakangan sebelum gejala ini muncul, kemudian periksakan diri ke dokter untuk menjalani tes darah.

Selain itu, jika Anda termasuk ke dalam orang-orang berisiko HIV, segera lakukan tes HIV. Anda bisa menjalani tes antibodi, yang merupakan tes paling cepat untuk mendeteksi infeksi sekitar tiga atau empat minggu.

Meski Anda merasa melakukan kontak dengan penderita HIV, namun tidak muncul gejala di atas, tidak ada salahnya memeriksakan diri di dokter. Pasalnya pada masa inkubasi HIV tahap awal ini, kandungan virus dalam tubuh Anda cukup tinggi sehingga mudah dideteksi, tapi sekaligus sangat mudah menular ke orang lain.

Dokter akan merekomendasikan Anda mengonsumsi serangkaian pengobatan, seperti obat HIV dan terapi antiretroviral. Tujuannya adalah melawan virus HIV, menjaga sistem imun Anda tetap sehat, dan mencegah penyebaran virus ke orang lain. Jika Anda terus mengonsumsi obat, menjalani terapi, dan melakukan pola hidup sehat, HIV tidak akan berkembang menjadi lebih parah.

2. Masa inkubasi HIV tahap kedua (HIV kronis)

Ketika gejala HIV di masa inkubasi awal tidak diobati, Anda memang akan merasa lebih baik karena gejala mirip flu itu hilang dengan sendirinya. Tetapi, justru kondisi itu mencerminkan sistem imun Anda sudah kalah oleh virus HIV sehingga kondisi ‘tenang’ ini disebut juga dengan periode asimtomastis atau infeksi HIV kronis.

Meski demikian, belum terlambat jika Anda ingin memulai pengobatan HIV. Jika Anda menjalani terapi antiretroviral, Anda bisa berada di fase ini selama beberapa dekade. Anda masih bisa menularkan virus kepada orang lain, tapi kasusnya sangat jarang terjadi jika Anda rutin mengonsumsi obat HIV.

3. Masa inkubasi HIV tahap akhir (AIDS)

Ketika Anda mengidap HIV, sangat penting untuk melakukan kontrol ke dokter karena dokter juga akan terus memantau level CD4 di dalam darah Anda.

Ketika level CD4 ini berada di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (normalnya 500-1.600 sel/milimeter kubik), maka itu adalah pertanda Anda tengah memasuki masa inkubasi HIV tahap akhir atau AIDS.

Kadang kala, AIDS juga bisa diketahui dengan membaca gejala fisik yang Anda rasakan, misalnya:

  • Demam tinggi dengan suhu di atas 37,8 derajat celcius yang tidak sembuh-sembuh
  • Berat badan turun drastis
  • Menggigil disertai keringat dingin
  • Sakit kepala yang tidak mereda
  • Muncul bercak putih pada mulut
  • Rasa kebas di area kemaluan atau anus
  • Kelelahan yang parah
  • Bercak yang bisa berwarna pink, merah, ungu, atau cokelat
  • Batuk terus-menerus dan susah bernapas
  • Mudah lupa
  • Pneumonia.

Ketika terkena AIDS, Anda akan sangat rentan terkena infeksi. Kondisi ini bisa mengancam nyawa mengingat sistem imun Anda sudah tidak berfungsi lagi sehingga tubuh tidak bisa melawan bakteri atau virus penyebab infeksi tersebut sehingga Anda nyaris selalu membutuhkan pertolongan medis.

Tanpa pengobatan, penderita AIDS diprediksi hanya dapat bertahan hidup selama 3 tahun, bahkan bisa lebih pendek jika kondisi penyakitnya sudah parah. Oleh karena itu, jangan tunggu Anda tiba pada masa inkubasi HIV terakhir ini sebelum mencari pertolongan dokter.

WHO. https://www.who.int/features/qa/71/en/
Diakses pada 24 November 2019

Victoria State Government. https://www2.health.vic.gov.au/public-health/infectious-diseases/disease-information-advice/hiv-and-aids
Diakses pada 24 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/hiv-aids/understanding-aids-hiv-symptoms
Diakses pada 24 November 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/hiv-symptoms-timeline
Diakses pada 24 November 2019

Artikel Terkait